Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 52 Bagaimana jika itu kamu


__ADS_3

Akan aku pastikan kakak malu setelah melihat ini besok.


Aku tersenyum penuh kemenangan melihat vidio yang berhasil aku rekam tadi.


" Jangan pergi." Kak Ega mulai mengoceh lagi.


Hoek, hoek, kak Ega berlari sambil menutup mulutnya, belum sampai di kamar mandi dia sudah memuntahkan semua isi perutnya.


Aku menghela nafas kasar lalu menghampirinya. Aku menggelengkan kepala melihat muntahan dimana-mana, sementara kak Ega terkulai lemas dilantai.


" Buka bajunya kak!" Aku menarik kemeja panjang kak Ega.


" Kaosnya juga!"


Kak Ega menuruti dan membuka kaosnya lalu aku menyeretnya ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang juga terkena muntahan.


" Sudah tau tidak bisa minum, kenapa nekad begini sih kak, kalau begini siapa yang repot coba." Gerutuku sambil menyeka badan kak Ega yang kotor.


" Tunggu disini aku ambilkan pakaian."


Saat masuk kembali ke kamar mandi aku menjerit dan menutup mataku karena kak Ega sedang berusaha melepas celana panjangnya dan menyisakan boxer yang di pakainya.


" Kakak mau ngapain " Teriakku sambil menutup mataku.


" Mandi." Jawabnya.


" Masih dini hari kak, jangan aneh-aneh deh. Pakai bajunya!" Aku melemparkan piyama milik kak Ega.


Aku kembali membawa kak Ega ke tempat tidur setelah dia bersusah payah memakai piyamanya.


Aku mendudukan kak Ega di tepi ranjang, aku membungkukkan badanku dan membenahi kancing piyamanya yang terpasang asal-asalan.


" Aku menyayangimu." Ucap kak Ega sambil menatapku.


" Aku tau, aku juga sangat menyayangi kakak."


" Janji tidak akan meninggalkanku." Ucapnya lagi.


" Tentu." Jawabku.


" Jadi kamu mau jadi kekasihku." Kak Ega mulai merancau lagi, mungkin dia masih mengira aku adalah perempuan yang di sukainya.


" Tentu saja tidak."


" Kenapa. Lihatlah aku tampan, aku juga seorang dokter." Kak Ega menunjuk wajahnya sendiri dan tersenyum seperti orang bodoh.


Narsis sekali kak Ega, aku benar-benar tak menyangka alkohol bisa membuat orang kehilangan pikiran warasnya.


" Karena kamu kakakku dan aku adalah adikmu."


" Kalau begitu kita tidak usah menjadi kakak beradik lagi."


" Mana boleh begitu."


" Sudah selesai, tidurlah! Aku akan membersihkan lantai dulu."


Aku membaringkan tubuh kak Ega lalu pergi meninggalkannya saat dia sudah mulai tertidur. Aku membersihkan lantai beberapa saat lalu aku kembali ke kamarku untuk melanjutkan tidur.


Kasihan sekali kak Ega, pasti dia sangat menyukai perempuan itu sampai dia mabuk begini. Semoga saja perempuan itu membuka hatinya untuk kak Ega, aku sungguh tidak tega melihat kakakku seperti tadi.


****


Aku membuka mataku dan terpaksa bangun karena perutku terus saja berbunyi, aku rasa aku sangat kelaparan karena tidak sempat makan malam kemarin.


Aku hanya mencuci muka dan menyikat gigiku sebelum aku turun ke dapur untuk menyeduh kopi. Tapi sepertinya kopi saja tidak cukup, aku membuka lemari penyimpanan dan hanya ada mie instan yang tergelak di dalamnya, karena sangat lapar dan tidak ada pilihan lain terpaksa aku sarapan dengan mie instan pagi ini.


Kak Ega keluar dari kamarnya dan menghampiriku yang sedang menyantap mie instanku.


" Sudah sadar?" Tanyaku menggoda kak Ega.


" Hmm." Jawabnya sambil menenggak air mineral.


