Kematian Permaisuri Jahat

Kematian Permaisuri Jahat
34. Dengan senang hati -2


__ADS_3

"Ayo lakukan dengan benar." ujar Chen long


Hia...hia...


He hua berlatih mengayunkan pedangnya gerakannya sangat indah hanya dalam waktu 3 hari ia telah mampu menguasai teknik dasar berpedang, memang He hua adalah seorang yang cerdas.


Namun karena kecerdasannya jugalah yang menyebabkan meregangnya hubungan persaudaraan antara He hua dan Mei lan. Dulu saat kecil He hua dan Mei lan layaknya kakak beradik yang serahim, kemanapun He hua berada disana pasti ada Mei lan. Walaupun mereka adalah sepupu tapi rasa persaudaraan mereka sangat kuat saling menyayangi satu sama lain. Namun saat mereka beranjak remaja percikan terjadi di dalam hati Mei lan karena kecemburuannya saat mendengar banyak pujian yang ditujukan kepada He hua atas kecerdasan yang dimilikinya. Seiring berjalannya waktu kecemburuan itu kian membesar di hati Mei lan saat ia mulai merasakan menyukai pangeran mahkota, tanpa He hua ketahui rasa sayang saudaranya itu berubah menjadi kebencian yang terpendam.


.


"Ayo terus lakukan lebih baik lagi!!"


"Kerahkan tenagamu!!"


"Ayo jangan bermalas-malasan!!"


Teriakan - teriakan Chen long semacam itu seolah berdengung di telinga He hua dan membuat He hua kesal. Ini sudah lima jam lamanya latihan pedang yang dilakukan He hua, tubuhnya sudah terasa pegal - pegal. 'Lihatlah pria itu seperti tak menghiraukan kerja kerasku malah meneriakkan kata-kata yang menjengkelkan.'


Kalau saja He hua tidak memahami etika penghormatan murid kepada guru sungguh dia akan dengan senang hati memaki pria itu. Bagaimana tidak, seharian ini pria itu melihat He hua berlatih dengan posisi tiduran sambil memakan buah-buahan lalu ia dengan entengnya berkata jangan bermalas-malasan?


He hua mendengus kesal dan membatin 'Sebenarnya siapa yang bermalas-malasan?'


"Sudah cukup. Tubuhku terasa pegal. Aku ingin istirahat. Lagipula kita bisa meneruskan latihan ini besok."


"Hei ini baru 3 jam dan kamu bilang pegal?"


'Sabar...sabar 3 jam katanya. Heh pria ini sungguh minta dipukul'


"Kak Chen lihatlah letak matahari baik-baik. Maka kamu akan tahu jam berapa ini"


"Aiya...kamu benar. Baiklah mari istirahat, kita lanjutkan besok lagipula perutku juga sudah lapar."


'Lapar? Dari tadi ia telah menghabiskan senampan buah-buahan dan masih bilang lapar. Sebenarnya ia sadar atau tidak saat memakan itu semua, menggelikan.'


.


Di sebuah ruangan bawah tanah terlihat seorang gadis muda terikat dengan posisi tergantung terbalik. Wajah cantiknya tak lagi tergambar, hanya raut kekhawatiran ketakutan akan kematian atau yang lebih buruk penyiksaan sebelum kematiannya.


"Tolong...tolong aku"

__ADS_1


"Ampuni nyawaku" ucapnya dengan tangis ketakutan.


Seseorang terdengar masuk menuruni tangga


tap...tap...tap


Suara itu membuat si gadis tak mampu lagi membendung tangisnya.


Hiks...hiks...hiks


"A...ampuni aku. Tolong lepaskan aku."


Seseorang berjubah hitam melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu dan membuka pintu ruangan yang luas dan minim pencahayaan itu. Ia berjalan mendekat memperhatikan gadis belia itu. Menjulurkan tangannya yang berkuku panjang dan memutar-mutarkan tubuh gadis itu bak penjagal daging yang meneliti daging sembelihannya.


"To..tolong am..puni a..ku tu..an"


Gadis ini benar-benar merasa nyawa akan berakhir. Dengan sisa keberaniannya ia berkata "Tu...tuan aku bersumpah padamu jika a...anda melepaskan aku, a..aku akan melakukan apa saja yang kamu perintahkan. Aku bersumpah tuan."


