Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 78 Berteman denganku


__ADS_3

"Non makanannya sudah siap." Ucap bi Sumi dari dapur.


" Iya bi, terimakasih."


" Ayo makan dulu kak, aku sudah kelaparan." Ajakku kepada kak Zean yang masih sibuk mengamati luka di wajah dan tanganku, aku berdiri dan pergi ke dapur.


"Heem." Jawab kak Zean singkat lalu dia mengekor di belakangku.


" Boleh aku numpang ke kamar mandi?" Tanya kak Zean setelah kami berada di dekat meja makan.


" Tentu, kamar mandinya ada di sebelah sana kak." Jawabku sembari menunjuk kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari dapur.


Aku duduk di kursi meja makan dan mengambil nasi untuk kak Zean, fikirku saat kak Zean keluar nanti nasinya sudah tidak terlalu panas lagi.


Aku melihat jam tanganku, sudah jam segini kenapa Arum belum juga sampai di sini, namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, aku beranjak untuk membukanya, panjang umur sekali dia, baru saja aku bicarakan, ternyata sudah ada di depan rumah.


" Kenapa lama sekali?" Ucapku setelah pintu terbuka, aku terbelalak karena bukan hanya Arum saja yang ada di depan pintu, ada Dita dan kakak ketua osis yang katanya bernama Awan, dia tersenyum dan melambaikan tangannya ke kepadaku.


" Kenapa ada dia?" Aku berbisik di telinga Arum.


" Maaf, habisnya dia maksa mau ikut, dia mengancamku akan melaporkan kepada guru tentang kejadian tadi kalau aku tidak mengizinkan dia ikut." Bisik Arum jua.


" Ya udah ayo masuk."


" Masuk Dit."


" Silahkan masuk kak."


Aku mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamu.


" Gimana kondisi kaki kamu Ndi?" Tanya Dita.


" Aku baik-baik saja Dit, hanya terkilir."


" Syukurlah kalau begitu, aku tadi panik waktu Arum bilang kamu di bawa ke rumahsakit."


" Kamu beneran nggak mau ngelaporin anak itu?" Ucap kak Awan menyela pembicaraanku dan Dita.

__ADS_1


" Nggak kak, aku nggak mau urusannya jadi panjang."


" Tapi Naura sudah keterlaluan Ndi, lihatlah wajah cantik ini tergores." Imbuh Dita yang tidak terima dengan keputusanku.


" Aku tidak tega kalau sampai dia kena hukuman dari sekolah, biarkan saja, semoga dia bisa menyadari kesalahannya."


" Aku rasa dia tidak akan pernah menyadari kesalahanya." Celetuk Arum.


" Di kelas saja dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun, dia hanya pindah tempat duduk saja, selain itu dia masih menjadi anak yang sok imut dan lemah." Imbuh Dita lagi.


" Oh ya kalian mau minum apa?" Tawarku setelah ingat aku belum menyajikan apapun untuk teman-temanku.


" Apa saja." Jawab kak Awan.


Aku beranjak dari tempat dudukku, berniat meminta tolong bi Sumi untuk menyajikan minuman dan beberapa cemilan kepada temanku.


" Sweety, ayo makan, katanya lapar." Ucap kak Zean yang tiba-tiba datang dan merengkuh pinggangku tanpa dia menyadari ada teman-temanku di ruangan ini.


Kak Awan membulatkan matanya saat melihat kak Zean berada di rumahku, sementar Arum dan Indhi hanya menggeleng tak percaya dengan perbuatan guru mereka.


" Pak Zean disini. Sweety, kenapa pak Zean memanggil Indhi dengan sweety?" Tanya kak Awan dengan wajah bingungnya.


" Sudah ku bilang kak, sainganmu berat, kamu malah tidak percaya." Celetuk Arum dengan santainya membuatku dan kak Zean melotot kepadanya.


" Kalian sudah tertangkap basah lagi, percumah mengelak, kak Awan ini cerdas, dia nggak mungkin bisa di bohongi." Tambah Arum yang semakin memperjelas tentang hubungan kami.


" Jadi mereka?" Tanya kak Awan terbata.


