
Penjaga tadi dan orang-orang yang bersamanya segera pergi dari restoran Xiefeng sebelum anak pemilik restoran tersebut marah lagi. Koki yang berniat mengambil pisaunya kembali pun merasa ragu, meski yang memegang pisau itu saat ini adalah Xiao Qin.
Xiao Qin kemudian mengembalikan pisau tersebut melihat kegelisahan si koki, “bawakan aku masakan terbaikmu.” Ucapnya sambil tersenyum.
Koki itu pun mengangguk dan segera bergegas ke dapur, sementara Xiao Qin kembali ke tempat duduknya.
“Aku juga mau makan, pesankan aku ikan tuna dan saus tiram.” Gadis kecil tadi ikut duduk di meja yang sama dengan Xiao Qin.
Setelah pelayan itu pergi, si gadis kecil mulai mengajak Xiao Qin berbincang-bincang.
“Hei, siapa namamu?”
“Xiao Qin.” Timpalnya singkat.
“Hmm, baiklah. Namaku Ning Xia, mulai saat ini kau adalah temanku.” Gadis kecil itu mengaku secara sepihak.
__ADS_1
Xiao Qin meliriknya sedikit lalu memalingkan wajahnya, dia sengaja melakukan itu untuk memancing emosi Ning Xia.
“Aku adalah putri dari pemilik restoran Xiefeng, banyak orang yang ingin berteman denganku namun tidak memiliki kesempatan karena mereka semua tidak layak. Seharusnya kamu berterimakasih padaku karena menjadikanmu temanku.” Ning Xia menatap Xiao Qin tajam.
“Jika sikapmu terus seperti itu, kau akan sangat kesulitan mendapat teman.” Timpal Xiao Qin sambil memandang langit-langit.
“Hmmph, kau juga seperti itu. Aku yakin kamu juga tidak memiliki banyak teman.” Ning Xia memalingkan wajahnya.
“Setidaknya aku punya 2, bagaimana denganmu?”
“Aku..., aku..., hanya ada satu.” Ucap Ning Xia dengan nada rendah.
“Baiklah, sudah kuputuskan.” Ucap Xiao Qin tiba-tiba sambil tersenyum.
“Apa? Kau mau menjadi temanku?” Ning Xia tampak bersemangat.
__ADS_1
Xiao Qin mengangguk, “asalkan kau membiarkanku untuk makan di sini setiap hari. Tenang saja, aku memiliki uang untuk membayarnya.” Ujarnya.
“Baiklah, aku setuju. Lagi pula aku akan dimarahi ayahku jika memberikan makan gratis meski pada temanku.” Ning Xia tersenyum begitu manis, membuat Xiao Qin betah melihatnya.
Sambil menunggu makanan mereka datang, Ning Xia mulai menceritakan kejadian-kejadian lucunya yang sering kali berbuat jahil bahkan pada ayahnya sendiri.
“Dan apakah kau tahu? Setelah aku ketahuan memasukkan garam ke dalam teh yang diminum tamu penting itu, ayahku memotong uang jajanku selama sebulan. Padahal aku sangat suka beli jajanan, jadi terpaksa harus mencuri makanan dari dapur dan menukarnya dengan jajanan yang aku inginkan.” Ungkap Ning Xia sambil berseri.
Xiao Qin mendengarkan cerita Ning Xia sambil sesekali tertawa kecil, dia tidak banyak berbicara karena lebih suka mendengarkan ceritanya Ning Xia yang bagi Xiao Qin begitu menyenangkan.
Sepertinya aku juga sesekali harus berbuat nakal sepertinya selagi aku masih kecil.
“Bagaimana denganmu Xiao Qin? Apakah kau pernah melakukan hal yang serupa denganku?” Tanya Ning Xia.
Xiao Qin tersenyum, “lebih baik kamu tidak perlu mengetahuinya, lagi pula tidak banyak hal yang menarik. Dibandingkan ceritamu, masa laluku begitu membosankan.”
__ADS_1
“Emm, tapi aku penasaran. Apakah kau benar-benar tidak mau menceritakannya Xiao Qin?” Ning Xia memelas.
“Suatu hari nanti, jika sudah tepat saatnya ya?” Xiao Qin berusaha menutupi rasa sedihnya, dengkinya, dan amarahnya terhadap takdir yang menimpanya selama ini. Namun hal tersebut semuanya terbaca oleh Ning Xia, karena dia pun merasakan hal yang demikian.