
Di dunia dewa...
Setelah di hari Lin Tian menghilang sekte seni beladiri terlihat diam, dan tidak ada sedikitpun aktifitas disana.
Tidak hanya di sekte seni beladiri saja tapi di sekte, kerajaan dan suku pun hal serupa juga terjadi.
Dunia dewa sekarang di penuhi oleh kesedihan, bahkan langit pun juga terlihat sedih karena di seluruh dunia dewa awan gelap dengn hujan deras mengguyur seluruh wilayah setiap dunia dewa.
Di sekte langit..
Lin qi'er, Lin Hou dan Lin Jia Li yang berada di rumah mereka terlihat hampa dan seperti tak bernyawa, mereka memandang ke sebelah kursi Lin qi'er dengan mata penuh air mata.
"Ayah, ibu bagaimana? aku hebat bukan?" ucap seorang pria tampan dalam halusinasi mereka.
"Hahaha...baiklah kakak akan menemani mu besok bermain!" ucap pria itu dalam halusinasi Lin Jia Li.
"Kakak!" ucap Lin Jia Li dengan suara serak.
Di puncak sekte langit ada Bing Yang dan istrinya memandang ke arah istana langit dengan mata yang sudah merah.
"Ayah bangsat! aku akan memukulmu!"
"Sialan! orang tua kurang ajar apa kamu fikir aku takut padamu? ayo bertarung dengan ku!"
kenangan tentang Bing Zhao masih jelas di benak Bing Yang, tak sadar air mata jatuh membasahi wajah nya dan dalam sehari dia sudah terlihat lebih tua dari sebelumnya.
"Hahaha... ayah bangsat kamu masih hidup?" ucap Bing Zhao saat dia muncul di hari itu.
Bing Yang tak percaya kalau kata-kata itu adalah kata terakhir yang di dengar dari anak dan keponakannya, dia masih ingat dengan jelas wajah tersenyum dari ke empat pemuda yang berani mati melindungi mereka saat itu.
"Anakku, keponakan-keponakanku, kalian yakinlah harapan kalian pasti akan ku wujudkan" ucap Bing Yang dengan wajah tegas tapi jelas hatinya tak setegas wajahnya.
Rasa sakit kehilangan orang-orang yang dia cintai, dan rasa sedih karena di lindungi oleh anak serta keponakan sendiri membuat dia hampir tidak bisa bertahan.
__ADS_1
"Apakah Zhao'er dan an'er benar-benar?" wajah ibu Bing Zhao terlihat sedih sambil memegang erat tangan Bing Yang.
"Aku tidak tahu, tapi...aku harap jika mereka masih hidup." ucap Bing Yang dengan wajah berat.
Mendengar hal tersebut baik istrinya pun menggigit lidahnya karena kesedihan yang ia rasakan, tapi dia mencoba untuk tegar karena dia dan Bing Yang adalah panutan dari semua orang di sekte langit.
"Huf.... Dengarkan aku untuk seluruh murid sekte langit! Hari ini sampai satu bulan adalah hari kesedihan untuk sekte kita, tidak untuk seluruh dunia dewa! ingat! mereka yang melindungi kita mempunyai harapan yang tinggi untuk kita, maka jangan kecewakan harapan mereka!" ucap Bing Yang dengan suara tegas dan agak serat.
Semua murid sekte langit dan para tetua disana mendengar suara Bing Yang yang terdengar sangat serak itu, jelas kalau dia berusaha untuk tegar setelah kehilangan anak dan keponakannya.
"Kami Akan menjadi harapan!" teriak semua murid sekte langit dengan suara serak.
"Kami adalah harapan!" teriak mereka lagi.
"Kami adalah Harapan!"
Teriakan itu menggema keseluruh tempat sekte langit, bahkan lima paviliun yang sekarang sudah lengkap dengan paviliun assasin di pimpin oleh anak dari dewa pembunuh bernama Jing Lao.
Dia bergabung saat setelah mendengar informasi dari Hei An dan langsung menghadap Lin Tian mengucapkan kesetiannya kepada Lin Tian.
