
Tahun baru telah berlalu, kini saatnya aku kembali ke kehidupan sekolahku. Selama libur semester dan tahun baru aku menghabiskan banyak waktu bersama kak Zean, apalagi di tambah kehadiran Sam di rumah kak Zean membuatku betah berlama-lama berkunjung ke rumahnya. Bayi mungil itu di beri nama Samuel.
Setelah kejadian melahirkan di mobil, kini aku semakin dekat dengan mamy, dia selalu menyuruhku untuk datang ke rumah, beliau bilang aku sudah seperti anak perempuannya sendiri.
Lalu bagaimana dengan ibu dan kak Ega? Hubunganku dengan ibu sudah mulai membaik, meskipun ibu masih sibuk dengan pekerjaannya tapi aku merasakan ibu sedikit meluangkan waktunya untukku, ibu sudah jarang pulang larut dan semenjak aku pindah, ibu belum pernah pergi keluar kota untuk urusan pekerjaanya.
Sedangkan kak Ega, sampai sekarang dia masih tinggal di rumah barunya, aku belum bertemu dengannya semanjak kepindahanku ke rumah ibu, aku hanya bisa mengabarinya via telefon itupun sangat jarang karena kak Ega sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Pagi ini seperti biasa kak Zean akan menjemputku dan kami berangkat bersama ke sekolah.
" Rambut baru?." Tanyaku saat masuk ke dalam mobil dan melihat penampilan kak Zean.
" Gimana, bagus gak?"
" Emm, lumayan."
Kak Zean memotong rambutnya dengan gaya Pompadour. Model rambut dengan volume rambut bagian atas yang lebih banyak, sementara bagian samping dipotong pendek namun tidak terlalu tipis. Bagian atas rambutnya dia sisir ke samping atas dan kak Zean juga menggunakan gel rambut untuk mempertahankan volume rambut. Dengan gaya rambut seperti ini membuat kak Zean terlihat lebih berwibawa.
" Dari mamy." Kak Zean memberikan sesuatu kepadaku.
" Apa ini?"
" Bekal untuk calon menantu tersayang." Goda kak Zean.
Aku membuka kotak makan yang kak Zean berikan padaku, aku tersenyum melihat isinya, nasi goreng ayam pedas dengan dua buah telur mata sapi berbentuk hati di atasnya serta beberapa butir tomat ceri di dalamnya. Mamy membuatkan bekal istimewa dihari pertama sekolah dan aku sangat menyukainya.
"Bilangin terimakasih ke mamy kak!"
" Bilang aja sendiri, kan kamu punya nomer mamy."
" Dasar pelit. Trus bekal kakak mana?"
" Nggak di buatin sama mamy, katanya ini cuma buat kamu dan aku juga tidak boleh memintanya."
" Kasian, sabar ya pak Zean." Aku meledek sambil tersenyum penuh kemenangan.
" Aku belum sarapan, boleh minta dikit kan?" Suaranya terdengar di buat semelas mungkin.
Aku membuka kembali kotak bekal yang mamy buatkan untukku, aku mengambil sendok dan menyuapkan nasi goreng ke mulut kak Zean yang kini tengah terenyum manis di belakang setir mobilnya.
" Enak?" Tanyaku setelah melihat kak Zean melahap nasi gorengnya.
" Cobain deh, enak banget."
" Aku sudah kenyang?"
Hampir setengah nasi gorengku habis di makan oleh kak Zean, aku menutup kembali kotak bekal itu dan memasukannya ke dalam wadahnya lagi.
" Kok di simpen lagi?" Tanya kak Zean setelah memperhatikan aktivitasku.
__ADS_1
" Masih ada, bisa di makan nanti siang."
" Tapi itu bekasku."
" Memangnya kenapa?"
" Kamu nggak jijik?"
" Kenapa harus jijik, katamu kita bahkan sudah bertukar ludah."
" Sweety, sejak kapan bicaramu jadi mesum begitu, siapa yang mengajarinya?"
" Tentu saja pacarku yang tampan."
" Oh ya."
*******
Seperti biasa aku turun di pinggir jalan dan melanjutkan dengan jalan kaki menuju ke sekolah. Aku sangat menikmati setiap momen yang kami lewati, pacaran diam-diam, ah rasanya sungguh menakjubkan. Apalagi pacarku adalah wali kelasku sendiri.
Sesampainya di kelas, ketiga temanku udah berada di bangku mereka masing-masing, mereka menyambutku dengan denyum cerah kecuali Naura yang wajahnya terlihat masam. Aku menyapa mereka dan tidak memperdulikan wajah masam Naura.
" Bintang kelas kita akhirnya datang." Ucap Dita dengan setengah berteriak sehingga teman yang lain ikut memperhatikanku.