" Apa yang kamu makan?" Kak Ega menarik kursi di sebelahku dan duduk.

__ADS_1


" Mie instan, mau?" Tawarku.


Kak Ega menggeser piringku tanpa permisi lalu melahap mie instan yang tinggal separuh karena separuhnya lagi sudah aku makan.


" Siapa perempuan itu?" Tanyaku dengan nada meledek.


" Perempuan yang mana?" Jawabnya cuek.


" Yang cuma menganggap kak Ega sebagai kakak, yang lebih memilih laki-laki lain dari pada kakak."


Kak Ega meletakan sendoknya, dia menatapku sementara mulutnya masih penuh dengan makanan.


" Kakak bilang begitu." Ucapnya tak percaya setelah bersusah payah menelan makanan di mulutnya.


" Kamu pasti bohong kan."


Aku mengeluarkan ponselku dan memutar vidio semalam. Kak Ega menjambak rambutnya dan terus menggeleng tak percaya dengan apa yang tengah dia saksikan.


" Apa dia cantik?" Aku bertanya lagi karena penasaran dengan perempuan yang sudah menolak kak Ega.


" Sangat cantik." Jawab kak Ega dengan wajah seriusnya, padahal beberapa detik yang lalu wajahnya terlihat seperti orang yang sedang panik.


" Kakak sangat menyukainya?"


" Sangat. kakak sangat menyayanginya. Tapi sudahlah kami mungkin tidak berjodoh. Selamanya dia hanya akan menganggapku sebagai kakak." Wajah kak Ega berubah menjadi sedih.


" Perempuan mana yang berani menolak kakakku yang tampan dan juga dokter ini?" ledekku untuk mencairkan suasana.


" Sudahlah lupakan. Bagaimana dengan keputusanmu?" Kak Ega benar-benar menagih keputusanku.


" Aku tidak akan putus dari kak Zean, aku sangat menyukainya kak, tapi aku janji hubungan kami tidak akan mengganggu sekolahku kak."


" Hmmm."


Apa maksudnya dengan hmmm, dia setuju atau tidak, kak tolonglah bicara dalam bahasa manusia.


" Aku anggap kakak setuju ya."


" Selama tidak mengganggu sekolahmu."


" Cup. Terimakasih kak, aku menyayangimu." Aku mencium pipi kak Ega lalu pergi meninggalkannya.


Aku berlari menaiki tangga lalu aku menoleh kearah kak Ega yang masih duduk di meja makan. Apa yang sebenarnya kak Ega fikirkan, kenapa tak ada senyum diwajahnya hari ini. Apa dia marah denganku atau dia sedang bersedih karena di tinggalkan perempuan yang di sayanginya?"


Maafin aku kak, sebenarnya aku tidak ingin melihat kak Ega sedih tapi aku juga tidak mau berpisah dari kak Zean karena aku sangat menyukainya kak, aku berjanji tidak akan mengecewakan kakak.


" Hallo kak." Sapaku pada kak Zean, aku segera menghububginya setelah sampai di kamar.


" Ya sweety, ada apa? Suaramu ceria sekali."


" Kak Ega setuju dengan hubungan kita."


" Benarkah, aku sangat senang mendengarnya. Tapi bagaimana caramu meyakinkan kak Ega?" Tanya kak Zean penasaran.


" Rahasia." Bisa besar kepala jika dia tau aku bilang sangat menyukainya kepada kak Ega.


" Hmm, jadi sekarang kita bebas bertemu kapan saja?"


" Tentu."


" Turunlah, aku sangat merindukanmu."


" Maksud kakak?"


Aku berjalan menuju balkon dan melihat ke bawah, aku tersenyum bahagia melihat kak Zean berada di dalam mobilnya dan melambaikan tangannya. Aku segera berlari dan turun, aku melirik ke arah dapur dan mendapati kak Ega masih duduk di sana namun aku melewatinya begitu saja.


" Sejak kapan kakak disini?" Tanyaku setelah aku masuk ke dalam mobilnya.


