
Malam itu, Xiao Qin berbincang-bincang dengan Xiao Mei sebelum tidur. Bagaimanapun, sebenarnya mereka bukan adik kakak asli.
“Apakah kau benar-benar ingin menjadi adikku, Xiao Qin?” Tanyanya.
“Aku sangat ingin mempunyai kakak seperti mu, aku dibesarkan oleh kakek ku sejak kecil. Ayah dan ibuku pergi mengelana dan tak pernah kembali. Kakek ku terkadang sibuk dengan pekerjaannya, karena dia adalah ketua sekte. Untung saja saat itu dia tengah pergi ke ibukota, jadi setidaknya aku tahu dia masih hidup. Akan tetapi jika waktu itu aku tidak berjumpa dengan kakak, mungkin saat ini aku tidak punya seseorang untuk bersandar. Aku sangat bersyukur bertemu kakak.” Xiao Qin kemudian bersandar pada Xiao Mei.
Xiao Mei tersenyum, dia mengelus-ngelus rambut Xiao Qin. Keduanya tampak nyaman dengan posisinya masing-masing.
“Xiao Qin, sebenarnya aku sangat penasaran dengan hal ini. Alkemis hebat dari sekte hijau daun yang bisa menciptakan pil tingkat ke sepuluh, apakah itu dirimu?” Xiao Mei tampak yakin, bahwa memang Xiao Qin lah alkemis hebat itu.
“Jika itu benar, apakah kakak akan membawa ku ke sekte bulan sabit?”
Xiao Mei menggeleng, “lagi pula, Lin Fei yang sekarang bukanlah ayahku. Hanya dirimu yang ku miliki untuk saat ini, kenapa aku harus memberikanmu pada mereka?” Xiao Mei memeluk Xiao Qin dengan hangat.
Memiliki keluarga memang sangat nyaman. Daripada dihormati dan disegani, aku lebih memilih keluarga sederhana yang hangat. Mulai saat ini, aku berjanji akan melindungi Xiao Mei dan bahagia bersamanya.
__ADS_1
“Kak, apakah kamu sangat ingin balas dendam pada orang yang merenggut identitas ayahmu?” Tanya Xiao Qin.
“Tentu saja!” Xiao Mei tersenyum, “akan tetapi untuk saat ini, aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan adikku yang sangat ku sayangi.”
Xiao Mei mencubit pipi Xiao Qin, “Aduh!”
“Walaupun kamu memiliki banyak misteri, kamu tetaplah adikku tersayang.” Ucapnya sambil terus memainkan pipi Xiao Qin.
“Apakah kakak yang menyayangi adiknya selalu melakukan hal ini?” Suara Xiao Qin terdengar samar, karena saat ini kedua pipi nya sedang di tarik oleh Xiao Mei.
Xiao Qin tak bisa melawan, pipinya saat ini sudah berwarna ke merah-merahan dan sedikit lebih tembam.
Xiao Mei tertawa kecil setelah puas mempermainkan adiknya, Xiao Qin pun ingin melakukan hal yang sama akan tetapi Xiao Mei menghindar dengan cepat.
“Tidak kena!” Ucapnya.
__ADS_1
XIao Qin mencobanya selama beberapa kali, namun Xiao Mei selalu berhasil mengelak atau menahannya dengan kedua tangan.
Akhirnya Xiao Qin mengambil inisiatif, dia turun dari kasur dan membelakangi Xiao Mei. Xiao Mei merasa bersalah dan berlutut di belakangnya.
Xiao Qin tersenyum dan langsung melompat ke arah kakaknya, dia langsung memainkan pipi kakaknya. Akan tetapi Xiao Mei sudah mengira itu dan mengelitikinya.
Xiao Qin pun berguling saking gelinya, Xiao Mei terus mengelitikinya hingga Xiao Qin lelah tertawa.
Merasa waktu sudah hampir tengah malam, Xiao Qin dan Xiao Mei berhenti membuat kegaduhan. Mereka berdua tidur sambil berpelukan, Xiao Qin tiba-tiba meneteskan air mata.
“Kenapa kamu menangis, apakah aku melakukan sesuatu yang membuatmu sedih?” Tanya Xiao Mei.
Xiao Qin menggeleng, “baru kali ini aku tidur bersama seseorang, sejak dulu aku sudah terbiasa hidup sendiri. Akan tetapi, sepertinya sekarang aku tidak bisa melakukannya.” Xiao Qin menangis tersedu. Dia berusaha membuat suara tangisannya terdengar pelan, sehingga dia tak mengganggu yang lain.
Xiao Mei mendekapnya, setelah beberapa lama Xiao Qin terlelap. Melihat adiknya sudah menjadi lebih tenang, Xiao Mei merasa mengantuk dan tidur.
__ADS_1