Kultivator Jalan Surgawi

Kultivator Jalan Surgawi
CH-20 Teknik Pedang Hujan


__ADS_3

Hari berikutnya, Xiao Qin mengajarkan ilmu berpedang dasar pada Liefeng dan Wanzhou. Xiao Mei juga meminta Xiao Qin untuk mengajarinya, dengan senang hati Xiao Qin memenuhi permintaannya.


Walaupun terlihat sangat sederhana, tapi pelatihan yang Xiao Qin buat tidak semudah yang terlihat. Semua gerakannya harus detail, penggunaan tenaga yang pas, dan refleks yang tinggi. Xiao Qin mengayunkan pedangnya secara acak ke arah mereka bertiga. Walaupun merasa kesulitan, mereka bertiga berhasil menghindari atau menangkis serangan dari Xiao Qin.


Kemudian Xiao Qin menyuruh ketiganya menyerang secara bersamaan, namun Liefeng dan Wanzhou merasa berat akan hal itu. Xiao Mei bergerak selangkah lebih cepat, melawan Xiao Qin dengan segenap kekuatannya. Dengan mudahnya Xiao Qin menghindari dan menangkis serangan Xiao Mei, melihat itu Liefeng dan Wanzhou ikut menyerangnya dengan segenap kekuatannya.


Walaupun gerakannya sangat kasar, serangan Wanzhou lebih kuat dari Liefeng dan Xiao Mei. Xiao Mei masih belum pulih sepenuhnya, sehingga dia tak bisa menunjukkan performa terbaiknya. Disisi lain, gerakan pedang Liefeng cukup halus dan rapi. Meskipun mereka bertiga berusaha dengan sekuat tenaga, Xiao Qin bisa mengimbangi mereka dengan kekuatan minimum.

__ADS_1


Wanzhou meningkatkan kekuatannya lagi, setiap gerakannya menjadi 2 kali lebih kuat dan cepat. Liefeng dan Xiao Mei sudah hampir kehabisan tenaga, jadi gerakan yang dilakukan oleh Wanzhou menjadi sia-sia.


Pedang Wanzhou terpental, Liefeng dan Xiao Mei terduduk di tanah. Walaupun Xiao Qin hanya menggunakan 20% tenaga nya, teknik berpedang Xiao Qin jauh lebih halus dan teratur. Dengan kekuatan seminimum mungkin, Xiao Qin bisa mengeluarkan kekuatan yang lebih. Mengandalkan gaya gravitasi, prinsip otot dan sendi, bahkan gerakannya sangat efektif dengan penggunaan yang tepat. Tidak melawan kekuatan musuh demi mendapatkan kekuatan gratis dari lawannya, hentakan yang dibuat oleh lawannya dimanfaatkan untuk menghempaskan lawan di lain arah.


Xiao Mei dan Liefeng kembali berdiri, Wanzhou pun mengambil kembali pedangnya yang jatuh.


Xiao Qin kemudian memperagakan gerakan pertamanya, Xiao Mei dan yang lainnya memperhatikan dengan seksama. Xiao Qin mengayunkan pedangnya sambil menutup mata, merasakan semua hal yang ada disekitarnya dengan mata hati. Setiap gerakan yang dilakukannya sebenarnya bukan untuk menyerang maupun bertahan, melainkan merasakan dan mendeteksi semua hal di sekitar. Baik itu daun dari pohon yang berjatuhan, kerikil yang ada di jalanan, dan bahkan setetes air keringat yang jatuh dari kulit.

__ADS_1


Xiao Qin membuka mata nya dan menghela nafas. Walaupun sebentar, teknik ini memerlukan konsentrasi yang sangat tinggi.


Liefeng kemudian mencoba gerakan yang sama dengan Xiao Qin. Ayunan pedangnya tak jauh berbeda dengan Xiao Qin, tetapi dia merasa hal itu jauh berbeda daripada yang Xiao Qin. Wanzhou dan Xiao Mei juga tidak tinggal diam, mereka juga ikut mempraktekan gerakan yang Xiao Qin berikan.


Ketiga nya tampak berusaha sekuat tenaga mendalami gerakan pertama itu, namun ketiga nya tampak tidak memiliki kemajuan sama sekali.


Sepertinya terlalu dini bagi mereka untuk mempelajari teknik ini, tapi setidaknya mereka takkan terjebak oleh para pembunuh dibalik bayangan jika berhasil mempelajari setidaknya satu gerakan.

__ADS_1


__ADS_2