
Pagi - pagi buta terdengar suara keributan dari luar. Samar samar Hana mendengarnya, ia bangun dan menghampiri balkon rumah dilihatnya dari atas siapa yang membuat kegaduhan itu.
"Tabib...tabib tabib Ji bangun. Anda harus bangun tabib!" teriak seorang wanita paruh baya sambil menggedor-gedor pintu rumah.
'Siapa dia? Aku akan turun untuk melihat apa yang diinginkannya.' belum juga Hana turun ia melihat kedua orang tuanya, ying bahkan yang lainnya keluar dari kamar tampaknya mereka juga terbangun karena suara gaduh itu.
"Siapa yang berteriak?" ucap Tabib Ji
"Seorang wanita paruh baya Ayah. Ia memanggil manggil nama anda." ucap Hana
Hemm
"Aku akan melihatnya." ucap Tabib Ji sambil menuruni anak tangga
"Sebaiknya kita juga melihatnya Hana." ucap Fangyin menarik tangan Hana
.
Setelah dibukakan pintu oleh Qiang, tabib Ji mempersilahkan wanita itu untuk masuk dan duduk. Rupanya dia Ibunya Anchi, gadis yang diperiksa kemaren oleh tabib Ji.
"Tabib...tabib tolong segera ke rumahku. Putriku tidak sadarkan diri. Tadi malam ia mengeluh sesak nafas lalu aku memberinya minum dan obat tak lama ia pun tertidur. Tengah malam aku mendengar ia menjerit dan aku menghampirinya. Namun ketika aku membangunkannya ia sama sekali tidak bangun, ia sudah tidak sadarkan diri." ucap wanita itu sambil menangis.
"Itu tidak mungkin jika ia pingsan setelah meminum obat yang saya resepkan Nyonya, Obat yang saya resepkan hanya obat anemia dan selama ini belum pernah ada keluhan dengan obat yang saya resepkan itu." ucap Tabib Ji dengan raut wajah tak percaya.
"Saya yakin obat seperti itu tidak akan membuat seseorang kehilangan kesadarannya Nyonya, mohon anda untuk mengingat kembali. Apa yang sudah anda berikan pada anak anda sebelumnya?"
"Saya bersumpah Tabib. Saya tidak berbohong anak saya pingsan setelah meminum obat itu. Saya tidak meminumkan obat lainnya." ucap Ibu meyakinkan.
Hemmm
"Baiklah kalau begitu aku akan ikut kerumah anda Nyonya. Sebentar lagi toko dan rumah pengobatan akan dibuka, sementara pemeriksaan aku serahkan dulu kepadamu ya istriku dan juga Hana tolong bantu Ibumu." ucap tabib Ji bersiap-siap.
"Ayah aku ingin ikut dengan anda. Bolehkan Ayah?" ucap Hana
"Tapi Ibumu..." ucap Tabib Ji menoleh ke arah Audrey.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Hana lebih baik ikut dengan anda saja. Mungkin dia nanti bisa membantu anda." ucap Audrey sambil tersenyum.
Tabib Ji, Hana dan Ibunya Anchi menaiki kereta dan segera menuju ke rumah Anchi.
Tak lama pintu gerbang dibuka kereta itupun masuk ke halaman depan sebuah rumah yang sederhana namun cukup besar.
Mereka bertiga turun dari kereta dan Ibunya Anchi yang bernama Nyonya Chyou mempersilahkan mereka masuk. "Silahkan masuk tuan mari kita langsung ke kamar putriku." ucapnya
Tabib Ji berjalan masuk ke dalam rumah namun ia tak melihat pergerakan langkah dari Hana, ia berbalik dan melihat Hana yang sedang memperhatikan rumah itu.
"Apa yang kamu lihat Hana..ayo masuk" ajak Tabib Ji
"Hmm...tidak ada. Ayo Ayah." ucap Hana seraya masuk mengikuti langkah Ayahnya.
.
"Bagaimana tabib? bagaimana kondisi putriku." ucap Nyonya Chyou dengan wajah khawatir.
Setelah menekan pergelangan tangan gadis itu dan mengecek kondisinya, "Ini...." saat akan mengatakan sesuatu tiba-tiba..
Tangan Anchi bergerak dan ia membuka matanya "Oh ya Tuhan, Putriku siuman. Terimakasih tabib tangan anda sungguh ajaib." ucap wanita itu. Ia segera mendatangi putrinya dan menciumnya berkali-kali.
