
Sesampai di desa, Wanzhou, Xiao Qin dan Xiao mei disegat oleh sekumpulan anak kecil.
“Hei Wanzhou, berikan kayu bakar itu!” Ucap seorang anak kecil yang bernama Liefeng.
Anak itu begitu sombong, padahal baru saja membangkitkan blood line selama beberapa bulan. Kultivasinya masih berada di tingkat dasar spiritual menengah. Xiao Qin menggerutu dalam hatinya.
“Hei Wanzhou, apakah kau tidak mendengarkan perkataan kak Liefeng. Kau kurang ajar!” Namanya Chibi, dia adalah salah satu anak buah Liefeng. Si gendut itu bersedia menjadi anak buah Liefeng karena selalu diberi makanan-makanan yang enak olehnya. Liefeng merupakan anak dari seorang pedagang, semua hasil tani dan ternak di desa ini dijual ke kota oleh keluarganya sebagai perantara. Setiap kali pulang dari kota, ayahnya selalu membawa oleh-oleh untuknya berupa makanan dan beberapa sumber daya kultivasi. Walaupun kualitasnya sangat rendah, akan tetapi itu lebih baik daripada tidak memiliki sedikitpun.
“Wanzhou, ku beri kau kesempatan sekali lagi. Setelah ini aku tidak akan ragu!”
Wanzhou terlihat geram, akan tetapi dia sadar bahwa dirinya tidak mungkin bisa mengalahkan Liefeng. Dia pun menurunkan keranjangnya dan hendak memberikannya pada Liefeng, akan tetapi Xiao Qin menghalaunya.
“Apa yang kau lakukan? Ingin menjadi pahlawan?” Liefeng menunjuk ke arah Xiao Qin. “Hajar dia!” Lanjutnya.
4 orang anak kecil itu terlihat sangat yakin bisa mengalahkan Xiao Qin, lagipula jika Wanzhou mengganggu, mereka yakin Liefeng pasti akan mengurusnya.
“Bocah-bocah ini.” Xiao Qin menggeleng. Dia tak menyangka di desa kecil seperti ini pun ada orang yang semena-mena seperti mereka.
“Sepertinya masa depan desa ini akan suram jika kalian menjadi penerusnya.”
“Jangan banyak omong, Hyaa!” Anak kecil itu berlari dan mengayunkan pukulannya ke arah Xiao Qin, akan tetapi pukulannya meleset. 3 anak kecil lainnya melakukan hal serupa dengan hasil yang tak jauh beda. Mereka melakukannya berulang kali, dan tidak sadar bahwa mereka sedang dipermainkan.
Liefeng yang menyadari hal tersebut menyuruh bawahannya untuk kembali.
“Wanzhou, kali ini kau beruntung!” Liefeng membalikkan badan dan hendak pergi dari tempat tersebut.
“Namamu Liefeng bukan?” Tanya Xiao Qin.
Liefeng balik arah kepadanya, “bukankah urusan kita sudah selesai?”
Xiao Qin menggeleng, “kalau mau urusannya selesai, minta maaf dulu pada Wanzhou. Jika tidak, mari kita bertarung!”
__ADS_1
Chibi dan 3 anak lainnya setuju, karena mereka yakin Liefeng bisa mengalahkan Xiao Qin.
“Hajar saja dia kak!”
“Iya, hajar saja bocah sombong itu kak Liefeng!”
Dengan terpaksa, Liefeng menyetujuinya. Tapi Liefeng merasa ada yang aneh dengan Xiao Qin, dia mengira Xiao Qin juga memiliki kultivasi.
Xiao Qin terlihat santai, sedangkan Liefeng terlihat waspada padanya. Liefeng mendekat secara perlahan, dia ingin menggunakan teknik pukulan besi dan langsung mengakhirinya. Lagipula, teknik itu sangat menguras tenaga dalamnya, saat ini dia hanya bisa melakukannya 3 kali secara beruntun. Setelah itu tubuhnya akan lemas dan tidak memiliki tenaga.
