Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
27. Malam panjang


__ADS_3

Jian lan terlihat duduk di dalam kedai minuman dalam keadaan kacau, mata merah, rambut dan pakaian yang berantakan. Bukan itu saja di hadapannya botol-botol arak bergelimpangan kalau dihitung dengan gelas arak maka sudah tak terhitung berapa jumlah gelas yang diminumnya sampai tengah malam itu.


Dari mulutnya keluar kata makian, tawa bahkan tangis jika orang melihatnya maka sudah pasti mereka berfikiran bahwa Jian lan sedang kehilangan kewarasannya. Sudah dari semenjak sore Jian lan menyewa sebuah kamar tertutup eklusif milik kedai minuman tersebut. Kedai minuman yang terkenal di kekaisaran Matahari sebagai kedai terbesar dan ternyaman sungguh sangat memanjakan pelanggannya. Berbagai minuman mereka jual bahkan mereka juga menyewakan kamar khusus untuk minum bagi yang ingin menikmati privasinya. Bangunan yang setinggi 3 lantai itu tentunya adalah tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu Malam Panjangnya.


Malam ini adalah malam yang tak akan pernah Jian lan lupakan seumur hidupnya karena di malam ini sahabat yang sudah dianggap adik olehnya akan menanamkan benihnya di rahim istri tercintanya. Kegilaan Jian lan untuk merangkai masa depannya sudah pada titik yang luar biasa bagaimana tidak demi kenyamanannya, seorang suami tega menjual istrinya 1 malam hanya untuk seorang bayi yang akan menyelamatkan kehormatan dan masa depannya. Tak masalah jika bayi yang akan lahir perempuan ataupun laki-laki jika laki-laki maka ia akan mendidiknya menjadi penerusnya dan untung besar jika yang lahir nantinya adalah perempuan. Sesuai janji Kaisar maka nantinya putrinya akan dinikahkan dengan putra mahkota, anak kaisar dengan permaisurinya.


Di pikiran Jian lan hanya masa depan yang cemerlang...ya dia harus sedikit kejam pada istrinya bagaimanapun juga nantinya ia akan mengerti bahwa sedikit pengorbanan itu akan sebanding dengan hasilnya dan ia pun tertawa terbahak-bahak memikirkannya. Namun tak lama terdengar suara-suara desahan kenikmatan di telinga Jian lan, itu membuat darahnya mendidih dia berteriak dan membanting botol - botol minuman itu tak lama ia menangis tersedu-sedu mengingat bagaimanapun juga istrinya itu adalah wanita satu-satunya di dunia ini yang paling ia cintai tak pernah sekalipun Jian lan melirik atau bahkan tergoda dengan perempuan cantik lainnya. Sungguh pemandangan yang ironis.


Berbeda dengan bayangan Jian lan justru di kediaman Panglima perang itu terlihat sunyi. Di kamar Panglima itu, justru istri tercintanya Xin Qian yang dikiranya mengeluarkan suara desahan malah tampak sedang tertidur damai tak seperti yang dibayangkan Jian lan. Sang istri masih berpakaian tidur lengkap dan tubuhnya pun tertutup selimut. Tak seperti seseorang yang telah melakukan 'aktivitas ranjang'.


Ji hua tampak duduk di sebuah kursi tak jauh dari ranjang itu tampak mengamati Xin Qian sambil bergumam "Kuharap semua berjalan sesuai rencanamu". Lalu Ji hua bangkit dan kembali tidur di kamarnya.


...


1 bulan berikutnya


Tampak Xin qian tidur dengan wajah pucat di ranjangnya dan Ji hua sedang memeriksanya dengan menekan lembut pergelangan tangannya. "Kakak ipar hamil" ucapnya singkat.


"Apa benar yang kau ucapkan Ji hua?" tanya Jian lan.


Hemm


Ji hua berdehem dan menganggukkan kepalanya.


"Istriku hamil! Aku akan menjadi ayah, cepat segera bagikan manisan ke semua orang."


