
Empat bulan telah berlalu, rasa rindu akan kak Zean seolah telah menggunung dihati, perbedaan waktu yang begitu jauh membuat kami kesulitan berkomunikasi kecuali di akhir pekan.
Sudah lewat tengah malam dan aku masih duduk termangu sambil menatap layar laptopku sambil berharap kak Zean akan melakukan panggilan Vidio malam ini.
Aku menopang kepalaku dengan kedua tangan, beberapa saat kemudian laptopku menyala dan membuatku bersemangat.
" Hay kak." Ucapku membuka percakapan.
" Belum tidur?" Tanya kak Ega dari seberang benau sana.
Meskipun bukan yang ditunggu-tunggu aku, aku merasa sangat senang karena kak Ega juga jarang sekali memberikan kabar.
" Belum kak. Kakak apa kabar?"
" Baik, bagaimana sekolahmu?"
Aku tersenyum sembari menatap wajah kak Ega dilaya laptopku, dia terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
" Sekolahku juga lancar,hanya saja aku sering terlambat karena akhir-akhir ini sering macet." Aku kembali menopang kepalaku dengan kedua tangan, aku memanyunkan bibirku saat tengah mengadu dengan kak Ega.
Kak Ega tertawa melihat ekpresi diwajahku "Kamu sudah 17 tahun sekarang, kakak mengizinkamu membawa kendaraan sendiri kesekolah, tapi kamu harus punya SIM terlebih dulu."Ucap kak Ega yang membuatku ingat jika hari ini adalah hari ulangtahunku.
" Happy birthday, kakak selalu berdoa yang terbaik untukmu dan untuk semua kebahagiaanmu."
" Terimakasih kak, sedih sekali kakak tidak disini menemaniku disaat aku ulangtahun."
Setelah mengucapkan doa-doa yang baik untukku, kami melanjutkan percakapan kami hingga dini hari. Kak Ega mengakhiri panggilannya saat melihatku mulai mengantuk dan tanpa aku sadari aku sudah terlelap, kepalaku bersandar diatas meja belajarku.
Aku berusaha membuka mataku saat alarm diponselku berbunyi, badanku terasa pegal-pegal karena tidur sambil terduduk.
__ADS_1
Sama seperti hari-hari sebelumnya, keseharianku begitu membosankan tanpa kak Zean dan kak Ega, aktivitasku hanya itu-itu saja, bangun pagi, berangkat sekolah, pulang, les tambahan lalu kembali kerumah saat matahari mulai bersembunyi.
Pagi inipun sama, tak ada bedanya dengan pagi-pagi sebelumnya, aku bergegas kekamar mandi setelah alarmku berbunyi, lalu turun untuk sarapan sebelun berangkat kesekolah.
Aku memutar bola mataku malas saat tak menemukan siapapun dimeja makan, sepertinya ibu sudah berangkat bekerja, mungkin beliau ada pertemuan pagi ini sehingga beliau tidak sempat menyiapkan sarapan untukku, ibu bahkan melupakan ulangtahunku.
Aku melirik kegarasi, mataku tertuju pada sebuah motor sport milik kak Ega dan seketika senyumku berkembang "Tunggu aku." Ucapku sembari menunjuk motor itu.
***
Disekolahpun rasanya biasa saja, karena padatnya jadwal belajar hari ini, kedua sahabatku sampai lupa tentang ulangtahunku.
Aku mengahabiskan hari ini dengan begitu banyak helaan nafas, kenapa sweet seventeenku tidak ada manisnya sama sekali.
Masih dengan rutinitas yang sama sepulang sekolah aku langsung pergi ke tempat lesku. Disana juga tidak ada yang spesial dan membuatku ingin segera pulang.
Aku menatap rumah yang masih terlihat gelap memperjelas keadaan jika belum ada penghuni yang pulang, tau begini lebih baik tadi aku pergi mengunjungi Sam dan bermain dengannya di hari ulangtahunku yang tak seindah julukannya, sweet seventeen.
" Surprice." Teriak Arum dan Dita bersamaan, lalu terdengar suara terompet yang ditiup oleh ibu.
Aku tersenyum namun sejurus kemudian aku terisak, bukan karena sedih, aku hanya terharu, aku fikir mereka sudah melupakan hari kelahiranku.