" Apaan sih malu maluin." Ucapku sambil menahan senyum.
" Makasih Nau".
" Tumben bawa bekal?" Tanya Arum sambil memperhatikan kotak bekalku .
" Dibuatin sama calon mertua."
" Seriusan?"Dita menimpali.
" Indhi sudah punya pacar?" Tanya Naura penasaran.
" Hmm." Jawabku singkat.
" Coba buka, aku penasaran sama isinya?"
Belum mengiyakan permintaan Dita, Arum sudah meraih kotak bekalku dan membukanya.
" Kok tinggal setengah sih?"
"Tadi di makan sama kak Z..." Aku hampir saja kelepasan menyebut nama kak Zean.
" Kak Zz siapa Ndi?" Naura mulai ikut penasaran, padahal selama ini dia tidak pernah penasaran dengan urusan orang lain termasuk kami bertiga meskipun kami berteman.
"Kak Z itu nama panggilan pacar aku Nau." Aku merutuki diriku, kenapa aku tidak bisa memberi alasan lain.
__ADS_1
" Unik ya panggilannya, kenapa harus kak Z?" Naura semakin penasaran dan membuatku merasa sedikit tidak nyaman.
Untungnya sebelum aku menemukan jawaban untuk pertanyaan Naura, bel tanda masuk sudah berbunyi sehingga aku tidak perlu mengarang jawaban lagi.
Karena hari pertama masuk sekolah maka jam pertama akan di gunakan wali kelas untuk memberikan beberapa arahan kepada muridnya.
Kak Zean masuk kedalam kelas dengan sebuah buku absensi di tangannya. Semua murid bersorak melihat penampilan terbaru kak Zean yang membuatnya terlihat semakin tampan. Tak sengaja aku melihat Naura mengeluarkan ponselnya dan memotret kak Zean diam-diam. Mungkin benar apa yang
di katakan Dita jika Naura mungkin menyukai kak Zean dan aku harus lebih hati-hati mulai dari sekarang.
" Selamat pagi anak-anak, bagaimana liburan kalian?" Sapa kak Zean dengan senyum merekah di wajahnya.
" Baik pak." Jawab kami serentak.
" Bagaimana dengan liburan pak Zean?" Tanya salah seorang murid.
" Hmm, sayangnya bapak tidak libur hanya bekerja dari rumah saja." Balas kan Zean dengan wajah kecewa yang sengaja di buatnya.
" Apa bapak sudah punya pacar, waktu itu aku melihat bapak di bioskop dengan seorang gadis?" Tanya salah seorang siswi yang bernama Anita.
" Benarkah, apa kamu melihat siapa gadis itu?" Kak Zean masih bersikap tenang sementara aku mulai panik dengan pertanyaan salah satu temanku ini.
" Tidak pak, dia memakai masker dan topi hitam, tapi dari perawakannya gadis itu seperti bintang kelas kita?"
" Oh ya. Tunggu sebentar biar bapak tanyakan kepada Indhi. Indhi apa kamu sudah memiliki kekasih?"
" Sudah pak." Jawab Dita penuh semangat, sementara aku hanya menunduk.
" Benarkah. Hmm bapak kecewa mendengarnya, ternyata bintang kelas kita sudah punya kekasih. Lalu yang di lihat temanmu nonton bersama bapak siapa dong?."
" Mungkin kembaran Indhi pak, atau mungkin Indhi berselingkuh dengan bapak" Celoteh Arum yang membuat seisi kelas tertawa dengan ucapannya.
" Tapi apa mungkin Indhi bersedia berselingkuh dengan bapak?" Tanya si ketua kelas yang membuat suasana kelas semakin ramai.
" Tentu saja mungkin, siapa yang akan menolak pesona bapak. Bagaiaman Indhi kalo kapan-kapan kita pergi nonton bersama?" Jawab kak Zean narsis.
" Terimakasih pak, tapi pacar saya sangat posesif, bisa-bisa bapak di hajar olehnya jika aku ketahuan pergi bersama bapak."
" Bapak di tolak mentah-mentah oleh Indhi anak-anak." Kak Zean berakting sedih.
" Sama saya aja pak, saya tidak akan menolak bapak." Ucap Dita sambil menendang kursiku.
" Terimaksih Dita, tapi bapak yang menolaknya."
Jawaban kak Zean sontak membuat seisi kelas tertawa. Kami sangat senang dengan metode pembelajaran dari kak Zean, dia menempatkan dirinya bukan sebagai guru tetapi sebagai teman sehingga kami lebih mudah menerima pelajaran yang di sampaikan oleh kak Zean.
Kami semua larut dalam candaan kami, tanpa aku menyadari sepasang mata memperhatikan aku dan kak Zean dengan wajah murungnya.
Bersambung...
__ADS_1