
Selama 2 bulan 'tertidur' tubuh Hana sangat membutuhkan ritual mandi agar tubuhnya bersemangat menyambut pagi yang cerah ini.
Hana segera bangkit dan membersihkan dirinya. Setelah menikmati ritual mandinya Hana segera berpakaian, dia harus membantu keluarganya hari ini entah apapun itu karena tidur selama 2 bulan membuat badannya terasa sedikit kaku. Mungkin nanti setelah membantu keluarganya ia akan berlatih sebentar agar tubuhnya kembali prima. Hana menuruni beberapa anak tangga rupanya rumah ini begitu besar dan lumayan luas dengan 4 kamar utama di lantai 2 yang masing-masing memiliki kamar mandi di dalamnya dan 2 kamar tambahan dengan ukuran sedang. Hana berkeliling sebentar rumah itu tampak sepi 'mungkin yang lainnya berada diruang makan untuk makan pagi.' pikirnya
Di lantai 1 ini cukup mudah untuk menemukan dimana letak ruang makan berada. Memang rumah ini cukup luas namun jika dibandingkan dengan rumah lamanya di hutan dulu rumah ini jauh lebih luas 3 kalinya.
Hana tidak membutuhkan waktu lama untuk menuju ruang makan di rumah ini kalau dipikirkan lagi dulu saat dia di istana, membutuhkan hampir setengah jam hanya untuk berjalan menuju ke ruangan itu. Hanya untuk sekedar makan bersama suaminya 'suami yang tak menghargai' tapi kini.... Hana tersenyum ceria.
"Ayah"
Semua orang segera menoleh ke sumber suara itu. Semua orang telah duduk bersama termasuk tiga pegawai baru Tabib Ji di depan meja makan mereka telah bersiap hendak menyantap makan pagi. Tabib Ji memang menerapkan makan bersama, semua adalah keluarga. Namun karena kedatangan tiba-tiba Hana membuat mereka terkejut apalagi penampilan Hana yang sederhana dengan hanfu merah mudanya ia begitu cantik bak seorang bidadari.
Qiangda begitu terpesona melihat Hana sampai - sampai sumpit yang ia pegang jatuh ke lantai begitu juga dengan 2 pegawai lainnya. Mulut ketiganya tidak sengaja terbuka tanpa mereka sadari. Mereka begitu terpana dengan kecantikan anak dari tuan mereka.
"Apa aku meng..gangu?" ujar Hana dengan suara pelan
"Tentu saja tidak....duduklah dekat ayah. Kemarilah Hana!" ujar Tabib Ji.
"Apa yang kalian lihat. Ayo teruskan makannya dan tutup mulut kalian! Apa kalian ingin membiarkan lalat terjebak karena air liur kalian yang mengalir." ucap Chen long memandang sebal ke arah Qiang dan 2 orang pelayan laki-laki disana.
"M..maaf tuan. Silahkan duduk Nyo...mmm..maksudku nona." ucap Qiangda
Ha..ha..ha...
"Kak Chen jangan galak begitu ia sampai salah ucap karena gugup dengan tatapan mematikan milikmu." ucap Fangyin
__ADS_1
"Sudah...sudah cepat kemari Hana nanti makanannya menjadi dingin." ucap Tabib Ji menengahi.
"Duduk di sebelahku adikku." ucap Fangyin sambil menepuk-nepuk sebuah kursi.
Hana mendatangi meja makan dan memulai acara makan mereka dengan tenang.
.
Beberapa saat setelah makan, semua orang telah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tabib Ji saat ini tengah sibuk mempersiapkan Ruang pengobatan di lantai 1 dan Toko yang terletak persis di sebelah rumah mereka. Sesuai rencana, lantai 1 rumah yang berada di depan akan digunakan sebagai tempat praktek pengobatan dan toko disebelahnya akan menjual berbagai macam obat-obatan. Tak terasa malam begitu cepat menjelang dan mereka semua kini telah berkumpul di ruang keluarga.
