
Ketika Hana akan melakukan akupuntur pada punggung Kaisar, Audrey meminta ijin "Yang Mulia ijinkanlah saya untuk memasak obat yang telah diresepkan oleh putri hamba"
"Berikan saja resepnya pada kasim, tabib istana yang akan memastikan pelayan untuk memasak obat itu dengan benar. Anda tak perlu khawatir." ucap Kaisar
"Tidak Yang Mulia, saya hanya ingin memastikan apapun yang telah diresepkan dimasak dengan benar agar tidak terjadi kesalahan." ucap Audrey meyakinkan
"Baiklah" ucap Kaisar memberikan ijinnya.
.
"Jika Anda merasakan ada yang tidak nyaman. Anda bisa mengatakannya Yang Mulia." ucap Hana. Pikiran Hana tidak tenang, apa yang akan dilakukan Ibunya. Ia memaksa agar Kaisar menerima pengobatan akupuntur yang dilakukan oleh Hana. Memang pengobatan ini membutuhkan waktu hampir 1 jam, jika Ibunya menyelinap pasti waktu itu sangat cukup untuk memperoleh informasi itupun jika ia memiliki kemampuan beladiri yang tinggi. Tampaknya Ibunya memiliki rencananya sendiri, tapi ini terlalu gegabah dan berbahaya.
"Hana bisakah aku hanya memanggil namamu saja jika kita berdua?" tanya Kaisar
"Terserah Anda Yang Mulia. Kewenangan itu Anda miliki sebagai Penguasa Kekaisaran lagipula saya adalah tabib yang mengutamakan kenyamanan pasien yang saya obati." ucap Hana jelas agar Kaisar tidak salah paham menilainya.
__ADS_1
"Hana pernikahanmu dengan tuan Chen hanya sebatas pernikahan adat apakah itu benar? Padahal tuan Chen belum pernah menikah apakah itu tidak mengganggumu?" tanya Kaisar sambil matanya melirik wanita bercadar itu
"Ya benar Yang Mulia. Hanya pernikahan adat dan saya tidak mempermasalahkan itu. Sebagai seorang istri dicintai secara tulus oleh suami adalah berkah tersendiri. Mohon maaf atas kelancangan saya Yang Mulia, kenapa Anda mempertanyakan hal pribadi seperti ini?" tanya Hana
"Aku hanya kasihan padamu Hana, kamu adalah wanita berbakat dan memiliki kecantikan yang....." ucapnya tertahan karena wajahnya yang memerah mengingat betapa cantiknya rupa wanita itu.
Ehem
ucapnya berdehem untuk menetralkan suaranya kemudian berkata lagi "Aku penasaran bagaimana bisa wanita sepertimu mau dan bertahan dengan pernikahan seperti itu. Di haremku mereka berebut untuk mendapatkan posisi istri sah. Jadi....."
"Tidak apa-apa Hana, keterus terangan dirimu mengingatkanku pada istri pertamaku yang telah tiada He Hua."
Deg!
Sesaat hati Hana menjadi kacau saat nama lamanya disebut, sebulir air mata menetes di sudut matanya. Dengan cepat Hana menghapus air matanya dan menyelesaikan akupunturnya.
__ADS_1
"Selesai Yang Mulia, apakah terasa sedikit lebih baik?" tanya Hana memastikan.
"Ya ini sangat baik, aku tak merasa sakit dan terasa nyaman." ucapnya sambil memakai pakaiannya. Ia berdiri tegap di depan cermin besar yang menampilkan pantulan dirinya dan punggung Hana, wanita yang ia kagumi. Hana adalah sosok wanita yang memiliki kemampuan dan sangat cantik, sayangnya ia telah memiliki suami. Jika tidak, ia pasti akan langsung menikahinya. Dengan kecantikan yang memikat dan kemampuan yang hebat sudah seharusnya ia bisa memilih pria manapun yang hebat. Namun kenyataannya ia malah menikahi pria pedagang yang tak memiliki status sosial yang tinggi. Wanita itu benar-benar unik dan itulah yang ia sukai dari wanita itu. Jalan satu-satunya mendekatinya hanya lewat pertemanan.
"Permaisuri He hua adalah istri yang sempurna untukku, tapi dia seorang wanita yang mendominasi dan....."ucapnya sendu sambil menunduk.
"Yang Mulia itu adalah hal pribadi Anda, sepertinya kurang pantas bagi saya untuk..." ucapnya berbalik dan menatap punggung Kaisar.
"Tidak jangan berpikir demikian. Anda adalah tabib, untuk kenyamanan pasien terkadang ungkapan isi hati pasiennya juga berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatannya bukan? Lagipula aku sudah memutuskan untuk menganggapmu sebagai teman, apakah permintaan ini terlalu berlebihan?"tanyanya pada Hana
"Yang Mulia sungguh keberuntungan anda bisa menganggap saya demikian. Tapi saya tidak ingin memunculkan perselisihan baru di antara wanita Anda." ucap Hana tegas dan duduk pada kursi yang dekat dengan pintu keluar kamar yang megah itu. Ia hanya tidak ingin menimbulkan percikan api diantara dirinya dan Permaisuri, ia sudah jengah berurusan dengan sepupunya itu. 'Tapi kenapa Ibu belum kembali?"
"Itu takkan terjadi, percayalah. Ini hanya pertemanan biasa." ucap Kaisar mendekati Hana dan duduk di kursi sebelahnya.
............................
__ADS_1