
"Kamu pikir saya tidak paham dengan apa yang kamu sampaikan, begitu? Minta maaflah sambil berlutut dan buka cadarmu agar semua orang disini mengetahui bagaimana ketulusanmu. Maka aku akan meminta pada Kaisar untuk mengampunimu" ucap Permaisuri. Sebenarnya dia juga ingin membuktikan kepada semua orang bahwa Hana tidak secantik yang orang kira lewat kesempatan inilah dia akan mempermalukan wanita itu. Baginya tidak ada wanita cantik yang layak mendapatkan perhatian yang besar dari suaminya, hanya dirinya saja tak ada satupun yang boleh.
"Yang Mulia saya akan meminta maaf jika memang saya bersalah untuk itu ijinkanlah saya bertanya pada seseorang yang duduk di sudut sana."
'Mau apa dia?' batin Kaisar menatap Hana. "Baiklah. Diijinkan." Ijin diberikan pada Hana karena Kaisar berhutang budi pada Ayahnya Hana, ia yang pernah membantunya menyingkirkan He Hua istri pertamanya. Kesetiaan Tabib Ji telah teruji meskipun ia telah keluar dari istana akan tetapi ia masih tetap bungkam sampai detik ini. Sekilas setelah memberikan ijinnya Kaisar melirik Permaisuri dengan perasaan tidak suka. Ia sudah berusaha untuk menahan emosi istrinya, namun sepertinya ia tak patuh pada dirinya, ia sungguh kecewa. Dia diam karena tak ingin mempermalukan wanita yang paling dicintainya itu. Tapi dengan diamnya, ia secara tak langsung juga ikut serta mempermalukan anak tabib Ji itu.
"Kasim, saya meminta ijin untuk melihat catatan di buku anda itu." ucap Hana
"Mmm...sa..ya." ucap pria itu ragu-ragu sambil akan beralih melihat kaisar untuk meminta ijinnya.
"Bukankah tadi Anda mendengar sendiri jika Yang Mulia mengijinkanku?" ucap Hana dengan tegas
Ha..ha..ha..
Plok..plok..plok.. plok
Terdengar suara tawa seorang wanita dan tepukan tangannya yang keras membuat semua orang yang awalnya memperhatikan tindakan Hana kini mereka beralih fokus ke asal suara itu.
__ADS_1
"Kamu sangat cerdas Hana. Baiklah tadi aku sedang menguji dirimu. Kamu adalah seorang tabib cerdas yang patut diperhitungkan. Kekaisaran sangat bangga memiliki tabib seperti dirimu." ucap Permaisuri sambil tersenyum.
Sebelumnya, Kaisar yang segera sadar setelah memberikan ijinnya tahu akan tujuan Hana yang berjalan mendatangi kasim itu, 'Ia pasti akan meminta catatan kasim itu'. Karena Kasim itulah yang ditugaskan untuk mencatat apapun yang dibahas dalam rapat untuk mempermudah kinerja Kaisar. Maka saat orang- orang fokus pada Hana dengan cepat ia menarik lengan istrinya untuk menyuruhnya berhenti jika tidak ingin bukti yang Hana temukan akan menampar Permaisuri di muka umum.
Hana tersenyum dan tetap membawa catatan itu di tangannya sambil berjalan mendekat ke arah Kaisar dan Permaisuri. 'Aih cerdas juga dia menghentikan tindakanku.' batin Hana menatap Permaisuri
Dengan cepat Hana mengubah suaranya seolah bersedih "Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri, tadinya saya akan membuktikan bahwa saya benar-benar tidak menghina melalui catatan Kasim ini. Tapi..."
Kaisar mengangkat tangannya "Tidak perlu dilanjutkan. Ini hanyalah tindakan Permaisuri untuk mengatasi rumor yang beredar diluaran sana. Jika ada yang mengatakan bahwa anak Tabib Ji hanya mengandalkan nama besar orang tuanya. Dengan begini mereka semua menjadi saksi betapa cerdas dan telitinya dirimu. Namun yang saya herankan bagaimana anda tahu bahwa kasim itu bertugas mencatat semua pembahasan dan ucapan yang terjadi di dalam rapat?"
Semua orang saling berpandangan dan berkasak kusuk, bagaimana seorang wanita yang tak pernah ikut dalam rapat mengetahui hal sedetail itu.
Semua orang berdecak kagum. Bagaimana seorang wanita yang masih muda memiliki pandangan yang tajam dan akurat. Keberuntungan tabib Ji memiliki anak yang secerdas itu. Tapi di sisi lain secara tidak langsung Hana mengungkapkan kepada semua orang bahwa Kaisar juga mengawasi tindakan semua orang disana, sepertinya ia ingin tahu mana kawan dan mana lawan.
Kaisar dan Pangeran Zhang menatap dengan rasa kagum pada Hana. Berikutnya Permaisuri angkat bicara kembali "Bagus sekali Nona Hana, aku sangat bangga padamu. Tapi ada satu lagi yang ada di benakku. Apakah itu sebuah tradisi mengapa di keluarga anda, ibu dan juga anda memakai cadar?" tanya Permaisuri dengan wajah polosnya.
"Mohon ijinkanlah saya berbicara Yang Mulia" ucap Audrey sambil menunduk hormat
__ADS_1
"Silahkan" ucap Permaisuri
Audrey melangkah maju dan mendekati Hana "Sebenarnya ini bukanlah tradisi, ini adalah keinginan saya pribadi sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai wanita yang ingin menjaga kehormatannya dan ingin menunjukkan rasa cinta pada suami. Saya berpandangan bahwa ketika wanita sudah menikah otomatis keindahan yang ada dalam dirinya hanya patut untuk dipandang suaminya saja."
"Wah saya kagum dengan pandangan anda Nyonya Audrey tampaknya sangat beruntung laki-laki yang memilih kalian sebagai istri mereka." ucap Permaisuri sambil melirik suaminya yang tenyata masih menatap Hana.
"Baiklah itu sangat baik. Namun sayang sekali jika keindahan itu ditutupi. Benarkan suamiku?" ucapnya sambil melirik tajam ke arah kaisar.
Kaisar hanya tersenyum canggung. Lalu kemudian ia berkata kembali "Selama Tabib Ji di Istana tak sekalipun kami tahu jika Tabib Ji telah berkeluarga dan memiliki seorang putri kandung." ucapnya dengan tatapan memincing
"Ampuni hamba Yang Mulia. Itu hanya dikarenakan kesibukan sehingga hamba tak sempat menyampaikan informasi tersebut." ucap Tabib Ji tiba-tiba yang berdiri dan melangkah ke hadapan Kaisar. Tabib Ji telah masuk dalam perangkap kata-kata Kaisar..
"Menurut pandanganku Yang Mulia, agar tidak terjadi rumor aneh dikemudian hari bagaimana cara menghentikannya? Bagaimana jika Hana menghentikan rumor aneh di luaran sana dengan membuktikan dirinya memang anak kandung tabib Ji. Cukuplah buka cadarmu sehingga kami bisa melihat kemiripan antara Tabib Ji dan Hana." ucap Permaisuri sambil tersenyum licik.
"I..itu..." ucap Tabib Ji seperti tidak rela.
"Baik saya setuju. Tapi sebelumnya, saya akan meminta ijin suami saya." ucap Hana sambil memalingkan wajahnya ke arah suaminya tadi duduk.
__ADS_1
.............................