
Instruktur Wei Tong menghampiri Wanzhou, dia mengundang Wanzhou untuk menjadi bagian dari paviliun blood line.
“Aku akan memberi mu sumber daya dan fasilitas terbaik yang kami miliki.” Instruktur Wei Tong mengulurkan tangan pada Wanzhou. Dengan hormat, Wanzhou menolak undangan dari instruktur Wei Tong.
“Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan menjadi tameng dan pedangnya Xiao Qin. Jadi, aku tidak bisa menerima undangan ini.” Wanzhou membungkuk hormat.
“Siapa Xiao Qin ini?” Tanya instruktur Wei Tong penasaran.
Wanzhou melirik ke arah Xiao Qin, dia tersenyum kepadanya.
Instruktur Wei Tong menghela nafas, “baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksamu untuk bergabung dengan paviliun blood line. Akan tetapi, tolong terima pemberianku ini!” Instruktur Wei Tong memberikan sebuah token dengan logo naga berwarna hijau.
Wanzhou menerima token tersebut dengan senang hati, “terimakasih tuan!”
__ADS_1
“Tidak perlu memanggilku tuan, panggil saja aku Wei Tong.” Jelasnya.
Wanzhou mengangguk, sebenarnya ia agak keberatan jika disuruh memanggilnya secara langsung seperti itu.
Xiao Qin merasa kurang enak jika tinggal di paviliun alkemis, dia menyewa sebuah penginapan tingkat menengah di kota itu. Jaraknya pun tak jauh dari paviliun alkemis, jadi dia bisa ke sana kapan saja.
“Kalau begitu, jika butuh sesuatu jangan ragu untuk datang ke paviliun alkemis.” Tabib Luan meninggalkan penginapan tersebut karena hari mulai sore.
Xiao Qin hanya memesan satu kamar. Walaupun begitu, kasur yang tersedia disana ada 3. Xiao Mei langsung berbaring di salah satu kasur, dia sangat kelelahan hari ini.
“Tidak apa-apa, jika dia tahu pun takkan menjadi masalah. Kamu takkan memberi tahu hal ini pada orang lain kan?” Tanya Xiao Qin.
Wanzhou mengangguk paham, sebenarnya ia selalu memikirkan hal itu sejak malam kemarin. Lautan jiwa merupakan pondasi seorang kultivator, tanpa itu seseorang takkan bisa berkultivasi maupun mempertahankan kultivasinya. Jika orang-orang tahu bahwa lautan jiwa bisa diperbaiki, para kultivator dari seluruh penjuru dunia akan memburu Xiao Qin demi mendapatkan cara memperbaiki lautan jiwa tersebut.
__ADS_1
“Xiao Qin, aku ingin memelukmu!” Xiao Mei manja. Sebelumnya ia memang selalu begini, tetapi kali ini ada Wanzhou yang melihatnya.
“Lebih baik aku pindah ke kamar lain, aku tidak ingin mengganggu kalian.” Jelasnya. Dia merasa gugup satu kamar dengan adik kakak yang terlihat mesra itu. “Aku tidak bermaksud untuk menambah biaya penginapan ini, hanya saja....” Wanzhou ragu meneruskan kata-katanya, ia tak ingin ucapannya malah menyinggung Xiao Qin dan Xiao Mei.
“Baiklah, ini ambil!” Xiao Qin memberikan sebuah koin emas, “sisanya bisa kamu pakai jika ada keperluan mendadak.”
Wanzhou berterimakasih dan pergi dari ruangan tersebut, dia menghela nafas lega sambil berjalan menuju lantai terbawah. Saat dia memesan sebuah ruangan, seorang gadis berambut putih dengan mata merah terang datang dan memesan sebuah kamar. Karena kamar kosong di penginapan tersebut hanya tersisa satu, Wanzhou mengalah dan memberikan kamar itu pada gadis usia belasan tahun tersebut.
“Hei, kamu mau pergi kemana?” Tanya gadis tersebut.
“Aku akan mencari penginapan lain di dekat sini.” Wanzhou melanjutkan langkah kakinya.
Gadis itu melarang Wanzhou untuk pergi, “sekarang kondisi di kota Fu sangat berbahaya, tidak baik jika keliaran di malam hari seperti ini. Bagaimana kalau kita berbagi kamar saja?”
__ADS_1
Wanzhou ingin menolak, akan tetapi ucapan gadis itu tak sepenuhnya salah. Kemarin, dia mendengar hal tersebut dari Guo Zi dan di konfirmasi oleh Xiao Qin yang berhadapan langsung dengan siluman tersebut.