
Saat Matahari menaiki singgasananya Hana dan 3 orang lainnya dalam perjalanan kembali kerumah. Terdengar sebuah seruan beberapa orang dijalanan bersorak-sorai meneriakkan kata-kata
"Pengangkatan Permaisuri Baru akan dilaksanakan 2 minggu lagi!"
"Akhirnya Kemakmuran akan menyelimuti Kekaisaran. Kita beruntung memiliki Permaisuri yang baik dan keibuan." beberapa orang berteriak dengan senangnya. Beberapa lagi mengatakan "Sungguh seperti mendapatkan kebaikan dari Tuhan bisa memiliki Permaisuri yang baik dan peduli kepada rakyat."
Hana yang berada di dalam kereta bersama Ibunya juga mendengar kegaduhan itu. Banyak orang yang berkata pujian maupun doa - doa untuk Permaisuri baru yang tentu saja tak lain dan tak bukan Mei lan yang dulunya adalah Selir Agung Istana. Audrey menatap Hana melihat bagaimana reaksi putrinya. Awalnya Hana memang bersikap acuh namun mendengar banyaknya suara yang begitu memuji Mei lan ada ketidaknyamanan dihatinya sehingga ia meremas pakaiannya. Ia seakan tak terima dengan pujian rakyat untuk saingan cintanya dulu.
"Huh baik dan peduli ya?" gumam Hana.
"Apa kamu cemburu?" ucap Audrey mengagetkan Hana
"Ibu sudah melihatku, apa itu buruk masih..."
ucap Hana memalingkan wajahnya.
Hana tak ingin Ibunya melihatnya dalam keterpurukan.
"Lupakan! Ada yang pasti di sampingmu mengapa kamu masih menatap masa lalu?" ucap Audrey menasehati.
Dimata Hana semua orang selalu menjodohkan dirinya dengan Chen long, apa mereka yang mereka lihat dalam diri Chen long. Menurut Hana semua laki-laki sama terkecuali Ayahnya Tabib Ji dan Ayahnya dulu yang selalu setia kepada pasangannya. Tapi dulu Hana berusaha untuk paham bagaimanapun suaminya adalah seorang kaisar yang pastinya tidak bisa hanya memiliki 1 orang istri saja. Meskipun begitu perasaan wanita mana yang tidak sakit dan cemburu melihat suaminya lebih mencintai istri yang lain daripada dirinya yang merupakan Istri pertama.
"Apa yang Ibu lihat dalam dirinya? Apa Ibu tahu masa lalunya?" ucap Hana meneliti raut wajah Ibunya.
Sebelum Audrey menjawab pertanyaan Hana kereta mereka telah berhenti persis di depan kediaman Tabib Ji.
Mereka pun masuk disambut oleh pelayan keluarga bertubuh kecil bernama Hong Jun, ia membungkuk memberi hormat saat Hana turun dari kereta "Syukurlah anda pulang dengan selamat Nona."
"Tentu saja dia akan aman bersama dengan keluarganya sendiri." ucap Audrey yang keluar dari dari kereta kudanya.
'Keluarga?' batin Hong Jun yang memperhatikan Audrey dari atas hingga ke bawah.
Lalu dari arah belakang Hong Li memukul bahu Hong Jun. "Maafkan kelancangan adik saya Nyonya" seraya membungkuk hormat dan menarik adiknya untuk mengikutinya memberi hormat. Hong Jun pun segera berkata "Maafkan saya Nyonya, saya tidak mengenali Anda."
"Sudahlah tidak apa-apa. Lagipula kalian juga belum pernah bertemu denganku." ucap Audrey tersenyum seraya melambaikan tangannya untuk membuat mereka segera menegakkan tubuh mereka.
"Nyonya atas kebaikan anda menerima permintaan maaf saya, saya akan memasak masakan spesial untuk anda hari ini." ucap Hong Jun bersemangat.
"Wah ide bagus Jun. Ayo Ibu kita masuk."
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah Hana langsung menarik Ibunya ke ruang tengah. Audrey tertegun melihat suaminya yang begitu tampan sudah belasan tahun tak bertemu namun ia tetap gagah di mata Audrey. Rambut hitam legamnya yang terkuncir rapi kebelakang mungkin beberapa helai rambut telah ada yang memutih namun itu tak membuatnya kehilangan pesonanya. Ditambah dengan memakai pakaian lengan panjang berwarna biru terang membuatnya seperti pria muda usia 30 tahunan.
"Ehem....Ibu pasti merindukan Ayah. Begitu juga dengan Ayah bukan? Baiklah lebih baik Jun dan Li tolong ke dapur untuk memasak hidangan spesial hari ini. Oh iya juga minta tolong pada Kak Qiang untuk membantu pekerjaan kalian agar cepat selesai" ucap Hana beranjak dari sana.
"Saya akan membantu kalian juga." ucap Ying seraya mengikuti kedua laki-laki muda itu ke dapur.
__ADS_1
Sedangkan Chen long yang juga merasa canggung melihat tabib Ji dan Istrinya juga melangkahkan kakinya segera pergi dari sana. Namun entah mengapa langkah kakinya malah mengikuti Hana.
"Akhirnya setelah belasan tahun kamu kembali." ucap Tabib Ji memulai obrolannya dengan istri yang sudah lama tak dijumpainya.
"Itu semua karena dorongan Hana sehingga aku tak kuasa menolaknya." ucap Audrey.
"Duduklah kemari istriku. Apakah kamu tetap akan mematung disana?"
Audrey mendekati sebuah kursi saat hendak mendudukkan dirinya tiba-tiba tabib ji menariknya hingga ia terjerembab di dada suaminya. Momen itu tak ia sia-siakan untuk memeluk erat istrinya.
