
" Saat istirahat nanti ada yang ingin bertemu denganmu, dia menunggumu di belakang kantin sekolah." Ucap siswi berambut panjang itu ketika dia sudah berdiri de depan mejaku.
" Siapa?"
" Datang saja maka kamu akan tau jawabannya." Ucapnya lagi, lalu dia pergi dari kelasku membawa sebuah tanda tanya besar.
" Apa maksudnya, siapa yang ingin bertemu denganmu." Tanya Arum yang rupanya mendengarkan ucapan orang yang tak ku kenali tadi.
" Entahlah." Jawabku tanpa membalik badanku.
Sepanjang jam pelajaran aku sangat gelisah dan aku tidak bisa fokus. Aku penasaran dengan siapa yang ingin bertemu denganku dan apa yang ingin dia bicarakan denganku. Aku sudah tak sabar menunggu jam istirahat tapi waktu terasa begitu lambat.
Saat bel istirahat berbunyi, aku melonjak gembira, aku segera membereskan buku-bukuku dan memasukannya ke dalam tas dan akupun bergegas untuk keluar, namun tiba-tiba suara Arum menghentikan langkahku yang memburu.
" Mau kemana, kamu benar akan menemuinya? Bagaimana jika mereka akan menyakitimu?" Arum sepertinya mengkhawatirkanku, hal ini tersirat jelas di wajahnya.
" Aku hanya sebentar, lagi pula ini di sekolah, nggak akan ada yang berani menyakitiku Rum?"
" Biarkan kami ikut denganmu." Imbuh Dita.
" Kalian terlalu berlebihan, aku bisa sendiri. Kalian bisa menyusulku jika sampai jam masuk berbunyi aku belum kembali."
" Kamu yakin?" Ucap Arum yang masih belum rela membiarkanku pergi sendiri.
" Yakin."
" Oke, oke, tapi janji jangan terlalu lama, kami akan menunggu di kantin." Ucap Arum lagi dan aku hanya mengangguk lalu keluar dari kelas.
Saat aku sudah meninggalkan kelas, aku sempat berhenti dan menoleh ke belakang, aku tak sengaja melihat Naura keluar dari kelas sambil berlari, sepertinya dia sedang terburu-buru untuk pergi ke suatu tempat, namun aku tak mempedulikannya dan aku bergegas pergi ke belakang kantin.
Saat sampai di belakang sekolah, aku terkejut melihat Naura tengah menungguku di tempat itu bersama lima orang yang tidak aku kenali. Bagaimana Naura sampai di tempat ini sebelum aku, bukannya tadi aku yang lebih dulu keluar dari kalas?
Belum hilang keterkejutanku, tiba-tiba Naura dan salah satu orang yang berada di sana menarik bajuku dengan sangat kasar.
" Astaga, ada apa ini?"
" Nggak usah pura-pura Ndi." Kata Naura sambil mendorongku ke tembok.
" Auwww." Pekikku menahan sakit saat punggungku membentur tembok.
__ADS_1
" Sebenarnya apa salahku Nau?" Tanyaku tak mengerti.
" Apa kamu tidak tau kalau Naura menyukai pak Zean?" Tanya salah seorang yang sepertinya teman Naura, dia mendorong sebelah bahuku dengan keras, sehingga aku kembali membentur tembok.
" Siapa kamu, kenapa kamu kasar denganku, aku bahkan tidak mengenalmu?" Tanyaku geram.
" Aku hahaha. Aku salah satu penggemar pak Zean dan Naura adalah ketua kami karena dia penggemar nomor satu pak Zean." Tukasnya dengan begitu sombong, dia melipat kedua tangannya di dada.
" Hahaha, fans club maksudmu. Dasar gadis-gadis aneh ?" Aku tertawa terbahak setelah mendengar pengakuannya.
" Jawab saja pertanyaanku, apa kamu tidak tau jika Naura menyukai pak Zean?" Tanyanya lagi dengan keras, bahkan otot-otot di lehernya sampai terlihat menonjol.
" Mana aku tau, Naura saja tidak pernah memberitahuku."
" Lalu apa maksud dari foto-foto ini?" Ucap Naura, lalu dia menyodorkan beberapa lembar foto padaku.
Aku terkejut saat melihat foto-foto itu. Ini kan foto saat aku keluar dari mobil kak Zean saat kami berangkat sekolah bersama.
" Dari mana kamu mendapatkannya?" Tanyaku dengan tangan sedikit bergetar. Bukan karena aku takut pada mereka, aku hanya mengkhawatirkan kak Zean, bagaiaman jika foto-foto itu tersebar.
" Aku yang memotret kalian." Ucap salah seorang lagi dari kelima orang yang tak ku kenali.
" Kak Natasha bilang aku merebut kak Zean darinya?" Tanyaku tak percaya.
" Kak Zean, hahahah. Jadi kak Z adalah pak Zean." Ucap Naura sambil bertepuk sebelah tangan.
" Bukannya kak Natasah sudah memberi tahumu tentang hubungan kami?"