" Ya, mereka pacaran kak, lebih baik mundur saja, sainganmu berat kamu nggak akan kuat 😂😂" Tegas Arum dengan senyum meledek di wajahnya.


" Aku bahkan belum maju dan kamu sudah menyuruhku untuk mundur." Ucap kak Awan lemah, dia menundukkan kepalanya.


" Kak, bisakah kakak merahasiakannya." Pintaku pada kak Awan yang masih menunduk.


" Sejak kapan kalian bersama, bukankah guru di larang berhubungan dengan muridnya?" Sindir kak Awan, dia menatap tajam ke arah kak Zean.


" Kami bersama sebelum kak Zean menjadi guru disekolah, jadi tolong rahasiakan ini sampai kak Zean berhenti mengajar, aku mohon kak."

__ADS_1


" Pak Zean akan berhenti?" Teriak Dita dengan lantangnya.


" Iya, kak Zean akan berhenti setelah kenaikan kelas nanti, jadi aku mohon kak, tolong rahasiakan ini."


" Baiklah, aku juga tidak ingin membuat keributan di sekolah. Tapi..." Kak Awan menggantung kalimatnya.


" Tapi apa kak?" Tanyaku penasaran.


" Bolehkan kita berteman." Ucapnya sedikit ragu.


Arum dan Dita tertawa bersama mendengar permintaan ketua Osis kami.


" Tentu saja, aku sangat senang bisa berteman dengan ketua Osis seperti kakak." Ucapku penuh kelegaan karena kak Awan hanya meminta untuk berteman denganku saja.


" Kalau begitu mari kita makan bersama." Tawar kak Zean yang sedari tadi memilih untuk diam.


Kak Zean membantuku berjalan ke meja makan lalu mereka bertiga mengikuti di belakangku dan kak Zean.


Siang itu kami makan siang dengan gembira, kak Awanpun dengan mudah membaur bersama kami, kami banyak bertukar cerita dan yang membuat suasanya semakin seru ketika Arum dan kak Awan tidak ada hentinya saling berdebat.


*******


Seminggu setelah insiden itu kak Ega tidak pernah datang menjengukku, dia bahkan tidak datang untuk makan malam, padahal ibu yang mengundangnya, dia hanya mengirim pesan kepadaku kalau dia sangat sibuk akhir-akhir ini.


Setiap pagi selama seminggu, ibu yang selalu mengantarku ke sekolah. Kak Zean sangat setuju jika ibu yang mengantarku, karena jika aku berangkat bersamanya, aku harus turun di pinggir jalan dan berjalan ke sekolah. Sekarang kami harus lebih berhati-hati, kata kak Zean tunggu beberapa bulan lagi sampai dia berhenti, jadi kami akan bebas bertemu di manapun dan kapanpun tanpa rasa khawatir akan tertangkap basah oleh orang lain.


Tapi yang membuatku sedih adalah Naura, dia tidak berubah sama sekali, yang ku lihat sepertinya dia semakin membenciku, dia berpindah tempat duduk dan tak pernah menyapaku lagi.


*******


Hari demi hari berlalu, bulan pun telah berganti, tak terasa aku sudah berada di penghujung kelas X, kenaikan kelas sebentar lagi dan artinya aku dan kak Zean tidak perlu repot-repot lagi menyembunyikan hubungan kami saat kak Zean sudah berhenti nantinya.


Pergelangan kakiku sudah sembuh total tapi aku memutuskan untuk tidak berangkat bersama kak Zean lagi, kadang ibu menyempatkan waktu untuk mengantarku, tapi aku lebih sering naik ojek untuk pergi ke sekolah.


Untuk kak Ega, hampir 5 bulan lamanya aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, terakhir bertemu, saat kakiku terluka dia yang memintaku untuk bersikap seperti dulu lagi, tapi kenyataanya kak Egalah yang tidak menepati janjinya, dia meninggakan kami sekarang.


Beberapa kali aku mendatanginya di rumahsakit, tapi nihil, jadwalnya selalu penuh dan aku menyerah untuk menemuinya lagi. Hanya beberapa pesan yang dia kirim sebagai tanda bahwa dia masih hidup dan berada di bawah langit yang sama.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2