
Mohon pembaca bijak! Adegan kekerasan yang diceritakan hanya untuk mendukung jalannya cerita, ini hanya karangan belaka. TIDAK UNTUK DITIRU!!
Srek..srek..srek
Hos..hos..hos seorang gadis cantik dengan penuh peluh di dahinya menarik narik karung goni yang diangkat ke sebuah pedati yang ditutupi dengan banyak jerami. Suasana tengah malam yang sunyi membuat jantungnya berdegup semakin kencang.
Hia....hia..... hia
Ia segera memacu kudanya karena matahari yang akan segera muncul. Tak lama ia berhenti pada sebuah bangunan yang tampak sederhana namun memiliki pintu depan yang tinggi dan kokoh
Tok...tok...tok...tok
Seorang pria berperawakan tinggi besar dengan berwajah sangar membukakan pintu itu.
"Aku sudah membawanya"
"Cepat masuk!"
Gadis itu memasukkan pedatinya yang ternyata rumah yang tampak sederhana itu memiliki halaman yang lumayan luas yang bisa dimasuki 2 sampai 3 pedati seperti miliknya. Pria itu keluar sebentar celingukan lalu menutup rapat pintu itu.
Pria itu mengangkat karung yang ditunjukkan gadis itu dan memikul dipundaknya seperti mengangkut beras. Mereka berdua masuk kedalam rumah. Pria itu menyuruhnya untuk mengunci rapat pintu kayu itu lalu mereka berdua sampai di tengah ruangan rumah itu. Tak sampai disitu rupanya tujuan mereka, lemari besar yang berada di ruangan itu didorong dan digeser oleh pria dan gadis itu. Lalu tampak sebuah pintu di lantai, gadis itu membukanya ternyata itu adalah pintu yang menghubungkan lorong bawah tanah menuju ke suatu tempat. Dengan menuruni beberapa anak tangga mereka berjalan berbelok-belok ditemani cahaya lampu minyak yang dibawa gadis itu. Cukup lumayan jauh perjalanan mereka sampailah jalan di lorong itu pada sebuah pintu kayu.
Kriet..
Disana sudah ada 3 orang yang bertudung hitam duduk membelakangi gadis itu. Salah satu dari mereka berdiri lalu mendekati gadis itu. Ia mengenal sosok berjubah itu, ia adalah tuan barunya.
"Kerja bagus tidak sia sia aku memberikan kepercayaan untukmu selanjutnya apa kamu mau bergabung dengan kami Ji sook?"
"I..itu tidak nyonya a...aku.." jawab gadis itu gemetaran.
__ADS_1
Tangan gadis itu dicengkeram oleh pria penjaga rumah. Air matanya meluncur diluar kendalinya ia begitu ketakutan di antara orang-orang aneh itu.
"Shin jangan terlalu kaku. Dia belum siap. Tidak apa-apa. Tapi..." ucapnya pada penjaga rumah itu sambil tersenyum.
"Kamu yang menangkapnya jadi kamu juga yang harus menyajikan untukku. Bukankah itu tugas seorang hamba pada tuannya."
"Shin bawa dia ketempat biasa." ucapnya pada penjaga rumah.
Shin menundukkan kepalanya lalu mengangkat karung itu dan menarik paksa Ji sook untuk mengikutinya "Ayo cepat!" seraya mendorongnya berjalan kembali di sebuah lorong.
"Apa itu perlu?" suara yang keluar dari mulut salah seorang laki-laki berjubah hitam yang duduk di ruangan itu.
"Tentu saja. Untuk menundukkan dan mendapatkan loyalitas seorang pelayan ia harus tahu kekuatan majikannya." ucapnya tersenyum menyeringai.
.
"Ayo cepat buka! Dasar lamban." ucap Shin menghardiknya.
"M..ma.maaf" ia lalu memungutnya dan membuka pintu ruangan itu.... ternyata ruangan itu adalah ruangan tempat ia dulu disekap. Ruangan itu lembab dan yang masih sama ruangan itu memiliki bau yang tidak enak.
Shin membuka karung itu tampaklah seorang gadis belia yang tidak sadarkan diri pakaiannya lusuh seperti gadis peminta minta dan usianya tampaknya tak berbeda jauh dengan Ji sook, mengenaskan ia menggantung gadis itu sama persis dengan kondisi Ji sook dulu kaki berada diatas dengan posisi tergantung.
Air mata Ji sook membasahi wajahnya ia sungguh iba dengan gadis itu 'Maaf..maafkan aku' batinnya.
Sebuah suara mengagetkan Ji sook yang saat itu melamun memandang gadis yang tergantung itu. "Jangan berlama-lama Ji sook cepat ambil belati ini sayat lehernya jangan terlalu dalam. Aku ingin menghemat pasokan minumanku untuk 3 hari ke depan." ujar tuannya itu.
"Sa.. saya nyonya?" tanyanya gugup
"Iya kamu"
__ADS_1
"Nyonya sa..saya" ucapnya gemetaran. Dia memang menculik gadis itu tapi untuk membuatnya terbunuh dia sungguh tidak sanggup.
Plak
Suara tamparan bergema di ruangan itu. "Berani..beraninya kamu menolak perintahku" ucapnya sambil menjambak rambut Ji sook, hingga membuat Ji sook menengadah.
Akh
"Ampun Nyonya, ampuni aku. Baik...baik aku lakukan."
Ji sook gemetaran mengambil belati di tangan Nyonyanya.
'Maaf...maafkan aku' batinnya
Ia mengarahkan belati itu ke leher gadis itu perlahan. Dan darah segar perlahan mengalir. Ji sook sejenak membeku melihat perbuatannya.
Tes...tes.tes..
"Cepat tampung darahnya bodoh" ucap Shin
Ji sook meletakkan mangkok berbentuk keramik dibawah tetesan darah itu.
"Bagus" ucapnya wanita itu pada pelayan barunya itu.
"Setelah penuh antarkan minuman itu pada kami. Shin berjaga diluar pastikan gadis itu melakukannya dengan benar."
Setelah itu ia pergi dari ruangan itu. Shin pun mengikutinya dan keluar dari ruangan itu. Sementara Ji sook terduduk lemas di lantai menekuk lututnya dan bergumam "Maaf..maafkan aku". Entah harus berapa lama lagi ia harus melakukan pekerjaan dosa ini yang jelas ia tidak bisa meloloskan diri dengan mudah dari tuannya itu. Ia masih merasakan perih di tengkuknya akibat stempel panas yang di tempelkan di tengkuknya beberapa hari yang lalu. Ia tidak tahu cap apa yang dibuat oleh Shin kala itu padanya. Tapi yang ia tahu jika ia melarikan diri mereka akan menemukannya.
........................
__ADS_1
Hai semua readers...author sebetulnya mau menuliskan yang lebih dari ini koq kepikiran ya. Karena terlalu kejam dan terlalu mengandung unsur kekerasan jadi author ngasih cerita cuman seperti jni aja. Karena cerita ini kan dibaca semua umur ya takutnya malah menanamkan sifat yang tidak baik jadi mohon sekali lagi bijak dalam membaca tidak untuk ditiru 🙏🙏