" Tidak, dia hanya bilang padaku jika kamu itu jal*ng yang sudah merebut pak Zean darinya, tapi aku tidak menyangka jika kamu akan memacarinya, waoow kamu benar-benar seorang jal*ng rupanya. Kalian dengan bintang kelas kita adalah seorang jal*ng." Teriak Naura lalu di susul suara tertawa dari kelima temannya.
Aku menggertakkan gigiku menahan amarah. Aku begitu bodoh karena masuk ke dalam jebakan kak Natasha. Jadi ini yang dia inginkan, dia ingin aku mengakui sendiri perihal hubunganku dengan kak Zean.
" Jangan-jangan apa yang di katakan kak Natasha adalah benar, pak Zean sudah merekayasa nilaimu, harusnya aku yang menjadi bintang kelas kan, bukan kamu kan, pasti kamu curang, selama ini aku tidak pernah kalah dengan siapapun." Ucapan Naura mulai ngawur.
" Di dunia ini bukan hanya kamu yang pintar Nau, banyak yang lebih pintar dari kita dan asal kamu tau kak Zean bukan orang semacam itu." Aku mulai meninggikan suaraku, aku tidak terima kak Zean di tuduh seperti itu.
" Oh ya, kalau begitu ayo buktikan, jika saat kenaikan kelas nanti kamu masih peringkat satu, maka dugaanku pasti benar."
" Maksudmu aku harus mengalah denganmu, hahaha jangan harap Nau, aku mendapatkan peringkat satu dengan usaha kerasku, jadi jangan mimpi agar aku mau mengalah kepadamu. Kamu bilang kamu penggemar nomor satu kak Zean, tapi kamu malah meragukannya, penggemar macam apa kamu Nau?"
__ADS_1
" Kalau begitu aku akan menyebarkan foto ini ke seluruh sekolah." Ucap Naura penuh ancaman.
" Oh ya, lakukan saja jika itu membuatmu senang." Aku mulai menggertak Naura, aku tidak berfikir dia akan benar-benar menyebarkan foto itu, aku tau jika dia tulus menyukai kak Zean, jadi dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan kak Zean, dia adalah gadis yang manis sebelum bertemu dengan kak Natasha.
" TINGGALKAN ZEAN, DIA HANYA MILIKKU." Teriak Naura lantang.
" Tidak akan." Balasku tak kalah lantang.
" Dasar jal*ng sialan. PLAK." Maki Naura padaku, lalu dia melayangkan tamparan di wajahku.
" Aku bilang tinggalkan dia atau..." Dia kembali melayangkan tangannya ke wajahku.
" Atau apa?" Jawabku sembari menahan tangannya sesaat sebelum tamparan itu mendarat di wajahku lagi.
" Apa yang akan kamu lakukan Nau, kamu akan menyakitiku lagi, atau kamu akan melaporkanku ke sekolah. Lakukan Nau, lakukan apapun yang membuatmu senang. Meskipun bukan aku pasti akan ada orang lain yang mengalahkanmu. Dan untuk kak Zean aku tidak ada melepaskannya untukmu, kamu tidak pantas untuk laki-laki sebaik kak Zean. Hilangka rasa dengki di hatimu Nau, di hidup ini tidak selamanya kita akan menjadi pemenang."
Aku menekan dengan keras pergelangan tangan Naura, dia mulai mundur perlahan, namun aku terus memajukaan langkahmu sehingga membuatnya merasa terpojok, sementara teman-temannya hanya berdiri mengamati kami.
" Lepas." Teriak Naura karena aku mencengkeram tangannya dengan kuat.
" Kenapa kalian diam saja, lakukan sesuatu agar jal*ng ini melepaskan tangannya." Ucap Naura layaknya seorang bos yang menyuruh anak buahnya.
Tanpa aku sadari mereka berlima mulai mendekatimu, Naura tersenyum licik di balik wajah polos yang selama ini hanya menjadi topeng untukknya.
Aku terjungkal ke belakang saat sebuah tangan menarik rambutku dengan keras. Mereka tertawa melihatku yang sudah duduk tersungkur di tanah.
" Menurut kalian apakah pak Zean akan tetap menyukainya jika dia tidak cantik lagi?" Ucap Naura lagi, dia membungkukkan badannya sehingga wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Lalu salah satu tangannya memegangi wajahmu dengan kasar.
" Bagaiman kalau aku sedikit saja menggoreskan ini ke wajah cantikmu Ndi." Naura mengeluarkan cutter dari dalam sakunya dan dia mendekatkan cutter itu ke wajahku.
Aku hendak berdiri dan pergi sebelum Naura melakukan hal aneh lainnya, namun aku kalah cepat, ada dua orang yang sudah menahan tanganku.
Aku menahan nafasku saat Naura benar-benar menempelkan cutter itu diwajahku, dia menggoreskan cutter itu di wajahku sampai sebuah suara menghentikan kegilaannya.
" Apa yang kalian lakukan."
BERSAMBUNG...
Hye semua, jangan lupa untuk terus mensupport karya recehku ini ya..
__ADS_1
Tinggalkan like, komen, dan vote untukku ya..