
Xiao Mei begitu senang saat menerima formula dari Xiao Qin, akan tetapi entah mengapa dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Xiao Mei tidak berani berterus terang kepada Xiao Qin, dia pikir jika Xiao Qin menyembunyikannya berarti memang lebih baik untuk tidak mengetahuinya.
Saat malam hari tiba, Xiao Qin mengajak Xiao Mei dan Wanzhou untuk makan ke sebuah restoran mewah. Dia meminta agar Xiao Mei dan Wanzhou memesan apapun yang mereka mau.
Xiao Mei semakin terheran-heran dengan tingkah laku Xiao Qin, dia pun sudah tidak tahan lagi memendam rasa gelisahnya.
“Xiao Qin, katakan padaku! Apa yang telah terjadi?” Tanya Xiao Mei.
Xiao Qin pun tersontak, dia sebenarnya tidak mau jika harus berpisah dengan kakaknya.
“Aku–“ Ucap Xiao Qin pelan, dia masih belum sanggup untuk mengatakan bahwa besok mereka harus berpisah.
__ADS_1
Xiao Mei kemudian memeluknya, “ada apa? Tolong katakan pada kakak!” Air mata mengalir dan membasahi pipi Xiao Mei.
Xiao Qin menghela nafas, dia sadar bahwa ia harus memutuskan hal ini demi kebaikan mereka di masa mendatang.
Secara diam-diam, Wanzhou memesan banyak makanan pada pelayan. Dia ingin memecahkan keheningan yang ada dengan caranya sendiri.
Xiao Qin mulai menjelaskan pada Xiao Mei bahwa mereka harus berpisah mulai besok, dia bahkan mengeluarkan peta yang diberikan Xiang Xiaolian kepadanya.
“Aku ingin pergi ke guild refiner Humminaria untuk menciptakan sesuatu, dan hal itu memerlukan waktu yang cukup lama. Aku tidak ingin perkembangan kakak dan Wanzhou terhambat, jadi aku ingin kalian berdua menjadi murid di sekte Yin Yang selagi menungguku. Oleh karena itu, kita tidak bisa bertemu untuk sementara waktu.”
Wanzhou yang mendengarkan penjelasan Xiao Qin pun hanya bisa menerima keputusannya, ia tidak membantahnya karena dirinya berpikir akan segera dipertemukan lagi.
Lagi pula aku masih terlalu lemah saat ini, aku harus menjadi lebih kuat saat Xiao Qin selesai dengan urusannya di guild refiner Humminaria.
__ADS_1
Tak lama berlalu, segunung pesanan telah tiba. Xiao Qin dan Xiao Mei melotot ke arah Wanzhou dan membuatnya salah tingkah, Wanzhou pun memalingkan wajahnya sambil bersiul meski suaranya tidak keluar.
Xiao Qin dan Xiao Mei tak kuat menahan tawanya, rasa tegang yang mereka alami pun secara perlahan menghilang.
“Yang memesan harus bertanggung jawab menghabiskannya.” Ujar Xiao Qin.
“Eh!?” Timpal Wanzhou spontan, lagi pula tadi ia tidak pernah berpikir makanan yang ia pesan akan sebanyak ini.
Xiao Mei mulai melihat-lihat makanan yang dipesan oleh Wanzhou, “semuanya terlihat sangat enak.”
“Iya, tapi aku tidak tahu cara menghabiskannya.” Lanjut Xiao Qin.
Mendengar hal itu, Wanzhou tampak semakin malu lagi dan mulai memakan pesanannya dengan lahap. Wanzhou berharap dirinya bisa menghabiskan semua pesanan itu, supaya Xiao Qin tak lagi mengolok-ngoloknya.
__ADS_1
Alhasil, pesanan segunung itu tak mampu dihabiskan Wanzhou.
“Sudah, sudah, jangan dipaksakan lagi! Tidak perlu dihabiskan, kita bisa memberikannya pada orang lain.” Xiao Qin tidak mau Wanzhou kehilangan nyawanya karena makan terlalu banyak, apalagi saat ini Wanzhou sudah terlihat mual-mual.