Bai Ying terlihat sangat sedih akan kepergian Bai kecil, hatinya sangat sakit padahal baik dia pun masih belum lama bersama Bai kecil ayahnya sendiri tapi sekarang demi dunia ini dan dirinya ayah yang selama ini baru dia temui telah pergi lagi meninggalkan dia.
"Kamu pembohong!" ucap Bai Ying dengan air mata di wajahnya memandang langit.
Hei An, Zao Lu, dan dua lainnya tak dapat berkata apapun untuk menghibur Bai Ying karena mereka tahu betapa beratnya kehilangan ayah yang Baru saja dia temui.
"Ayah! kamu penipu ibu pasti tidak akan memaafkan mu!" ucap Bai Ying tanpa melihat ke empat nya berbalik dan pergi dari sana dengan mata merah dan air mata membasahi wajah nya.
"Huf.. Hei An, bukan kah kamu seharus nya menghibur dia?" tanya Zao Lu.
"Apa kau bercanda kenapa aku harus.." belum dia selesai menjawab dia melihat ketiga teman nya itu memandang dia dengan tatapan aneh.
Dua pun terdiam, memang bukan berarti dia tidak memiliki perasaan terhadap Bai Ying, tapi masalahnya adalah ayah Bai Ying yang ternyata adalah kaisar harimau.
__ADS_1
Bahkan jika itu ayah dia yang meminta Bai Ying untuk menikah dengan dirinya pasti kaisar harimau menghancurkan wajah nya sampai tidak berbentuk lagi.
"Sudahlah! kami tahu bagaimana perasaan mu dengan dia, jadi kejar lah laki-laki harus bisa menghibur wanita nya di saat seperti ini meski jika wanita itu belum tentu menyukai mu!" ucap Jing Lao menepuk pundak Hei An.
"Kalian!!" wajah Hei An memerah karena malu, tentu itu karena dia tidak dapat menjawab perkataan dari ketiganya.
"Kamu pergilah, jika kamu tidak dapat menghibur Bai Ying jangan anggap kami saudaramu" ucap Yue Liandao dengan wajah tegas kepada Hei An.
Hei An terdiam dia memandang ke tiga orang yang menganggap dia saudara mereka itu, untuk pertama kalinya dia merasakan perasaan manis ini dan dia mengingat kata-kata Lin Tian dulu.
"Kamu bukan bawahanku, tapi kamu saudaraku ingat!"
Tak lama dia tersenyum tapi ada duka di hatinya saat memikirkan Lin Tian,. dia benar-benar berharap kalau Lin Tian masih hidup agar dia bisa memenuhi janjinya kepada Lin Tian.
"Jangan fikirkan kaisar, aku yakin dia masih hidup!" ucap Zao Lu dengan serius.
Yang lain juga mengangguk, mereka tidak akan percaya kalau kaisar mereka akan mati begitu mudah nya dan itu adalah keyakinan mereka sendiri terhadap Lin Tian.
"Aku pergi dulu, jika aku berhasil aku akan mentraktir kalian nanti!" ucap Hei An mengangguk lalu terbang menyusul Bai Ying.
Melihat itu wajah ke tiganya terlihat senang, karena mereka tahu kalau Hei An menyukai Bai Ying dan mereka sebagai teman hanya bisa memberi dukungan kepada dia.
"Apakah dia akan berhasil?" tanya Zao Lu kepada Yue Liandao.
"Lima puluh lima puluh, kalau jika kaisar harimau ada maka Tiga puluh tujuh puluh" ucap Yue Liandao.
"Kamu benar, dan aku harap kaisar baik-baik saja jika tidak ke depannya kita akan menjadi sulit." ucap Jing Lao.
Di sekte seni beladiri...
Sejak Lin Tian pergi Mu Xuanyin belum bangun dari pingsan nya, dia selalu mengigau dan memanggil nama Lin Tian dalam lamunannya yang membuat semua orang disana sangat khawatir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...----------------...
...****************...