Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 89 Maaf


__ADS_3

POV AUTHOR


" Tidak kak." Ucap Indhi lantang, dia menatap wajah kakaknya yang diselimuti amarah.


" Apa maksudmu dengan tidak, jelas-jelas teman-temanmu melihat kejadiannya, dia mendorongmu." Ungkap Zean yang sedari tadi juga menahan amarahnya.


" Naura tidak mendorongku kak, aku jatuh sendiri."


" Tidak usah membelanya, jelas-jelas banyak orang yang melihat kejadiannya." Jawab Zean kesal.


" Naura memang bersamaku saat aku jatuh, tapi dia tidak mendorongku kak, aku benar-benar jatuh sendiri, kakak tau kan kalau aku begitu ceroboh, apa kakak lupa saat dulu aku jatuh dari angkot?" Indhi masih bersikeras bahwa bukan Naura yang mendorongnya.


" Tapi teman-temanmu melihatnya Pril, mereka bilang Naura mendorongmu." Ucap Zean yang juga masih bersikeras bahwa Nauralah pelakunya.


" Tunggu dulu, kamu sudah mengingat Zean?" Tanya Ega menyela perdebatan mereka.


Indhi hanya mengangguk.


" Syukurlah. Tapi kakak akan tetap melaporkan dia kepolisi."


" Kak." Indhi menatap wajah kakaknya memohon, dia meraih tangan Ega dan menggenggamnya dengan erat.


" Dia tidak mendorongku, kesalahannya hanya dia tidak mencoba untuk menolongku." Ungkap Indhi, dia menatap Naura dan kembali mengingat kejadian waktu itu, semua yang dia katakan adalah benar, Naura tidak mendorongnya, dia yang ceroboh, tetapi fakta bahwa Naura melepaskan tangannya dan membiarkannya jatuh juga bisa menjadi bukti kuat jika dia ingin melaporkan Naura kepolisi, tetapi Indhi memilih diam, dia tidak ingin masalah ini diperpanjang lagi.


" kamu yakin dia tidak mendorongmu." Ega masih tidak percaya dengan penuturan adiknya.


" Iya kak, dia juga sudah meminta maaf."


" Tapi dia juga tidak berusaha untuk menolongmu Ndi, mungkin saja dia sengaja membiarkanmu untuk jatuh." Ucap Dita yang ikut tidak terima dengan keputusan sahabatnya.


" Mungkin saja Naura takut akan jatuh bersamaku, bukan begitu Nau?"


Naura hanya menunduk dan tidak menjawab pertanyaan Indhi yang seperti sindiran baginya.


" Kamu dengar sendiri kan nak, adikmu tidak mendorong Indhi, dia jatuh sendiri, jadi mamah mohon batalkan niatmu untuk melaporkan Naura, apa kamu tega melihat adikmu di penjara." Ungkap mamah Naura.

__ADS_1


" Dia bukan adikku." Bentak Ega dan membuat semua orang terkejut.


" Tapi dia memang adikmu, bukan seperti dia yang bukan siapa-siapa." Mama Naura melirik Indhi tajam.


" Anda benar-benar tidak tahu malu ya, bukankah sudah saya jelaskan, Indhi satu-satunya adik saya dan ibu Tika satu-satunya ibu saya, jadi jangan pernah berharap saya akan mengakui anda sebagai ibu saya."


" Ibu macam apa yang tega membuang anaknya sendiri demi hidup dengan layak, asal anda tahu surat yang anda tulis masih tersimpan rapi di ingatan saya, binatang saja tidak ada yang menelantarkan anaknya, tetapi anda, dengan sadar anda membuang saya, kelakuan anda lebih buruk dadi seekor binatang." Maki Ega dengan keras, dia tidak peduli bahwa di ruangan itu ada Arum dan Dita yang masih belum tau tentang masalah ini.


" Kak." Idhi kembali menggenggam tangan Ega dengan Erat, ditatapnya lekat wajah kakaknya yang tengah diselimuti amarah.


" Lebih baik anda pergi sekarang sebelum saya berbuat kasar kepada anda."


" Pergi." Teriak Ega.


Naura menarik tangan mamahnya dan segera pergi dari ruangan itu. Ega menatap nanar punggung wanita yang telah menelantarkannya, tidak ada maaf untuknya lagi, bagi Ega ibu kandungnya sudah lama mati.


Tanpa Ega sadari air matanya mulai menetes, ibu yang menyadari itu segera mendekati putranya dan memeluknya penuh kasih.


