Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 100 Lara Cintaku


__ADS_3

" Aku bisa jelaskan." Ucapnya terbata, kak Zean meraih kedua tanganku namun segera kutepis. Mataku mulai memanas dan buliran bening menetes begitu saja dari pelupuk mataku.


Dadaku kembang kempis seirama dengan nafasku yang tak beraturan, aku memukul dadaku yang penuh sesak, mataku menatap nanar pria yang awalnya begitu ku percaya. "Sejak kapan kalian bersama lagi?"Tanyaku dengan suara serak.


"Apa maksudmu, siapa yang bersama lagi, Natasha dan aku hanya berteman sekarang, kami sedang mengerjakan Tesis bersama." Terang kak Zean yang malah membuatku semakin marah.


" Jadi kalian kuliah bersama." Aku menunjuk kak Zean dan kak Natasha bergantian. "Kalian berangkat bersama waktu itu kan, aku bertemu kak Natasha dibandara saat aku mengantar kak Zean, jadi kalian sudah merencanakannya dari awal?"Imbuhku, aku tersenyum getir, air mataku tak berhenti mengalir, aku merasa seperti orang bodoh dihadapan mereka.


" Kamu salah faham, aku baru tau kalau Natasha kuliah disini setelah kita nggak sengaja bertemu dikampus." Kak Zean berhenti sejenak, dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Percaya padaku, aku hanya mencintai kamu, tidak ada yang lain." Ucapnya penuh penekanan.


Aku kembali menepis tangan kak Zean, sungguh aku ingin percaya dengannya, namun apa yang kulihat didepan mataku membuatku ragu dan mulai kehilangan kepercayaan kepadanya.


" Apa pantas seorang teman bermesraan begitu, dia menciummu dan kamu bahkan tidak berusaha untuk menolaknya, apa kamu menikmatinya?"


Kak Zean mengusap wajahnya kasar. "Tapi aku tidak membalasnya, aku sedang fokus dengan Tesisku, ku mohon mengertilah, disini mencium teman adalah hal yang wajar."


Aku tersenyum sinis. "Tapi aku tidak tinggal disini, ditempatku tinggal yang kalian lakukan sudah lebih dari sekedar teman, aku tau aku tidak berhak melarang pertemanan kalian, tapi kali ini kamu sudah keterlaluan dan aku tidak bisa mempercayaimu lagi. Kamu bilang mencintaiku dan ingin selamanya bersamaku, tapi nyatanya kamu masih belum bisa lepas dari bayang-bayang masalalumu." Aku menjeda kalimatku, aku bersusah payah menelan salivaku, mencoba menimbang kembali kalimat yang akan aku ucapkan. "Mari putus."


Kak Zean mematung, matanya mulai memerah. "Apa yang kamu katakan, aku tidak mau. Aku mengaku salah, aku minta maaf, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku."


"Kamu yang sudah mendorongku untuk pergi, apa dimata kalian aku begitu bodoh, berulang kali kalian melakukan hal yang menyakitiku dan aku dengan mudahnya melupakan itu, tapi untuk kali ini, aku menyerah, aku lelah menjadi orang bodoh yang selalu kalian bodohi." Aku mulai terisak, namun aku harus menyelesaikan ini secepatnya. "Tetap kejar mimpimu meski cintaku tak lagi bersamamu, aku pergi." Aku berbalik dan meninggalkan kak Zean yang masih terpaku, dengan setengah berlari aku meninggalkan rumah kak Zean, aku mengusap air mata diwajahku, namun percumah saja, aku tak bisa membendungnya, mereka terus saja mengalir membasahi wajahku.


Aku terus melangkah tanpa tau tujuan, rasa sakit dihatiku membuatku lupa bahwa aku tengah berada di negera orang, tempat asing yang tidak kukenali.


Aku menghentikan langkahku dan mengamati bunga-bunga liar yang tengah bermekaran disepanjang jalan, mereka begitu indah dan berwarna-warni. Harusnya hari ini hatiku bermekaran seperti bunga-bunga musim semi itu, tapi harapan hanya tinggal harapan, nyatanya hatiku berguguran dimusim semi yang indah ini.


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, patah dihatiku sudah merusak akal sehatku, aku tengah berdiri ditempat yang tidak aku kenali, kepalaku celingukan mencoba mengingat dari mana arah datangnya aku hingga sampai di tempat ini. "Dasar bodoh, nyasar dimana aku." Gumamku lirih.