He..he..he


suara tawa khas pria terdengar begitu menyeramkan dari mulut sosok berjubah itu.


Hiks...hiks..


"I..iya mengabdi padamu" suara gadis seperti tak mampu keluar karena ketakutan yang besar.


Ha..ha...ha


Suara tawanya menggelegar, menggema di ruangan itu.


"Bagus. Dengan senang hati aku melepaskanmu."


.


Keesokan paginya He hua kembali berlatih kali ini ia meminta Chen long untuk bertarung dengannya untuk menguji seberapa pesat kemajuan latihannya.


Trang...trang...


He hua dengan gesit menyerang Chen long. Pertarungan pedang mereka saat itu membuat Ling ling hanya berani melihat dari dalam rumah. Jika ia mendekat dan tak sengaja terkena tebasan pedang mereka bisa-bisa kulit dan dagingnya terkelupas dari tulangnya karena tajamnya pedang mereka. 'Mereka memang pasangan yang serasi. Sama-sama tidak waras. Bagaimana bisa pemula berlatih dengan pedang sungguhan dan menginginkan pertarungan yang real. Sedangkan pelatihnya seperti orang yang tak punya akal melatih seorang gadis seperti melatih prajurit perang.'

__ADS_1


Trang..trang


Suara gesekan pedang itu bisa membuat orang merasakan ngilu dan pelatihan itu tentu saja membuat korban berjatuhan. Banyak pohon yang kehilangan tangan dan jari - jari mereka. Terlihat dari banyak daun ranting dan dahan yang berserakan.


He hua yang tidak sabar ingin mengakhiri pelatihannya menyerang Chen long dengan tergesa-gesa akibatnya Chen long dengan mudah memanfaatkan situasi. Dilihat dari sudut pandang manapun He hua pasti akan kalah. Secara kekuatan, kecepatan dan pengalaman sangat jelas bukan.


Namun Chen long tentu saja meladeni keinginan He hua untuk bertarung dengannya agar gadis itu senang. Apalagi ia juga ingin tahu seberapa pesat kemampuan gadis ini.


Saat pedang itu bertemu dengan sigap Chen long menekankan dua pedang itu ke dada He hua. Kaki He hua sempat mundur berusaha mengelak namun apa daya tekanan yang kuat itu membuat He hua lupa dengan posisinya yang terlalu dekat dengan Chen long. Akhirnya....


Bruk


He hua terjatuh karena Chen long menendang kakinya.


"Aww..." pekiknya


He hua terjatuh dengan posisi telentang, Chen long mengacungkan pedangnya di leher He hua. "Kau kalah permaisuri."


Raut wajahnya yang tadinya serius berubah menjadi tawa ringan


He..he..he


"Namun boleh juga. Tidak mengecewakan."


Chen long mengulurkan tangannya untuk membantu He hua bangkit.


He hua menerima uluran tangan Chen long dan mengkerucutkan bibirnya. Ia membersihkan pakaiannya yang kotor terkena dedaunan dan mengambil pedangnya bergegas meninggalkan Chen long sendirian.


"Hei He hua ada apa denganmu? Kamu marah? Apa salahku." teriaknya


Ling ling yang melihat pemandangan itu sejak tadi hanya terkikik geli.


"Sudah kuduga. Aiya akhirnya aku bisa melihat awal drama percintaan."


Ling ling memang mengetahui sifat He hua sejak lama. Karena semenjak kecil ia yang selalu setia menemani. Ia tahu He hua yang cerdas tidak pernah sekalipun mengecewakan guru yang mengajarinya, ia sering bukan sering malah hampir tidak pernah ada guru yang mengeluh. Pujian bahkan kekaguman seorang guru selalu He hua dapatkan.


Namun bersama Chen long, He hua merasa seperti di ejek. Usahanya yang begitu keras tak sekalipun mendapatkan pujian. Bahkan tadi saat pelatihan yang seperti pertarungan Chen long mengatakan.....'boleh juga, tidak mengecewakan'. He hua serasa ingin memukul kepala pria itu namun bagaimanapun seorang wanita tidak boleh kan berlaku kasar pada seorang pria hanya dengan alasan seperti itu apalagi Chen long adalah penyelamat dan guru baru bagi He hua.


...............

__ADS_1


__ADS_2