Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 88 Aku tidak lupa


__ADS_3

POV AUTHOR


"Kalau begitu mencintaiku kenapa kamu berniat meninggalkanku ke California?" Ucap Indhi yang sontak membuat Zean mengurungkan langkahnya, dia memutar tubuhnya dan kembali mendekati ranjang Indhi.


" Kamu sudah mengingatku?" Zean menatap Indhi dan menunggu jawaban dari gadisnya.


" Sejak awal aku tidak pernah lupa."


" Apa maksudmu?" Zean mengernyitkan dahinya karena bingung.


" Aku tidak lupa." Ulang Indhi, dia menaikkan volume suaranya.


" Kamu menipuku?"


" Hem"


Bukannya marah Zeah malah memeluk tubuh Indhi dengan erat, berkali-kali dia mengucap syukur karena Indhi tidak melupakannya, Zean melepaskan pelukannya saat Indhi mendorong tubuhnya dengan keras.


" Aku tidak bisa bernafas." Protes Indhi.


" Kamu ingat aku?"


" Siapa namaku, berapa umurku, dimana rumahku?" Tanya Zean masih tak percaya jika selama lima hari ini Indhi telah menipunya.


" Arzean wijaya, 24 tahun, Jl.Rawa kalong." Jawab Indhi malas.


" Jadi selama ini kamu membohongiku?" Zean mulai sadar dan jengkel, dia berkacak pinggang dan menatap Indhi tak percaya.


" Baru lima hari aku berpura-pura tidak mengingat kakak dan kakak sudah sangat frustasi, tapi kakak dengan sombongnya berkemas dan akan pergi ke luar negeri, kakak yakin tidak akan gila disana karena merindukanku?"


" Masih mau putus denganku?" Imbuh Indhi lagi.


" Tidak, maafkan aku, aku salah faham, kak Ega sudah menjelaskan semuanya. Jangan pernah minta putus lagi dariku, atau aku.."


" Atau apa?" Indhi memotong kalimat Zean.


" Aku akan membuatmu hamil." Bisik Zean ditelinga Indhi.


" Kakak." Indhi memukul Zean dengan bantal, dia merasa malu dengan kalimat Zean barusan.


" Aku fikir aku sudah kehilanganmu, aku sangat takut." Zean kembali memeluk Indhi, gadis itupun membalas pelukan kekasihnya, kekasih yang sangat di rindukannya, mereka saling melepas rindu, layaknya sepasang kekasih yang sedang terbuai akan keindahan cinta mereka.


" Ndi, kita bawa......" Arum tidak melanjutkan kalimatnya, dia menyesal tidak mengetuk pintu terlebih dahulu sehingga dia harus menyaksikan pemandangan yang menggetarkan jiwa jomblonya.

__ADS_1


" Kenapa tidak masuk, cepat masuk." Dita mendorong tubuh Arum sehingga Arum terperosok masuk kedalam ruangan itu, Dita yang baru menyadari mengapa sahabatnya enggan untuk masuk hanya mematung menyaksikan Indhi dan Zean yang tengah berpelukan.


Menyadari kedatangan Arum dan Dita, dua insan yang tengah berbahagia itu segera melepas pelukan mereka, keduanya kompak menatap tamu yang mengganggu keromantisan mereka.


" Sowry." Ucap Arum dengan logat anehnya, dia mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.


" Kamu sudah mengingat pak Zean?" Tanya Dita kemudian.


" Aku tidak melupakannya."


" WHAT?" Seru kedua sahabat itu bersamaan.


" Aku hanya memberinya pelajaran karena beberapa hari yang lalu dia minta putus denganku." Jelas Indhi pada kedua sahabatnya.


" Kak Zean minta putus? Why?" Tanya Arum heran. Dia tidak percaya dengan ucapan sahabatnya karena dia melihat dengan jelas bagaimana Zean sangat mencintai sahabatnya itu.


" Dia cemburu dengan kak Ega." Sindir Indhi, dia melirik Zean sekilas.


" Kak Ega, your brother? Fix kak Zean memang gila, bisa-bisanya cemburu dengan calon kakak ipar." Celetuk Arum yang malah terkesan menghina Zean.


" Itu tandanya pak Zean benar-benar cinta sama Indhi." Bela Dita.


" Betul yang dikatakan Dita." Zean tersenyum puas karena ada yang memihaknya.


" Iya bu, Ibu habis pulang?" Ucap Arum kemudian dia menyalami ibu dan diikuti oleh Dita.


" Kak Ega kemana?" Tanya Dita yang menyadari ketidakhadiran kak Ega.


" Dia kerja." Balas ibu dan Dita hanya mengangguk.


" Ibu membawa beberapa baju untukmu." Ucap ibu lalu dia memasukan baju-baju itu kedalam lemari kecil yang tersedia di kamar perawatan Indhi.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu, Arum yang posisinya berada di dekat pintu segera beranjak dan membukanya. Arum membulatkan matanya saat dia melihat siapa yang tengah berdiri didepan pintu.