Tabib Ji memang sudah menerapkan peraturan di rumah itu sejak awal bahwa semua pegawai juga adalah keluarga. Qiangda dipercaya untuk memonitor toko nantinya dan dibantu 1 orang pegawai sementara 1 orang pegawai lainnya akan membantu tabib Ji untuk membantu di ruang pengobatan. Setiap malam mereka akan selalu berkumpul dan berbincang-bincang untuk merekatkan rasa persaudaraan.
Tabib Ji juga memperkenalkan secara resmi anak kandungnya yang bernama Hana kepada tiga orang pegawainya. Dan juga mengingat betapa terkejutnya pegawai mereka melihat wajah Hana memunculkan ide Tabib Ji dan menyarankan Hana untuk menggunakan penutup wajah. Karena tabib Ji tidak ingin orang-orang luar akan membicarakan kecantikan putrinya dan akhirnya nanti malah akan membahayakannya.
Setelah berbincang-bincang Hana memasuki kamarnya untuk beristirahat. Tak berselang lama terdengar pintu kamarnya diketuk beberapa kali.
"Hana bolehkah Ayah masuk?"
"Masuklah Ayah"
Tabib Ji memperhatikan wajah putrinya lalu mengusap lembut kepala putrinya.
"Ada apa Ayah?" ucap Hana segera bangun dan duduk di tepi ranjangnya yang lumayan besar.
Tabib Ji pun mendudukkan tubuhnya di samping Hana.
__ADS_1
"Apa Ayah mengganggumu?"
"Kenapa Ayah begitu sungkan padaku. Bicaralah Ayah, Hana akan mendengarkan."
Tabib menarik napas dalam lalu mulai berbicara.
"Ayah tahu kamu menerima 'pesan' itu kan?"
Hana tidak mungkin menyembunyikan kebenaran itu apalagi kenyataannya ia tertidur selama 2 bulan tanpa ada riwayat sakit apapun tentu saja Ayahnya akan mengetahuinya. Namun menanyakan itu sekarang pada Hana jelas terlihat Ayahnya saat ini sedang mengkhawatirkannya.
"Ya Ayah benar."
"Apa kamu bisa menceritakan apa yang sebenarnya kamu alami."
Hana mengangguk lalu kemudian Hana menceritakan apa yang di alaminya.
Kemudian Tabib Ji terlihat murung.
"Hana, Ayah melihatmu begitu mungil di tangan Ayah saat itu hanya beberapa detik kemudian Ayah harus menyerahkanmu pergi dari sisi Ayah. Betapa sulitnya kehidupan yang Ayah jalani tanpa dirimu dan juga Ibumu. Terlebih melihatmu yang dulu hanya memanggilku Paman. Butuh bertahun-tahun bagi Ayah untuk menyembuhkan luka itu. Dan kini Apakah Ayah tidak boleh egois menginginkan keluarga yang utuh di masa tua Ayah saat ini." ucap Tabib Ji dengan wajah sendu.
Hana tahu kekhawatiran Ayahnya saat ini. Namun jika ia mundur sekarang, tidakkah dia adalah seorang pendusta. Mengingkari sebuah janji adalah suatu hal yang mudah namun untuk menepatinya adalah suatu kemuliaan yang tak terhitung kebaikannya.
"Ayah..tolong mengertilah." ucap Hana menggenggam tangan Ayahnya berusaha meyakinkan Ayahnya.
Memang perjalanan hidup seseorang tidaklah selalu mudah terkadang berliku-liku. Namun keyakinan yang kuat bahwa Tuhan Yang Maha Esa selalu bersama kita membuat kita yakin bahwa setiap ada permasalahan selalu ada jalan keluarnya.
__ADS_1
......................
Biar keliatan banyak penggemar kemaren author sampai ngevote sendiri ngelike sendiri sampai ngasih hadiah sendiri...wkwkwk 😆😆 Tapi juga ada kok readers yang masih setia baca novel author makasih ya...juga untuk semua readers yang udah like, vote, coment juga yang udah kasih hadiah makasih banyak ya semoga rejeki kalian lancar ya...😘😘.