Setelah pelayannya pergi Jian lan memasang muka datar. Kebohongan yang menyakitkan hanya 1 malam dan istrinya hamil. Ia segera keluar dari kamar itu dan meninggalkan istrinya bersama Ji hua bagaimanapun ia menipu semua orang namun ia tidak bisa terus berpura-pura di depan sahabatnya itu.

__ADS_1


Berita kehamilan istri panglima tersebar luas banyak yang memuji dan mengatakan keberuntungan. Mereka mulai membicarakan tentang janji kaisar pada sang panglima yang akan menjadi kenyataan.


. ..


6 bulan kemudian


Malam itu kediaman panglima yang saat itu tenang mendadak heboh karena istri panglima menjerit-jerit karena kesakitan sambil memegang perutnya seperti akan melahirkan.


"Cepat panggil Ji hua!" kata Jian lan yang cemas melihat kondisi istrinya.


Ji hua setengah berlari mendengar kabar itu dan ia berkata "Aku sudah menyiapkan kamar khusus untuk melahirkan."


"Kenapa tidak di kamarnya saja" kata Jian lan memegang lengan Ji hua.


"Tidak, kakak ipar melahirkan sebelum waktunya 1 bulan yang lalu aku sudah mengatakan padamu bukan? bahwa kehamilannya beresiko maka aku meminta kamar khusus untuk melahirkan."


Akh...akh..


"Sakit...tolong aku Ji hua aku tidak kuat rasanya sakit sekali". jerit qian


"Tenang kakak ipar. Sesaat lagi aku akan membuatmu tidak merasakan sakit itu lagi."


Hampir berjam-jam dia melakukan persalinan, namun Ji hua tidak mau siapapun membantunya. Setelah itu tepat tengah malam 'bayi' itu dilahirkan. Bayi itu malah ditempatkan di guci tanah liat besar dan menutupnya, lalu dibungkus dengan kain besar. Setelah menjahit perut qian, seseorang mengetuk pintu ruangan 3x3 meter itu.


Tok..tok..tok


Ji hua membukakan pintu seseorang berjubah hitam dengan keranjang besar di tangannya. Ji hua masuk dan mengambil guci besar yang berisi 'bayi' dan menukarnya dengan keranjang besar itu.

__ADS_1


"Berhati-hatilah. Aku akan menemuimu di hutan itu dalam dua hari kedepan." ucapnya sambil memeriksa keadaan diluar.


...


Saat Matahari terbit menampilkan kilauan cahayanya yang samar-samar, Qian terbangun dengan tubuh lemahnya ia berkata "Ji hua bagaimana anakku apa dia...?"


Ji hua tersenyum "Selamat kakak ipar bayi perempuan yang cantik."


...


Ditempat lain saat fajar telah tinggi di tempatnya, seseorang yang membawa guci tadi mengeluarkan bayi didalamnya secara paksa yaitu dengan memecahkan guci tersebut. 'Bayi' itu merayap dengan cepat ke arahnya dan ia pun dengan segera memenggal kepala bayi berbentuk aneh tersebut.


****


Cairan kental berwarna hijau menjijikkan terciprat ke bajunya. Aneh bukan? memang yang di dalam guci besar itu bukanlah bayi melainkan Cacing besar dengan seukuran bayi



....


Sebelumnya


3 hari semenjak pembicaraan terakhir Ji hua dengan Xin Qian. Lalu Ji hua memantapkan hatinya untuk berbicara dan meminta ijin kepada istrinya. Ia pun menceritakan semuanya namun ekspresi Audrey sungguh tidak ia bayangkan jika perempuan lain tentunya akan berteriak marah ataupun menangis namun Audrey tidak. Ekspresinya hanya datar lalu ia pun bertanya "Suamiku apakah kau akan melakukannya?"


"Demi Tuhan, Istriku jika aku memiliki pilihan yang lebih baik lainnya maka aku akan memilih itu daripada harus menyetubuhi kakak ipar, sungguh perbuatan itu paling buruk di mata Tuhan."


"Aku akan membantumu menemukan pilihan yang lain itu" jawab Audrey dengan mantap.

__ADS_1


__ADS_2