
Di tengah ketegangan itu, Xiao Qin melemparkan token emas ke wajah pria itu. Awalnya dia sangat kesal, akan tetapi setelah melihat token emas itu dia bersujud pada Xiao Qin.
“Tolong ampuni saya tuan, saya akan menebus dosa-dosa saya.”
Tabib Luan dan yang lainnya terkejut melihat hal tersebut, bahkan pengunjung lainnya yang meremehkan Xiao Qin memalingkan wajahnya dan tak berani bertatapan dengannya.
“Kontribusi apa yang sudah kau berikan pada asosiasi?” Xiao Qin menjambak rambut pria itu hingga mereka saling bertatapan. Wajah pria itu sangat pucat dan berusaha memalingkan wajahnya.
“Apa kamu tidak punya mulut? Jawab!” tegas Xiao Qin dengan nada keras.
Pria itu menggeleng, “ti-tidak ada.” Jawabnya terbata.
Xiao Qin menampar pria itu hingga hidungnya berdarah, “jika kamu sudah merasa bisa menyombongkan diri, lebih baik kamu pergi ke tempat yang bisa membuatmu berkontribusi.”
__ADS_1
“Maafkan aku tuan, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi!” Pria itu semakin gemetar. Orang-orang lain tak berani melihatnya, bahkan pelayan yang ingin mengantarkan makanan terhenti.
“Untuk saat ini kamu akan ku ampuni, akan tetapi aku akan membuat laporan tentang tingkah laku mu pada ketua asosiasi.”
Pria itu mengangguk, dia tak memiliki hak untuk bernegosiasi supaya tidak melaporkannya. Baginya, masih diperbolehkan untuk hidup sudah lebih baik.
Setelah pria itu pergi, seorang pelayan datang mengantarkan makanan.
“Saatnya makan siang!” Xiao Qin langsung melahap makanan di depannya, seolah-olah hal barusan tak pernah terjadi.
“Setelah belanja beberapa pakaian, aku ingin pergi ke tempat yang sunyi. Apakah nona tahu beberapa tempat seperti itu?”
“Apa yang ingin tuan Xiao lakukan disana?” Tabib Luan heran.
__ADS_1
Xiao Mei dan Wanzhou pun tak tahu apa yang direncanakan oleh Xiao Qin.
“Aku ingin mencoba sesuatu, dan tak ingin orang lain terganggu karena kebisinganku.” Jelasnya.
Tabib Luan tidak bisa memikirkan satu tempat pun, kota ini sangat ramai dan padat penduduk.
“Kalau tidak ada, tak apa-apa. Aku mempunyai cara meredam suara bisingnya.” Xiao Qin melirik ke arah Xiao Mei, tak tahu apa yang dipikirkannya tapi dia merasa hal buruk akan terjadi.
Wanzhou masih makan dengan lahap, seumur hidupnya dia tak pernah merasakan hidangan seenak ini.
Selesai makan, sesuai dengan janji nya dia membelikan Xiao Mei pakaian baru. Dia juga membelikan beberapa pakaian berkualitas untuk Wanzhou. Mereka menghabiskan waktu lebih lama dari yang Xiao Qin duga, Xiao Mei hampir mencoba seluruh pakaian wanita yang ada disana.
Saking bosannya, dia pergi keluar toko pakaian itu untuk melihat-lihat isi kota. Sebelum ia pergi, Xiao Qin memberikan seribu keping emas pada Xiao Mei untuk membayar pakaiannya.
__ADS_1
Di luar, kondisi kota terlihat sangat ramai. Berbagai toko terlihat di sepanjang jalan, tak ada satu toko pun yang terlihat sepi. Kereta kuda berisi muatan berlalu lalang tanpa henti, bahkan ada beberapa orang yang hampir tertabrak karena kurang berhati-hati
Xiao Qin pergi mengelilingi kota, dan ia menemukan tempat yang bernama serikat pemburu. Orang-orang di sekitar sana terlihat sangar dan menakutkan, meskipun begitu Xiao Qin pergi ke tempat itu dengan begitu tenang.