"Apa yang kamu lihat Hana? Mengapa setelah kamu menatap tajam ke arah Anchi tiba-tiba sirkulasi darahnya menjadi lancar dan dia bisa sadar?" tanya tabib Ji dengan berbisik
"Ayah dia bukan sakit biasa, sesuatu yang lain menindih di atas tubuhnya oleh karena itu ia mengalami sesak nafas dan perutnya sakit."
"Apa kamu bisa melihat hal-hal semacam itu Hana?"
"Ya setelah aku bangun dari tidur panjangku."
"Jangan memperlihatkannya Hana. Ayah khawatir denganmu." ujar Tabib Ji menasehatinya. 'Pantas saja tadi istriku mengatakan Hana mungkin bisa membantuku, tampaknya ia sudah mengetahui kemampuan Hana dan mencurigai ada yang ganjil.' batin Tabib Ji
Tabib Ji berbalik dan ia tersenyum pada Nyonya Chyou "Nyonya karena anak anda sudah siuman sebaiknya kami kembali karena banyak pasien di rumah yang menunggu."
"Baiklah saya antar anda kedepan. Silahkan!" ucap Nyonya Chyou mengantar mereka ke depan dan pintu kamar pun ditutup meninggalkan Anchi bersama seorang pelayan di dalamnya.
__ADS_1
"Sebenarnya putriku sudah sering berobat ke banyak tabib tuan penilaian mereka sama dengan anda tuan, tapi setelah meminum obat mereka hasilnya tetap sama putriku masih merasa sesak nafas seperti ada sesuatu yang mencekiknya. Ia mengatakan pada mereka tentang apa yang dirasakannya tapi tidak ada yang percaya. Mereka seolah mengatai anakku berhalusinasi." ucap Nyonya Chyou dengan wajah sedih
Belum juga tabib Ji menimpali ucapan wanita itu... tiba-tiba terdengar suara gaduh di dalam kamar itu....
"Nyonya..nyonya tolong..." suara itu terdengar dari dalam kamar
Mendengar suara kegaduhan itu mereka yang berada diluar kamar segera masuk dan terkejut mendapati gadis itu seolah mencekik lehernya sendiri
"Akh..akh.." suara gadis itu tercekat...air mata mengalir dari kedua matanya karena kesakitan.
"Nyonya... tolong nyonya...Nona Anchi mencekik lehernya sendiri!" teriak pelayan di kamar itu, pelayan itu tampak kesulitan menarik tangan Anchi yang begitu kuat memegang lehernya.
"Anakku...anakku... tolong tabib." ucap wanita itu histeris dengan kondisi anaknya
Hana menatap Ayahnya seolah mengatakan 'maaf Ayah' Tabib Ji mengangguk memberi isyarat Hana untuk membantu gadis malang itu.
"Tolong berikan ruang dan bergeser dari sisi gadis ini!" ucap Hana sambil mendekati tubuh Anchi. "Jangan salahkan aku, jika aku kasar ya. Kamu yang memintanya, aku sudah memperingatkanmu tadi."
Nyonya Chyou dan pelayan itu terkejut mendengar ucapan Hana tapi mereka tidak ingin mengganggu anak gadis tabib Ji ini. Mereka dibuat kebingungan dengan tingkahnya.
Hana memegang leher Anchi dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya seperti mengangkat sesuatu dari tubuh Anchi. Dan ia melakukan itu dengan mudah.
Rupanya sesuatu yang lain itu berbentuk menyerupai bayi 10 bulan ia berwajah pucat dengan mata berwarna merah. Ia tadinya menaiki tubuh Anchi dan tangannya memanjang untuk mencekik leher gadis itu.
"Jangan ikut campur!" ucap bayi aneh itu
"Kamu menggangu manusia terlebih dahulu. Enyahlah sebelum aku memusnahkanmu." ucap Hana dengan nada mengancam
"Aku tidak takut padamu." ucapnya kembali. Bayi aneh itu bergerak cepat berusaha melepaskan diri dari Hana yang memegang lehernya. Ia memutar kepalanya berulang ulang dengan cepat hingga pegangan Hana melemah. Ia akan meloloskan diri dengan merangkak cepat.
"Ah tidak semudah itu." ucap Hana menyeringai. Ia berlari dan menendang bayi itu hingga membentur dinding kamar dan menghasilkan retakan yang cukup dalam.
Nyonya Chyou dan pelayannya terkejut dengan keanehan itu tapi mereka tidak berani bertanya.
"Sa...sakit. Ampuni Aku." ucapnya mengiba
__ADS_1
"Tuhan tidak mengijinkanmu menyakiti manusia, katakan ini keinginanmu sendiri atau ada yang menyuruhmu?" ucap Hana mendekati bayi itu dengan aura yang mengancam
............................