Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
33. Dengan senang hati


__ADS_3

Gadis cantik berusia 4 tahun berambut pirang bermata coklat sedang berputar-putar menggunakan pakaian barunya. Baju itu terlihat mahal dan ekslusif karena terbuat dari bahan sutera berkualitas terbaik. Terlihat ia begitu senang memakainya. Bak sebuah boneka, kulit putih, pipi yang kemerahan menambah kesan bahwa gadis cilik itu bukanlah dari kalangan keluarga sederhana. Tingkahnya yang lucu itu membuat pakaian bawahnya mengembang tertiup angin.


Ha...ha..ha..


Semua orang di tempat itu tersenyum melihat betapa lucunya gadis itu.


"Audrey kemarilah!" panggil seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik.


"Ya nenek."


"Kamu suka dengan pakaian yang nenek berikan itu?" tanyanya sambil mengusap pipi merah itu.


"Suka...aku suka sekali."


"Jika kamu mau, nenek bisa memberimu hadiah setiap harinya namun... kamu harus menuruti permintaan nenek."


Sambil memegang dagunya seolah ia berfikir


Mmmm


"Baiklah. Tapi nenek aku harus apa?"


"Nenek akan mempertemukanmu dengan seorang guru rahasia dan kamu akan belajar setiap hari dengannya. Namun berjanjilah tidak akan mengatakan apapun kepada Ayah dan Ibumu." ucapnya dengan berbisik.


"Tapi kenapa nenek?" ucapnya heran.


"Sudahlah nanti biar jadi kejutan untuk orang tuamu."


...


"Nyonya...nyonya"


Suara itu membuyarkan lamunan seorang wanita yang setengah wajahnya memakai topeng. Namun kecantikannya seolah menampakkan ia masih berusia sekitar 25 tahun.


"Ya ada apa?"


"Saya melaporkan bahwa tuan Ji 2 hari yang lalu membeli sebuah rumah di pusat kota."


"Lalu?" sambil menatap pelayannya


"Rumah toko itu milik tuan Qiang."


Mata wanita itu sedikit membesar namun tak lama ia malah sedikit menyunggingkan senyum.

__ADS_1


.


Tok...tok...tok


"Siapa?"


Tok..tok..tok


"Siapa..apa itu anda ayah?"


He hua mengerjapkan mata bangkit dari ranjangnya dan melihat keluar jendela 'Tampaknya hari masih gelap. Apa mungkin itu Ayah?'


He hua membangunkan Ling ling "Jie jie bangun ada seseorang mengetuk pintu."


Hoamm


"Itu hanya hayalanmu saja."


"Tidak jie jie aku mendengarnya jelas, ayolah bangun temani aku untuk melihat siapa yang ada diluar. Mungkin itu ayah."


"Tidak mungkin, Paman Jie telah berkata bahwa ia akan pulang di pagi hari. Sudahlah ayo...ayo sini tidur saja mataku masih mengantuk." ujar Ling ling menepuk-nepuk ranjang mereka.


"Hais...tapi aku dengan jelas mendengar ketukan pintu itu."


He hua melangkahkan kakinya keluar kamar menggunakan cahaya dari sebatang lilin yang ia bawa.


Tok..tok..tok


Suara ketukan itu kembali terdengar dan kali ini begitu jelas.


"Siapa disana....apa itu anda ayah?"


Hening


Karena tak ada suara yang menjawab pertanyaannya, He hua menundukkan badannya dan mengintip melalui celah pintu yang kecil.


Deg


Betapa terkejutnya ia melihat seseorang berjubah hitam berdiri di depan pintunya.



'Siapa dia... sepertinya itu bukan Ayah' batinnya.

__ADS_1


Namun ia memberanikan dirinya untuk membuka pintu itu.


'Siapa tahu dia adalah orang yang tersesat dan membutuhkan pertolongan.'


Saat hendak membuka pintu itu tiba-tiba sebuah tangan terjulur memegang pundaknya.


He hua yang terkejut, menarik tangan itu menyikut menggunakan siku tangannya langsung merobohkannya dengan menjegal kakinya.


Bruk


Aww


"Aiya sakit sekali"


He hua mendekatkan cahaya lilin ke arah suara yang mengeluh sakit itu.


He..he..he


"Jadi itu kamu kak chen, maaf...maaf." ucapnya sambil membantu Chen long berdiri.


"Tadi aku sangat terkejut. Seharusnya kamu menegurku saja tadi." ucapnya membela diri.


"Tadi aku melihatmu menyentuh pintu dan seperti akan keluar rumah, oleh karena itu aku bermaksud menghentikanmu."


"Ah iya tadi aku akan membuka pintu kak Chen. Sepertinya di depan ada seseorang yang butuh pertolongan."


"Jangan He hua ini tengah malam siapa yang akan bertamu di tengah malam di tengah hutan seperti ini. Berbahaya jika kamu sembarangan membuka pintu rumah malam-malam."


"Tapi kak Chen seseorang memang mengetuk pintu itu dan tadi aku mengintip dari celah pintu itu melihat ada seseorang berdiri disana."


"Minggirlah, biar aku saja yang melihatnya."


Chen long mengintip melalui celah pintu dan melihat tidak ada siapapun disana."


Chen long bangkit menatap He hua dan menggelengkan kepala, pertanda tak ada siapapun di luar sana.


"Benarkah?"


"Sudahlah sebaiknya kamu tidur, mungkin kamu kelelahan."


He hua tadi pagi memang sempat kelelahan. Pelatihan fisik dilakukannya mulai tadi pagi karena Chen long ingin agar He hua bisa membela dirinya jika tidak ada dirinya. Bagaimanapun Chen long ingin He hua bisa mandiri.


...............

__ADS_1


Hai readers semuanya, aku kok sedih banget, jumlah pembaca termasuk lumayan ya sekitar 1000 lebih tiap harinya namun yang ngasih like cuman rata2 30 orang. Ayuk dong kasih jempolnya biar author semangat mengerakkan jari2 author untuk menulis cerita 😭😭😭


__ADS_2