" Aku langsung kesini setelah kamu mengirim pesan akan memberi tahu keputusanmu kepada kak Ega."


" Kakak tidak takut seandainya keputusanku tadi adalah menurut dengan kak Ega dan memutuskan kakak?"


" Tidak."

__ADS_1


" Kenapa?"


" Karena aku yakin kamu sangat menyukaiku." Jawabnya lugas.


" Dari mana kakak mendapat kepercayaan diri seperti ini?"


" Jadi kamu tidak menyukaiku?" Ucapnya dengan muka yang sengaja di buat sedih.


" Ya aku mengalah, aku memang sangat menyukai kakak. Puas?"


" Aku tau itu, buktinya kamu langsung turun saat melihatku tanpa mengganti baju terlebih dulu." Balas kak Zean sambil menatap celana tidurku yang begitu pendek hingga memperlihatkan paha putihku.


" Apa yang kakak lihat?" Aku menutup paha dengan kedua tanganku meskipun percumah saja karena tanganku tak bisa menyembunyikan pahaku.


" Jangan-jangan kamu ingin menggodaku ya?"


" Terlalu percaya diri itu tidak baik kak. Aku hanya sedang malas mandi dan mengganti baju saja. Lagipula aku tidak perlu bersusah payah menggoda kakak, aku hanya tersenyum saja kakak sudah tergoda padaku kan?"


" Jadi jangan pernah menunjukan senyum itu kepada orang lain selain aku."


" Mana boleh begitu." Protesku.


" Karena senyum kamu hanya milikku seorang."


" Dasar gombal."


" Jadi apa yang kak Ega katakan?" Ucap kak Zean sambil menatapku.


" Katanya selama tidak mengganggu sekolahku."


" Hanya itu?"


" Iya."


" Dia tidak marah padamu?" Ada gurat kekhawatiran di wajahnya.


" Tidak. Sepertinya kak Ega sedang patah hati jadi dia tidak punya energi untuk memarahiku?"


" Dari mana kamu tau kak Ega sedang patah hati?"


" Semalam kak Ega mabuk, padahal sebelumnya dia tidak pernah menyentuh alkohol."


" Lalu?" Kak Zean semakin penasaran.


" Dia merancau semalaman. Dia sangat menyukai perempuan itu kak, bahkan kak Ega sampai mengira aku adalah perempuan itu."


" Oh ya, bagimana bisa?"


" Dia memintaku untuk menjadi kekasihnya, dia juga bilang kalau aku harus meninggalkan kekasihku dan memilih kak Ega, katanya dia tidak mau hanya di anggap sebagai kakak. Alkohol memang mengerikan ya, kak Ega saja sampai tidak bisa membedakan mana adiknya dan mana perempuan yang di sukainya."


" Bagaiamna jika yang di maksud kak Ega memang benar kamu."


" Hahaha, kak Zean lupa kalau kita kakak beradik."


" Hehehe, aku hanya bercanda. Semoga kak Ega menyerah dengan perempuan yang di sukainya?"


" Kenapa begitu, kalau kak Ega begitu menyukainya berarti dia harus memperjuangkannya bukan malah menyerah."


" Kamu mau kak Ega jadi perusak hubungan orang lain."


" Tentu saja tidak. Aku hanya penasaran wanita gila seperti apa yang berani menolak kak Ega."


Kak Zean hanya mengangkat kedua bahunya.


Aku melanjutkan ceritaku tetang kejadian semalam, aku bahkan menunjukkan vidio saat kak Ega sedang mabuk dan entah mengapa kak Zean tidak terlalu bersemangat dengan ceritaku hari ini. Sementara itu dari balik jendela mobil aku bisa melihat wajah sedih kak Ega yang sedang berdiri di depan rumah sambil mentap mobil kak Zean.


Bersambung...


Hy semua apa kabar hari ini, semoga kalian semua sehat ya..


Jadi makin penasaran kan, siapa perempuan yang kak Ega sukai..


Tambahkan cerita ini ke favorit kalian ya, supaya kalian tidak ketinggalan dengan kelanjutan kisah kak Ega..

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2