Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
90. Pemberontak


__ADS_3

Tepat dini hari seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik duduk ditemani seorang pelayan wanita. Ia begitu gusar setelah dibangunkan paksa oleh dua pelayan pribadinya dan mengatakan padanya 'akan ada pertunjukan yang menarik'. Sesosok tubuh terkulai tak berdaya karena pingsan, berpakaian hitam dan bercadar di tarik satu kakinya oleh Sizu pelayan bertubuh mungil. Dengan tubuh mungilnya orang tak akan menyangka bahwa ia mampu menarik seseorang hanya dengan satu tangan. Sebenarnya ia bisa saja menggendong tubuh itu atau menarik tubuh itu dengan menarik kedua tangannya tapi ia ingin membuat musuhnya itu kesakitan diseluruh tubuhnya setelah ia sadar nantinya.


Ruangan besar itu seolah tercemar kedamaiannya saat 2 pelayannya masuk dan merubah suasana menjadi ketegangan yang mencekam. Ibu Suri menjadi gemetar 'Siapa dia?' batinnya melihat sosok berpakaian hitam yang tak sadarkan diri yang diantarkan ke ruangannya. Pelayan yang tadinya berada disisi Ibu Suri juga ikut ketakutan..dengan gemetaran ia berbisik "Yang Mulia".


"Tenangkan dirimu. Kita lihat apa yang mereka mau dengan mengantar orang itu kemari." ucapnya pada pelayannya


Sizu dan Liwei saling berpandangan melihat dua orang manusia yang begitu tampak ketakutan kemudian mereka berdua tertawa terbahak-bahak seolah-olah mereka tengah membicarakan hal yang lucu.


Ha...ha..ha...


Kemudian setelah beberapa detik mereka pun berhenti tertawa lalu memandangi Ibu Suri dan pelayanannya bergantian dengan tatapan tajam dan mengancam.


"Dia akan masuk penjara." ucap Liwei singkat sambil menunjuk sosok berpakaian hitam yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Kenapa? Siapa dia dan apa kesalahannya?" tanya Ibu Suri pada Liwei


"Masuk ke dalam kediaman Ibu Suri, memata-matai, mengancam lalu...." jawabannya terhenti saat melihat pelayan yang berada di sebelah Ibu Suri ia tersenyum penuh makna. Sedetik kemudian ia mendatangi Ibu Suri dan pelayannya dan langkahnya berhenti tepat di depan pelayan Ibu Suri menatapnya tetap dengan senyumnya yang aneh.


Pelayan itu gemetaran, ia merasa bahwa Liwei dan Sizu telah mencurigai siapa dirinya yang sebenarnya. Mereka berdua telah mengetahui identitasnya. Dan hari ini tampaknya adalah hari terakhirnya menatap matahari "Yang Mulia..." suara yang keluar dari bibirnya terdengar begitu menyedihkan seolah berharap Ibu Suri akan membantu menyelamatkannya.


Liwei dengan bengisnya menjambak rambut pelayan itu membuat pelayan itu jatuh tertelungkup. Ia lalu menarik rambut pelayan itu dengan kuat hingga membuat tubuhnya menjauh dari Ibu Suri. Jeritan kesakitan mewarnai ruangan itu. Liwei tersenyum kejam, ia lalu mengambil pisau dari balik bajunya dan menjilatinya hingga lidahnya tergores. Darah berwarna hitam mengalir membasahi pisau itu.


"Akh..." jerit pelayan itu kesakitan.


Tanpa rasa iba Liwei menarik paksa pisau itu mencabutnya dengan kasar hingga darah terciprat ke wajahnya. Bersekutu dengan iblis membuatnya tampak seperti iblis yang senang dengan kematian musuhnya.


Tubuh Pelayan itu terkulai dan tergeletak dengan darah yang mengalir dari tubuhnya. Kejadian yang cepat itu menjadikan pemandangan yang mengerikan dengan darah yang terciprat dimana-mana...

__ADS_1


"Apa kalian GILA?" jerit Ibu Suri histeris


"Kalian anggap apa aku? Kenapa kamu begitu kejam membunuhnya?" teriak Ibu Suri yang suaranya menggelegar di ruangan besar itu.


"Pelayan itu adalah tangan kanan tetua adat, berterima kasihlah aku tidak membunuhmu karena kalian bekerja sama menyingkirkan kami." ucap Sizu tersenyum kejam


"Lagipula teriakanmu tidak bisa menghentikan kami. Dan berhenti lah bersikap sok suci! Jika bukan karena darahku tidak mungkin wanita seumuranmu masih terlihat muda." ejek Liwei


"Oh dan dia...." tunjuk Liwei pada sosok berpakaian hitam. Ia lalu mendatangi tubuh itu lalu ia berjongkok dan menggenggamkan pisau itu ke tangan tubuh itu.


"Dia adalah istri Tabib Ji Hua dakwa dia dengan pemberontakan, tuduhan pembunuhan terhadap Ibu Suri itu juga bagus dan pelayanmu itu lah yang menjadi pahlawan dengan menyerahkan nyawanya demi melindungi Ibu kerajaan... Wěidà de nǚrén sang wanita agung...ha..ha..ha." ucapnya di akhiri dengan tawa kepuasan.


.........................

__ADS_1


wah ini udah episode hot loh readers udah mau the end. Makasih untuk semua perhatian kalian yang tetap setia pada novel ini. Beribu ucapan terima kasih untuk kalian 🥰🥰🙏🙏🙏


__ADS_2