Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 101 Gara gara putus cinta


__ADS_3

Kak Ilham benar-benar mengantarku hingga didepan apartemen milik kak Ega, namun kak Ilham menolak ketika aku menawarinya untuk mampir. "Terimakasih banyak ya kak, maaf merepotkan kak Ilham." Ucapku sebelum aku masuk ke apartemen.


"Tidak merepotkan, lagipula aku juga tinggal disekitar sini. Aku pergi dulu, ingat jangan nyasar lagi, belum tentu kamu akan beruntung seperti hari ini." Ucapnya sebelum pergi.


Aku mengetuk pintu apartemen kak Ega dan siempunya segera membukanya. "Mana Zean?"Tanya kak Ega sambil melihat sekeliling dan tidak menemukan yang tengah dicarinya.


"Aku pulang sendiri."Jawabku dengan warah lesu.


"Dia tidak mengantarmu?"


Aku hanya menggeleng, aku mengayunkan kedua kakiku menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil botol air mineral dari dalamnya, tenggorokan yang sedari tadi sangat kering menjadi segar setelah aku menghabiskan satu botol air mineral.


"Kenapa dia tidak mengantarmu, kamu pulang dengan siapa?" Tanya kak Ega yang ternyata mengikutiku ke dapur kecilnya.


Aku lagi-lagi membuang nafas dengan kasar. "Kita putus." Terangku, aku berjalan menuju sofa panjang yang sepertinya akan dijadikan tempat tidur oleh kak Ega karena ada bantal dan selimut disana. Aku menghempaskan tubuhku diatas sofa, kak Ega mengikuti duduk disebelahku.


"Kamu baik-baik saja?"


Aku menggeleng. "Tidak kak."


Kak Ega menggeser duduknya mengikis jarak diantara kita, dia menarik lembut tubuhku kedalam pelukanya, kak Ega hanya diam, tangannya terus menepuk lenganku, sesekali aku merasa seperti kak Ega mengecup pucuk kepalaku. Aku segera melepas pelukan kak Ega, bukan karena tak nyaman, namun karena detak jantung kak Ega yang membuatku sedikit berfikir, mungkinkah kak Ega masih menyimpan perasaan lain padaku.


"Tidurlah, kakak masih ada tugas yang harus diselesaikan." Ucap kak Ega lembut, dia turun dari sofa dan duduk di karpet berbulu yang di bawah sofa, ada tumpukan buku dan laptop diatas meja bundar yang berada dihadapannya.


Aku tidak segera kekamar, aku masih duduk disofa dan mengamati punggung kak Ega yang sudah mulai berkutat dengan laptop dan buku-bukunya. Beberapa kali aku menguap, hingga tanpa sadar aku terlelap diatas sofa.


***


Dengan terpaksa aku membuka mataku saat cacing-cacing diperutku terus saja berbunyi, gara-gara putus cinta aku sampai melanggar motto yang kubuat sendiri, sebesar apa masalahmu makan tetaplah nomor satu, tapi nyatanya sedari kemarin aku tak merasa lapar, patah hati membuatku kenyang seharian.


Saat mataku sudah terbuka sepenuhnya aku terkejut melihat kak Ega tidur dengan posisi duduk, kepalanya dia rebahkan di atas sofa. Aku merasa bersalah karena merebut tempat tidurnya lagi, kasian sekali pasti badannya akan pegal-pegal saat bangun nanti.

__ADS_1


Aku mengamati wajah Ega yang begitu damai, wajahnya nampak tirus dan tubuhnya terlihat lebih kurus dari sebelumnya, dia pasti sangat sibuk hingga lupa makan seperti biasanya. Sekilas senyum terukir dibibirku. "Seandainya dia bukan kakakku." Astaga apa yang aku fikirkan, aku segera menepis fikiran aneh dikepalaku, aku segera berdiri dan mencari sesuatu yang bisa kumakan pagi buta begini.


"Apa yang kamu makan?"


Aku kaget melihat kak Ega yang tiba-tiba muncul didepanku. "Mie instan. Maaf aku membangunkan kakak ya?."


Kak Ega duduk disebelahku, dia meraih air mineral dan meminumnya hingga habis. "Sudah habis?" Tanyanya sambil menatap mie instan milikku.


"Tinggal sedikit, kakak mau?"Tawarku.