"Apa kamu gila? Perlakuan macam apa ini?" omel Audrey. Dari suaranya Audrey memang seperti sedang marah namun wajahnya malah menunjukkan senyum malu-malunya.
"Kamu boleh mengomeliku nanti setelah aku puas melepas kerinduanku." ucap Tabib Ji
"Tapi bisakah aku melihat wajah tampan suamiku sekali lagi? Aku juga sangat merindukannya"
Tabib Ji melepaskan pelukannya ditatapnya istri yang belasan tahun telah meninggalkannya.
"Meski sudah belasan tahun wajahmu tetap cantik seperti dulu" sambil membelai sebelah wajah Audrey yang tertutup menggunakan topeng.
"Maafkan istri yang tidak........" ucap Audrey berlutut di depan suaminya. Kini mereka saling mendalami perasaan masing-masing melalui tatapan mata.
"Tidak. Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Ini adalah garis takdir. Saling memahami akan membuat kita saling menguatkan." ucap Tabib Ji menarik tangan istrinya untuk duduk disampingnya.
Audrey tersentuh dengan ucapan dan perlakuan tabib Ji setetes air mata menuruni wajahnya. Ia memang tidak salah memilih pasangan hidup. Ia sangat bersyukur bertemu suaminya dulu. Pria ini tampan wajahnya tampan pula hatinya, kebijakannya memahami dirinya dan situasi yang dihadapinya.
.
"Masuklah Hana"
Saat hendak masuk ke kamar Fangyin ia menyadari langkah kaki Chen long yang mengikutinya mendekat.
"Aku aman disini. Lagipula ini kamar wanita. Terima kasih atas kebaikan kakak menjagaku kemarin." ucap Hana cepat seraya menutup pintu.
Ha..ha..
"Sampai kapan kamu pakai permainan tarik ulur dengan dirinya? Sudahlah akui saja jika kamu mencintainya." ucap Fangyin mengejek
"Sudahlah Kak jangan bahas itu sekarang."
"Kenapa? Apa yang salah dia sangat tampan dan pintar, jika dia menemukan yang baru kamu akan menangis semalaman."
Hana hanya bergumam "Heh". 'Apa Kak Fangyin bergurau mengapa aku akan menangis semalaman lagipula aku tidak memiliki hak apapun jika dia menyukai perempuan lain. Aku dan dia hanya Kakak dan adik hanya itu saja.' batin Hana namun saat mengatakan itu pada hatinya, entah mengapa perasaannya menjadi buruk.
"Ada apa kenapa wajahmu murung? Apa yang aku katakan benar bukan?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Sudahlah kak. Bagaimana kondisimu?"
"Lebih baik. Aku merasa bugar setelah meminum obat Ayah." ucap Fangyin bersemangat.
"Apa kalian menemukan pelakunya?" ucap Fangyin kemudian.
"Kakak aku minta maaf......." Hana lalu menceritakan semuanya pada Fangyin kalau Ibunyalah yang melakukan semua itu. Ia juga bercerita mengenai alasan Ibunya.
Tak berselang lama pembicaraan mereka terhenti karena suara ketukan pintu kamar Fangyin.
Tok..tok..tok
"Nona Hana makanannya sudah siap."
"Ya baik kami akan turun ke bawah. Terima kasih."
.
Acara makan pun dimulai dengan berdoa ucapan syukur mereka atas nikmat yang Tuhan berikan. Hana terus mengembangkan senyumnya melihat kedua orang tuanya yang akhirnya bisa bersama-sama. Ia juga lega Fangyin memaafkan Ibunya dan tak mempermasalahkannya.
Setelah makan bersama, mereka pindah ke ruang keluarga. Tabib Ji angkat bicara." Ayah harap kalian bisa saling memaafkan atas kejadian ini."
"Sudahlah Ayah. Ibu Hana juga ku anggap seperti Ibuku juga. Kekhawatiran seorang Ibu, aku bisa memahaminya."
"Terima kasih Fangyin. Aku sangat tersentuh dengan kebaikan hatimu." ucap Audrey tulus.
Selanjutnya mereka membicarakan kemampuan Hana yang begitu cepat menganalisa kejadian yang terjadi pada Fangyin. Mereka memuji-mujinya, menilai Hana adalah sosok perempuan yang lengkap. Tidak hanya cantik tapi juga pintar.
"Kalian berhentilah memuji diriku. Aku hanyalah sedang beruntung saja memiliki suatu bakat. Lagipula aku memang tidak akan membiarkan siapapun menyakiti keluargaku." ucapnya menoleh ke arah Chen long.
Chen long terperangah melihat tatapan Hana yang tidak biasa 'Apa dia sedang menyindirku?' batin Chen long.
Yang lainnya juga terkejut dengan tatapan Hana yang menatap Chen long dengan tatapan yang tak biasa 'Ada apa sebenarnya? Apa Hana mengetahui sesuatu?' mungkin itulah pikiran mereka.
Ehem
"Hana, Ayah rasa sudah waktunya Ayah menjelaskan tentang...." ucap Tabib Ji namun tiba-tiba ucapannya terpotong oleh kata-kata Chen long.
"Ayah mm maksudku Tuan lebih baik kita bicarakan itu nanti." ucap Chen long menatap penuh arti pada Tabib Ji.
Semua orang diam membeku tak berani melihat ke arah Hana.
"Ada apa? Apa yang kalian sembunyikan dariku?" ucap Hana keheranan.
..........................
__ADS_1
Wow apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh keluarganya Hana? Terus dukung author ya readers 🙏🏻🙏🏻