
"Selamat tinggal Audrey ku sayang" ucapnya dengan sinis.
"Ibu, Ingatlah setiap perbuatan yang keji akan ada balasannya!" ucap Audrey dengan tubuh lemas.
Hos..hos..hos
Keringat bercucuran tangannya gemetaran ini adalah kali pertama ia memimpikan kejadian yang dialaminya puluhan tahun yang lalu. Audrey duduk dan mengambil selimut kecil yang berwarna putih. Dipeluk dan diciumnya dengan deraian air mata. 'He Hua anakku, aku begitu merindukanmu, belasan tahun aku meninggalkanmu. Walaupun kita jauh aku akan melindungimu dengan sekuat tenaga' batin Audrey.
.
Dua orang wanita duduk santai di sebuah taman yang luas dan indah. Angin semilir membawa aroma bunga mawar yang semerbak yang khas karena memang banyak bunga jenis itu yang di tanam di taman itu. Seorang pelayan maju membawa teko memberi hormat dengan sedikit membungkuk dan menambahkan kembali pada cangkir kedua wanita yang telah kosong.
"Bagaimana dengan permintaanku waktu itu yang mulia?" tanya seorang wanita muda kepada wanita dihadapannya.
"Kamu sungguh tak dapat menahan diri untuk itu." ucapnya setengah menyindir. "Tunggulah dua bulan lagi secara otomatis gelar Permaisuri akan kamu dapatkan meskipun tanpa dukunganku." ucapnya lagi.
"Aku hanya ingin membantu suamiku yang mulia. Tidakkah itu perbuatan yang baik bagi seorang istri dapat membantu dan sedikit mengurangi beban pekerjaan suaminya?" balasnya.
__ADS_1
Ucapan Mei lan membuat Ibu suri yang semula akan meminum tehnya langsung menghentikan gerakan tangannya diletakkannya kembali cangkir teh itu ke meja lalu ia menatap wajah menantunya itu dengan ekspresi datar. Walaupun ia bukan Ibu kandung Taiyang tapi Ia adalah wanita yang paling berpengaruh dan berkuasa di seluruh kekaisaran berani - beraninya seorang menantu yang hanya berstatus selir mendesaknya untuk menuruti keinginannya 'Sungguh aku keliru memanjakannya'.
Merasa tatapan Ibu suri yang tak suka dengan apa yang ia sampaikan, ia segera memasang wajah sedihnya.
"Oh Ibu maafkan Mei lan yang polos ini jika terus saja memaksakan kehendak. Namun saya hanyalah seorang istri yang ingin membantu suaminya saja. Apalagi beberapa bulan ini ia sering bermalam di ruang kerjanya. Aku sangat mengkhawatirkan kesehatan suamiku Ibu." ucapnya sambil menyeka air matanya dengan sapu tangan miliknya.
Raut wajah Ibu suri seketika berubah menjadi senyuman 'Cerdik, lumayan'. "Mei lan" panggilnya dengan suara lembut. "Aku mengerti kekhawatiran dirimu namun apa kamu lupa sesuai dengan peraturan kekaisaran selama ini bahwa seorang permaisuri pengganti hanya bisa di angkat jika permaisuri lama telah wafat dalam waktu satu tahun maka secara otomatis permaisuri selanjutnya bisa diangkat." ucapnya mengingatkan sambil menepuk-nepuk lembut punggung tangan menantunya itu tentunya dengan tatapan mata yang dalam "Lagipula kamu tidak ingin kan rakyat memiliki pandangan buruk terhadap keluarga kerajaan." ucapnya sambil tetap menatap menantunya itu.
'Huh omong kosong padahal tanpa menunggu setahun pun bisa asalkan mendapatkan persetujuan dan dukungan darinya.' batin Mei lan.
Emm
Begitu Mei lan pergi beserta para pelayannya, seorang pelayan kepercayaan Ibu suri mendekat "Yang Mulia apakah anda tidak terlalu memanjakannya?"
Mendengar ucapan pelayannya ia tertawa terbahak-bahak.
Ha..ha..ha...
__ADS_1
"Jika kamu memiliki seekor hewan peliharaan yang berharga apakah kamu akan langsung membuangnya ketika ia mencakarmu?"
"Tentu tidak nyonya. Tapi aku akan memberinya sedikit hukuman agar ia mengerti kesalahannya."
"Itulah yang sedang aku lakukan, memberinya sedikit hukuman dengan tidak memberinya kesempatan untuk menduduki kursi itu sampai waktu setahun. Mungkin bagi orang lain dua bulan itu waktu yang singkat namun tidak dengan orang yang memiliki obsesi besar seperti Mei lan. Dua bulan adalah waktu yang lama dan menyiksa."
Walaupun awalnya memaksakan kehendaknya pada akhirnya Mei lan cukup mengerti dengan 'pemahaman' yang diberikan Ibu suri. Tidak Membantah dan menerima saran Ibu suri adalah poin tambahan untuknya untuk tetap menjadi bidak berharganya. Meskipun ia menunjukkan perlawanannya dengan sindiran-sindirannya namun itu hanyalah karena ketidakmampuannya menghadapi seorang wanita yang memiliki kekuasaan luas seperti Ibu Suri dan hanya sampai disitulah batas akhir keberaniannya. Selain itu dengan 'penantian' Mei lan dalam dua bulan kedepan akan menunjukkan bagaimana sikap wanita itu kedepannya terhadap Ibu suri.
.
Ditempat lainnya percakapan terjadi di sebuah ruangan.
"He Hua anakku menurut Ayah sebelum kita semua pindah di tempat yang baru, ada baiknya kita menyiapkan identitas baru untuk mu dan Ling ling demi keamanan kalian berdua." ucap tabib Ji di akhir makan siang mereka.
"Ya aku setuju kehidupan keduaku ini aku ingin aman tentunya untuk keamanan kita semua, aku tidak ingin membahayakan keluarga kita. Dan agar tujuanku bisa menemukan ibu tanpa halangan, namun apakah ayah ada saran sebaiknya apa nama baruku?" ucap He Hua.
Empat orang di ruangan itu sama - sama berfikir nama dan identitas apa yang cocok.
__ADS_1
...................
Author juga berfikir sambil memegang daguπ€π€...Apakah readers ada ide sebaiknya apa nama baru untuk He Hua dan Ling Ling? yuk comment π like πvote. Makasih banyaaakkk buat kalian yang udah vote ππ