" Selamat ulangtahun sayang, semoga tetap menjadi anak yang rendah hati dan penyayang." Doa ibu sembari memelukku penuh kasih.
" Happy birthday best friend, jangan pernah berubah dan jangan pernah melupakan kami."Arum dan Dita kompak memelukku, dalam hatiku terus saja bersyukur karena aku memiliki mereka.
" Mana kuenya?" Tagihku karena mereka tak kunjung mengeluarkan kue tartnya, tidak afdol rasanya berulangtahun tanpa meniup lilin dan memotong kue.
" Kuenya......" Ucap Arum lirih, dia menundukan kepalanya dengan wajah sedih.
__ADS_1
" Happy birtday to you, happy birthday to you, happy birtday, happy birtday, happy birthday to you."🎼🎼🎶🎶
Kejutanku rupanya belum selesai, aku menangis tak percaya melihat sosok yang begitu aku rindungan tengah berdiri dihadapanku dengan kue tart yang berhiaskan lilin angka 17 diatasnya. Pantas saja dari kemarin tidak bisa dihubungi, ternyata dia tengah mempersiapkan kejutan ini.
Tanpa ragu aku segera memeluk kak Zean, Arum yang begitu peka segera mengambil alih kue tart dari tangan kak Zean, sehingga kak Zean lebih leluasa membalas pelukanku, saking senangnya aku sampai lupa kalau ada ibu yang sedang memperhatikan kami.
Aku beringsut dan perlahan melepas pelukanku saat menyadari ibu tengah menatapku tak percaya, namun dari tatapannya aku tidak melihat kemarahan sedikitpun disana sehingga membuatku tersenyum lega.
" Tetaplah menjadi gadis kecilku yang manis dan baik hati, Tuhan mungkin bosan mendengar doa-doaku untuknmu, tapi aku tidak akan berhenti berdoa untukmu, semoga hidupmu dilimpahi kebahagiaan." Kak Zean menatapku dengan tulus, mata birunya masih sama seperti dulu, begitu menenangkan saat aku menatapnya, bibirnya masih sibuk merapalkan doa untukku.
" Kapan kakak sampai, kenapa tidak memberitahuku?" Pertanyaan yang sudah sedari tadi ingin aku tahan dan baru sempat aku tanyakan setelah acara ulangtahun mendadak ini selesai.
Arum dan Dita segera pulang karena langit sudah mulai gelap, mereka menolak ketika aku menawarkan mereka untuk menginap.
" Pagi ini, aku begitu merindukanmu." Kak Zean membawaku kedalam pelukannya, aku melihat sekeliling sebelum membalas pelukannya, saat merasa aman karena ibu sudah masuk kedalam kamarnya akupun segera membalas pelukan kak Zean, seseorang yang begitu aku rindukan.
" Kapan kakak berangkat?" Tanyaku dengan surara tak jelas karena mulutku segera disumpal dengan kecupan dari kak Zean.
" Lusa dan penerbangan paling pagi."
" Kenapa cepat sekali kak." Protesku, aku merasa sangat tidak adil, empat bulan aku menunggunya dan dia hanya memberiku waktu dua hari untuk melepas semua kerinduanku.
" Maaf, jadwal kuliahku mulai padat, aku hanya bisa mengkosongkan jadwalku beberapa hari."
Aku kembali masuk kedalam pelukan kak Zean, aku tidak ingin merusak kebahagiaan ini hanya karena kak Zean hanya pulang sebentar. Poin utamanya adalah bagaimana besok kita akan menghabiskan waktu bersama dan melepas kerinduan yang tertahan selama empat bulan.
" Maaf aku tak membawa kado untukmu." Ujar kak Zean sembari mengelus kepalaku yang masih berada dalam pelukannya.
" Ini kadoku dan aku tidak menginginkan hadiah yang lain." Ucapku manja dan aku semakin mempererat pelukanku.
__ADS_1
Jika boleh berangan-angan rasanya aku ingin menghentikan waktu, aku masih ingin berlama-lama bersama kak Zean, seandainya aku tau hubungan jarak jauh begitu menyiksa, lebih baik dulu aku menahannya untuk tidak pergi, toh disini juga banyak Universitas terbaik dengan program S2nya. Aku menyesal sudah membiarkannya pergi.
BERSAMBUNG....