
"Ha..ha..ha Menyenangkan sekali melihat manusia sepertimu berlutut padaku." ucapnya dengan suara besar sambil terus menekan bahu Hana.
Seketika wajah Hana yang tadinya kesakitan berubah menjadi senyuman. "Ini hari terakhirmu didunia ini." mendengar ucapan Hana, Sizu terkejut dan...
Crazzz
Hana menusukkan belati hitamnya ke dada Sizu. Cairan hitam keluar dari tusukan itu mengalir dan membuat tubuh Sizu mencair seolah ikut meleleh akibat belati itu. Hana menarik belatinya dan memundurkan tubuhnya.
"Tidaaakkkk" jerit Ibu Suri berlari ke arah lelehan tubuh Sizu
"Tidaaakkkkk....jangan tinggalkan aku sayang...jangan tinggalkan aku! teriak histeris Ibu Suri sambil mengambil lelehan itu dan mengusapnya ke tubuhnya seolah ia sedang memeluk tubuh kekasihnya itu.
Seluruh dentingan pedang segera terhenti mendengar jeritan pilu seorang wanita yang menyayat hati. Anehnya suara itu berasal dari seorang wanita yang duduk menangis begitu menyedihkan dengan berlumuran lumpur hitam. Itu adalah wanita agung kerajaan Matahari yang tak lain Ibu Suri sang Kaisar. Seluruh prajurit yang seluruhnya bertarung, Anming, Tian Zhang bahkan Taiyang dibuat terheran-heran apa yang dilakukan Ibunya itu dan dimana pelayan yang menjaganya tadi?
Keheranan itu juga dialami oleh Pangeran Zhang yang linglung karena kesadarannya kembali setelah mendengar jeritan itu. Betapa herannya ia yang mendapati dirinya berada dalam situasi peperangan dengan tangannya yang berlumuran darah. Ia melihat ke sekeliling, diantara mereka ada sosok kakak yang mematung melihat sesuatu 'Apa yang mereka lihat?' batin Pangeran Zhang. Dirinya terkejut melihat Ibunya duduk menangisi lumpur hitam.
"Kakak dimana kita dan kenapa Ibu seperti itu?" tanya Pangeran Zhang
Taiyang melihat Pangeran Zhang dan menjawab "Apa kepalamu terbentur sesuatu sehingga tidak sadar bahwa selama ini kita sedang berperang melawan kerajaan Qin? Bisakah jangan membuat lelucon sekarang!"
Merasa ini semua terlalu membingungkan, Pangeran Zhang melihat sosok perempuan seperti Hana.
"Hana..." ucapnya sambil bergumam pelan.
Hana berusaha bangun dan mengambil pedangnya. "Lihatlah kalian semua, aku baru saja membunuh pelayan Ibu Suri yang bernama Sizu. Dia adalah iblis yang menyamar sebagai manusia dan lumpur hitam itu sebagai bukti bahwa ia bukan manusia karena di adalah makhluk."
__ADS_1
"Kaisar, bebaskan Ibuku dan hentikan perang ini. Anda sudah melihat sendiri buktinya. Dan wanita yang menyedihkan ini bukan Ibumu dia adalah makhluk seribu wajah. Jadi demi keberlangsungan hidup umat manusia aku akan membunuhnya sekarang." tegas Hana sambil mengayunkan pedangnya dan mengangkatnya ke atas hendak menebas kepala wanita itu.
"Hentikan!" teriak Taiyang. "Dia adalah Ibuku, wanita agung kerajaan matahari tidak sepatutnya kamu perlakukan dia seperti itu justru kamulah makhluk yang sebenarnya." tuduh Kaisar
Pangeran Zhang akhirnya sedikit menyadari bahwa peperangan ini terjadi karena upaya untuk membasmi makhluk.
"Bodoh! Apa kamu tak menyadari bahwa pasukan berwajah pucat yang Ibumu panggil juga merupakan bukti jika ia adalah pimpinan para makhluk itu? Dan kamu malah termakan ucapan yang menyesatkan bahwa Hana adalah makhluk?" teriak Tian Zhang
Hu..hu..hu..