" Siapa Rum?" Tanya ibu yang tengah sibuk memasukan baju-baju Indhi ke dalam lemari.


" Itu bu..." Arum terbata, lalu dia membuka pintu dengan lebar sehingga semua yang didalam bisa melihat siapa tamu yang datang.


" Kamu, beraninya kamu datang." Gertak Zean, kemudian dia menghampiri dua orang yang masih berdiri di depan ruangan Indhi, mereka Naura dan mamahnya.


Ibu yang penasaran dengan siapa yang datang segera menghentikan kesibukannya, dia berbalik dan tercengang melihat Naura dan mamahnya datang.

__ADS_1


" Ada perlu apa kalian kemari?" Tanya ibu tak suka dengan medatangan mereka.


" Kami ingin menjenguk Indhi bu." Ucap mamah Naura.


" Tidak perlu, dia tidak butuh kunjungan anda." Teriak Ega dari kejauhan, dia segera datang ke kamar perawatan Indhi setelah melihat mereka berdua di lobby .


" Niat kami baik nak, kami ingin menjenguknya dan meminta maaf padanya." Mama Naura menatap Ega dengan tatapan memohon.


" Silahkan pergi dari sini sebelum saya panggilkan security." Bentak Ega dengan kasar, Arum dan Dita saling menatap tak percaya dengan sikap kak Ega yang tidak seperti biasanya.


" Biarkan mereka masuk kak." Ujar Indhi, semua orang menatapnya tak percaya, dia hanya mengedipkan kedua matanya, memberi tanda dia serius dengan ucapannya untuk membiarkan mereka masuk.


Mendengar ucapan Indhi, Nuara dan mamahnya segera masuk, mereka menghampiri tempat tidur Indhi diikuti oleh orang-orang yang sedari tadi sudah berada disana, sementara Ega hanya bisa menahan amarahnya.


Indhi memicingkan sebelah matanya saat melihat wajah mamah Naura secara dekat, dia mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah melihat wanita itu, wajahnya sangat tidak asing baginya.


" Ini tante, kita pernah bertemu di parkiran rumah sakit beberapa hari yang lalu." Ujar mamah Naura mengingatkan Indhi.


" Mamah kak Ega." Gumam Indhi lirih, kemudian dia membekap mulutnya sendiri, dia tidak percaya dengan kebetulan ini.


Ega segera menghampiri Indhi yang masih terkejut, dia menatap nanar wajah ibu kandungnya, matanya dipenuhi dengan kebencian.


"Maafkan aku Ndi, aku salah, aku terlalu iri padamu." Ucap Naura pelan, dia bahkan tak berani menatap wajah Indhi.


" Kamu cantik, kamu pintar, kamu juga begitu baik, semua orang menyayangimu, kamu sempurna, aku iri karena tidak memiliki semua hal yang kamu miliki." Imbuh Naura, kini dia mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk menatap Indhi, matanya mulai berkaca-kaca.


" Kamu juga cantik, kamu juga pintar, aku juga iri padamu karena kamu begitu rajin dan gigih." Indhi membalas tatapan Naura, tak ada kebencian sedikitpun dimata cokelatnya.


" Dulu aku sangat berharap kita bisa bersahabat, aku tidak menyangka kamu akan bertindak sejauh itu Nau. Iri dan dengki sudah menutup hatimu untuk melihat hal lainnya, aku tidak sesempurna seperti yang kamu fikirkan. Aku juga punya sisi negatif yang tidak kamu ketahui, ada banyak orang juga yang tidak menyukaiku dan membenciku, manusia tidak ada yang sempurna Nau, hanya saja mereka mampu menutupi kekurangan mereka."


" Aku harap setelah kejadian ini, kamu berhenti membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain, jadilah dirimu sendiri, cintai dirimu sendiri maka orang lain juga akan mencintai kamu." Imbuh Indhi yang membuat semua orang yang berada di sana heran, bukannya memakinya Indhi malah memberi nasihat kepada Naura.


" Kamu masih iri denganku sekarang, lihatlah aku bahkan sudah botak sekarang." Indhi tersenyum lalu dia menunjuk kepalanya yang gundul karena operasi.


" Maaf." Ucap Naura lirih


" Naura sudah meminta maaf dengan tulus, kamu tidak akan melaporkan Naura kepolisi kan?" Mama Naura segera mengambil kesempatan agar Indhi tidak memperpanjang masalah ini.


" Polisi?" Tanya Indhi bingung, dia sama sekali tidak tau tentang hal itu.


" Kakak akan melaporkan anak itu ke polisi, dia yang sudah membuatmu seperti ini." Tegas kak Ega sembari menunjuk Naura.


" Tidak kak."

__ADS_1


BERSAMBUNG.......


__ADS_2