" Ada yang bisa aku bantu." Seru sebuah suara dibelakangku, aku segera berbalik dan merasa bersukur karena ada orang Indonesia yang menemukanku.


" Indonesia?" Tanya seorang pemuda yang kini berdiri dihadapanku.

__ADS_1


Aku menggangguk dengan cepat. " Ya, anda dari Indonesia." Tanyaku balik.


" Ya." Jawabnya singkat. " Apa kamu nyasar?" Tebaknya tepat sasaran. "Kamu mau kemana, mungkin aku bisa membantumu." Imbuhnya dengan senyum hangat diwajah tampannya, wajah khas Indonesia,


"Aku mau kebandara, tapi dari tadi aku tidak menemukan taxi disekitar sini."


"Ah, disini memang jarang ada taxi yang lewat. Kemana tujuanmu?" Tanyanya ramah.


"Aku mau pulang ke Baltimore, kakakku tinggal disana." Ujarku.


" Oh ya, aku juga tinggal disana, dimana kakakmu tinggal?"


" Tidak jauh dari Johns Hopkins University."


Pemuda itu tersenyum. "Aku juga tinggal di sekitar sana, apa kakakmu kuliah di Johns Hopkins?"


"Ya."


"Anda juga kuliah disana?"Tanyaku dengan sopan.


Pemuda yang tingginya hampir sama dengan kak Ega itu mengangguk. "Aku sedang belajar spesialis, baru tahun kedua. Kamu sudah kuliah?" Tanyanya lagi.


"Baru akan mulai tahun ini."


"Jurusan apa yang kamu ambil."


"Kedokteran."


Pemuda itu mengangguk-anggukan kepalanya, lalu dia menyodorkan tangannya kearahku. "Ilham, senang bertemu denganmu, siapa namamu?"


"Aku meraih tangan pemuda bernama Ilham itu seraya tersenyum. "Indhi kak. Senang bertemu dengan kak Ilham."

__ADS_1


"Ayo kita kebandara sekarang?"Ajaknya, lalu dia berjalan mendahuluiku, aku segera berlari mengejar langkah kaki kak Ilham yang begitu panjang.


***


Selama perjalanan 5jam dipesawat kak Ilham banyak bercerita tentang keluarganya yang tinggal di Indonesia, katanya dia memiliki adik perempuan yang juga seumuran denganku, dia begitu ramah dan baik hati sehingga aku merasa nyaman dan aman ketika dia menawarkan diri untuk menolongku.


Kami tiba di Baltimore Airport sekitar jam 10 malam waktu setempat, dengan baik hati kak Ilham juga akan mengantarku sampai apartemen kak Zean.


"Ada urusan apa di Santa Monica?" Tanya kak Ilham saat kami sudah berada didalam taxi.


" Menemui seseorang." Jawabku sedikit ragu.


" Pacar?"Tebaknya lagi.


Aku menghela nafas dalam dan membuangnya dengan kasar. "Lebih tepatnya mantan."


"Baru putus?"Kak Ilham semakin penasaran.


Aku memutuskan untuk bercerita kepada pemuda yang baru hari ini aku temui, aku fikir tak masalah berbagi dengannya, toh kita tidak akan bertemu lagi, mungkin dengan bercerita kepada seseorang sesak ini akan berkurang. "Hem."Jawabku singkat. "Aku melihatnya sedang dipeluk dan dicium oleh mantannya."


"Lalu apa katanya?"


"Katanya itu hal wajar antar teman, saling memeluk dan mencium."


" Kau percaya?"


" Tentu saja tidak. Aku memilih putus, mungkin aku memang harus fokus untuk studyku dulu."


"Baguslah kalau kamu berfikir begitu, kamu masih muda, diluar sana pasti banyak yang mau denganmu, apalagi kalau kamu sudah jadi dokter, pasti banyak yang antri." Ucap kak Ilham mencoba menghiburku.


Aku merenungi kembali perkataan kak Ilham, benar juga, aku masih muda, untuk apa aku harus sesedih ini hanya karena patah hati, kalau kak Zean memang jodohku, Tuhan pasti akan mengirimnya kembali padaku, jika bukan, maka aku cukup mengenangnya sebagai cinta pertamaku yang menyedihkan. Sungguh lara cinta pertamaku.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2