Tangis Ibu Suri semakin menjadi, ia terus saja mengumpulkan lumpur hitam itu seakan berusaha menyatukannya kembali namun sayangnya lumpur itu tak bisa seluruhnya ditangkup kedua tangannya.
"Tidak....tidak, kalianlah yang berusaha membodohiku. Dia adalah Ibuku." ucap Taiyang sambil berjalan mendekati Ibu Suri.
"Hentikan. Jangan ada yang mendekat. Dia adalah makhluk. Jika tidak ingin ada yang kehilangan nyawa lagi disini maka mundurlah kalian semua." ucap Hana lagi
"Kalian semua pengecut. Akulah pimpinan kalian bukan Hana si makhluk ini." teriak amarah Kaisar melihat betapa bodohnya prajuritnya.
Semua orang bisa berfikir sekarang bukan persoalan tidak mematuhi atau pengecut tapi jika memang benar Ibu Suri adalah Makhluk seribu wajah itu berarti mereka melindungi makhluk yang sewaktu-waktu bisa membunuh mereka kapan saja. Sejak ratusan tahun lalu makhluk itu dikabarkan tak pernah mati menghisap wajah siapa pun dan menjadi pengganti tanpa diketahui siapa pun. Tetua adat pun menceritakan cerita ini turun temurun dengan diam-diam agar tidak meresahkan semua orang juga agar semua orang tidak lupa dan selalu waspada. Namun selalu saja cerita ini dikemas atas nama legenda agar tidak meresahkan tapi dengan adanya penemuan beberapa mayat beberapa tahun lalu itu juga cukup menjadi bukti jika makhluk itu nyata bukan legenda.
" Berisik! Kalian semua sudah membunuh kekasihku."
"Kekasih?" tanya semua orang yang heran bersamaan
Ha...ha....ha....
__ADS_1
Tawa Ibu Suri pecah, ia kemudian bangkit dan mengambil sebilah pedang yang tergeletak.
"Kalian manusia-manusia bodoh, lemah dan egois hanya tahu bersenang-senang, saling menyakiti dan menipu." ucapnya penuh amarah sambil mengacung-acungkan pedang itu ke segala arah.
"Menipu dan lainnya itu bukan keahlian kami tapi keahlian kekasihmu itu Si iblis tua." ucap Hana
"Dia lah akar semua ini tidakkah Anda menyadarinya...Nenek?" ucap Hana lagi
"Nenek? Apa maksudmu Hana?" tanya Kaisar kebingungan
Lalu tiba-tiba muncul Hang yang membawa Audrey digendongannya.
"Hang" ucap Pangeran Zhang
"Ibu" ucap Hana sambil tersenyum
"Apa yang kau lakukan? Dasar bodoh, lihat Zhang bawahanmu malah membawa tahanan kemari. Apa kalian semua bersekongkol?" tanya Taiyang. Awalnya Audrey yang adalah tahanan sengaja dibawa sebagai langkah terakhir. Ini adalah taktik Taiyang yang paling akhir jika sewaktu-waktu peperangan ini tidak memihaknya maka ia akan mempergunakan Audrey untuk mengancam kerajaan Qin.
"Yang Mulia, hati-hati." ucap Zhang berusaha membantu Audrey berdiri
"Taiyang, Hang bukan bawahan kalian lagi. Dia adalah anak salah satu pejabat setia kerajaan Ming, asal kerajaanku." ucap Audrey
"Ibu.." ucap Hana dengan kerinduan dan hendak memeluk Ibunya
"Berhenti kalian. Berhenti ditempat kalian. Tak kan ku ijinkan kalian bahagia! Aku tidak kalah. Kemenangan selamanya hanya milikku."
__ADS_1
teriak Ibu Suri dengan penuh amarah. Guratan guratan nadinya mencuat, kuku-kukunya memanjang dan menghitam.
..............................