Kak Ega tersenyum dan langsung menarik piring berisi mie instan yang hampir habis itu, dia menggulung mienya dengan garpu lalu memasukannya kedalam mulut.


"Dua tahun tidak bertemu, kebiasaan memakan makanan sisa adikmu tidak juga berubah." Ujarku sambil menatap kak Ega yang tengah sibuk mengunyah.


"Susah merubahnya, setiap yang kamu makan kelihatannya enak, kakak mau lagi, tolong buatkan satu lagi."


"Kenapa hanya satu, aku juga masih belum kenyang."


"Biarkan saja, wleeek" Jawabku sembari mengukurkan lidah. Aku berdiri dan kembali memasak 3 bungkus mie instan legendaris buatan Indonesia yang terkenal dengan jargonnya aindomiee seleraku 😂😂😂.


Aku dan kak Ega kembali menikmati 3 bungkus mie instan goreng yang sengaja aku jadikan satu. Salah satu momen bersama kak Ega yang sangat aku rindukan, makan bersama sambil tertawa, setelah dua tahun lamanya akhirnya aku bisa makan bersama kak Ega lagi.


Siangnya kak Ega mengajakku dan ibu berjalan-jalan disekitar kampus, kak Ega sengaja ingin menunjukkan kampus tempatnya menempuh pendidikan, aku semakin bangga dengan kak Ega, karena tidak semua orang bisa kuliah dikampus ini.


"Bagaiamna kalau Indhi juga sekokah disini?" Usul ibu setelah kak Ega mengajak kami berkeliling.


"Mahal bu, kasian ibu, lagipula nanti ibu di rumah sama siapa?"


"Uang kan bisa dicari, yang penting anak-anak ibu mendapatkan pendidikan yang terbaik." Ucap ibu semabari menatapku dan kak Ega bergantian.


" Di Indonesia juga banyak kampus yang bagus, untuk apa jauh-jauh kesini, Indhi tidak bisa makan seblak disini bu."

__ADS_1


Ibu dan kak Ega tertawa mendengar celotehku, lagi pula aku juga tidak tertarik untuk sekolah diluar negeri, selain jauh dan mahal, aku tidak akan cocok dengan makanan disini, lidahku terbiasa dengan nasi uduk, seblak, nasi padang dan banyak makanan lainnya yang tidak bisa aku tinggalkan.


Setelah puas berkeliling kak Ega mengajak kami untuk makan siang. Baru saja aku bicarakan, lidahku tidak akan cocok dengan menu disini, aku hanya memesan ayam dan kentang goreng yang rasanya sudah pasti diterima oleh lidahku


***


Sorenya aku memutuskan untuk jalan-jalan sendiri disekitar apartemen kak Ega, aku menikmati suasana sore dimusim semi yang begitu cantik, di Indonesia jarang sekali menemukan bunga-bunga bermekaran disepanjang jalan seperti ini.


"Sudah kubilang jangan pergi sendiri, nanti nyasar lagi."


Aku menoleh dan tersenyum melihat kak Ilham yang berada dibelakangku, aku fikir aku tidak akan bertemu dengannya lagi, tapi sepertinya selama aku disini, aku akan sering bertemu dengan kak Ilham.


"Kalau hanya disini aku tidak akan nyasar kak."


"Oh ya." Kak Ilham duduk dikursi yang berada ditrotoar, aku mengikutinya dan duduk disebelahnya.


"Cantik ya." Ucapnya sembari memandang bunga-bunga bermekaran diseberang jalan.


"Hem."Jawabku singkat.


Kak Ilham menoleh kepadaku. "Kapan kamu akan pulang ke Indonesia?"


" Lusa."


"Oh."


Kami kembali menatap bunga yang berwarna-warni itu. Namun kemudian mataku teralihkan pada seseorang yang baru saja menuruni taxi, seseorang yang kini tak ingin aku temui namun begitu aku rindukan, Arzean Wijaya.


"Kak, aku pergi dulu ya, ibuku pasti mencariku." Pamitku kepada kak Ilham, aku segera berdiri dan berlari sebelum kak Zean melihatku.


"April.." Teriak kak Zean dari kejauhan. Aku terus saja berlari, lagipula yang dia panggil bukan namaku, bukan salahku tak mau berhenti, salahnya sendiri selalu keliru menyebut namaku.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2