Xiao Qin dengan sengaja memberi Liefeng celah untuk menyerang, Liefeng pun memanfaatkan sebaik mungkin celah yang dia berikan. Dia melepaskan satu pukulan besi, akan tetapi Xiao Qin berhasil mengelak.
Bagaimana mungkin?
Liefeng mundur beberapa langkah
Walaupun berhasil mengelak, seharusnya dia terkena dampak pukulan besi ku. Sial, kultivasi anak ini sebenarnya ditingkat apa?
“Hei kau, kultivasi mu sudah sampai ditingkat mana?” Tanya Liefeng.
Liefeng terlihat tidak percaya dan kemudian tersimpuh, “tidak, tidak mungkin!”
“Kau tidak percaya?” Tanya Qiao Xin.
“Tentu saja, bagaimana mungkin orang biasa bisa menghindari pukulan besi ku? Meskipun mengelak, seharusnya setidaknya kau terpental setengah meter!”
Xiao Qin mendekat dan menyentil kepalanya.
“Kalau sudah tahu teknik itu berbahaya, kenapa kau menggunakannya ke sembarang orang?”
Liefeng terlihat agak menyesal, ia sadar yang ia lakukan itu terlalu berlebihan.
__ADS_1
“Wanzhou, ayo kita pergi!”
Wanzhou pun mengangguk, dan mengangkat keranjangnya kembali.
Ketika mereka bertiga hendak pergi, Liefeng menarik pedang kayunya dan mengajak Xiao Qin berduel.
“Untuk apa aku mengajarimu? Bocah tak berakhlak sepertimu tidak pantas untuk ku ajari.” Sanggah Xiao Qin.
Liefeng tampak kesal, “bilang saja kau tidak bisa bermain pedang! Lagi pula, aku menantangmu untuk berduel, bukan untuk diajari.”
“Kak Liefeng benar, mana mungkin dia berniat diajari oleh dirimu!”
Xiao Qin pun menghampiri Wanzhou, “bolehkah aku meminjam satu rantingmu?”
“Eh, tentu saja. Silakan ambil sesuka mu!”
Setelah mengambil sebuah ranting, Xiao Qin melesat dengan cepat ke arah Liefeng. Dalam satu tarikan nafas, pedang kayu milik Liefeng terbelah menjadi beberapa bagian. Semua orang yang melihat peristiwa tersebut terkejut dengan kemampuan berpedang Xiao Qin.
Tangan Liefeng gemetar, beberapa saat dia memandangi pedang kayunya yang hancur.
“Sudah kubilang, kau tidak pantas!” Jelas Xiao Qin.
Xiao Qin kemudian melemparkan ranting yang ia pakai ke dalam keranjang, dan mengajak Wanzhou untuk segera pergi.
Ditengah jalan, Xiao Mei berbisik pada Xiao Qin.
“Bukankah tadi sedikit berlebihan?”
Xiao Qin menggeleng, “jika dia ingin menjadi seorang kultivator, setidaknya dia harus tahu bahwa kekuatan itu bukan digunakan untuk bermain-main dan menindas orang, dia harus tahu bagaimana rasanya diremehkan dan direndahkan.”
“Bagaimana jika dia semakin menjadi-jadi?” Xiao Mei khawatir.
__ADS_1
“Jika itu terjadi, maka dia hanya akan menjadi kultivator rendahan. Menindas yang lebih lemah hanya akan membuatmu lupa untuk melihat ke atas.” Jelas Xiao Qin.
Walaupun dirinya sombong, sebenarnya dia hanyalah anak manja yang ingin diperhatikan. Keinginannya untuk menjadi seorang pendekar pedang terlihat jelas. Saat dia menatap pedang kayu yang hancur itu, tidak ada amarah ataupun benci melainkan rasa penyesalan karena menjadi lemah. Suatu hari dia pasti akan menjadi pendekar pedang yang hebat.