Arum dan Dita memilih untuk keluar, meskipun penasaran mereka masih tau adab untuk tidak ikut campur dalam masalah keluarga orang lain. Zean yang juga berfikir begitu memilih mengikuti Arum dan Dita untuk keluar.


Ega semakin terisak, air matanya membasahi wajah tampannya, begitu banyak beban dihatinya sekarang.


Lama berada dalam pelukan ibunya membuat Ega sedikit merasa lega, dia melepaskan pelukan ibunya dan menatap wajah ibunya yang sudah tidak muda lagi.


" Ega akan pulang, kita akan tinggal bersama lagi, kita akan melewati semuanya bersama lagi." Ucap Ega sembali menggenggam tangan ibunya.


" Syukurlah, begitulah keluarga nak, menghadapi suka dan duka bersama, jangan pernah menangis sendiri lagi, berbagilah dengan ibu dan adikmu."


" Jangan pernah tinggalkan kami lagi kak." Ucap Indhi penuh haru.


Ega berbalik dan segera memeluk adiknya, ibu menghampiri kedua anaknya dan memeluk mereka, akhirnya setelah sekian lama mereka bisa mengungkapkan perasaan mereka tanpa kata-kata, beginilah harusnya sebuah keluarga, merangkul satu sama lain saat ada yang terluka, menguatkan satu sama lain saat ada yang rapuh.


***


Naura menarik tangan mamahnya hingga parkiran rumahsakit, dia merasa sangat malu dengan perilaku mamahnya tadi.

__ADS_1


" Lepas Nau, kenapa kamu menarik mamah keluar."


" Apa mamah tidak dengar kak Ega mengusir mamah."


" Mamah yakin Ega seperti itu karena dipengaruhi oleh ibunya, mamah akan kembali kedalam dan meyakinkan Ega untuk kembali menjadi anak mamah."


" Cukup mah, kalau Naura jadi kak Ega, Naura juga akan melakukan hal yang sama, Naura akan membenci dan mengusir mamah, anak mana yang tidak akan memebenci ibu yang sudah membuangnya." Sindir Naura.


" Kenapa kamu bilang begitu, harusnya kamu membantu mamah untuk dekat dengan kakakmu, mamah yang lebih berhak atas kakakmu dari pada mereka, mamah yang sudah melahirkan Ega."


" Tapi mamah membuangnya." Teriak Naura yang sudah geram dengan perbuatan mamahnya.


Naura meninggalkan mamahnya diparkiran rumahsakit, dia merasa sangat malu dihadapan keluarga Indhi. Naura sebenarnya lebih memilih jika Indhi tidak akan memaafkannya, dengan begitu dia tidak perlu merasa begitu bersalah kepadanya, namun dia salah, gadis itu justru memaafkannya, dia bahkan menasehatinya untuk lebih percaya diri, setelah semua yang dia lakukan kepada Indhi, dia sungguh merasa tidak pantas mendapatkan maaf Indhi.


****


Sementara diluar ruang perawatan, Arum dan Dita masih larut dalam fikiran mereka masing-masing, mereka mencoba menerka maksud perkataan mamah Naura beberapa saat yang lalu.


" Jadi kak Ega bukan kakak kandung Indhi?" Ucap Dita yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


" Dan ibu kandung kak Ega adalah mamah Naura?" Imbuh Arum.


" Jangan bilang wanita yang disukai kak Ega adalah Indhi." Tebak Arum yang membuat Dita membulatkan matanya.


" Bisa jadi, wanita gila mana yang akan menolak kak Ega."


" Dari awal aku sudah ragu jika kak Ega adalah kakak kandung Indhi, mereka jelas-jelas tidak mirip." Imbuh Dita.


" Tapi mereka cocok kan." Celetuk Arum sehingga menarik perhatian Zean yang berada di dekat mereka.


" Mereka bersaudara, terlepas kandung atau bukan mereka tetaplah kakak beradik, kalian lupa Indhi sudah bersamaku dan tentunya kami lebih cocok bersama." Ucap Zean menyela perbincangan ngawur kedua sahabat itu.


Sebenarnya dalam hati Zean dia juga merasa bimbang, dia ketakutan, bagaimana jika nanti Indhi akan berpaling darinya dan memilih bersama Ega. Fakta bahwa mereka bukanlah saudara kandung tidak bisa ditepis Zean begitu saja.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2