Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 64 Bianglala


__ADS_3

Aku masih meringkuk di atas ranjang kak Ega saat mendengar langkah kaki kak Ega keluar dari kamar mandi.


Aku bangun dan duduk bersender di headboard saat kak Ega sudah keluar dari kamarnya. Mungkin dia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasanya.


Aku menekuk kedua kakiku, perasaanku berkecamuk tak menentu. Apa yang harus aku lakukan setelah ini, apa aku masih bisa bersikap biasa saja setelah mendengar semua pengakuan kak Ega? Bagaimana jika setelah ini hubungan kami menjadi jauh, apakah aku akan benar benar kehilangan kakakku sekarang?


Aku meraih ponselku dan menelfon kak Zean, mungkin dengan mendengar suaranya, aku akan merasa lebih baik.


" Ya sweety." Jawab kak Zean dari seberang sana.


" Kak." Kataku dengan suara serak.


" Kenapa suaramu begitu, kamu menangis?" Tebak kak Zean tepat sasaran.


" Sepertinya aku flu, hari ini aku tidak bisa ke sekolah."


" Flu, bagaimana bisa? Sudah minum obat? Mau kedokter? Aku kesana sekarang." Kata kak Ega panik.


" Kak."


" Ya sweety, apa ada yang sakit?" Tanya kak Zean penuh kekhawatiran.


" Aku cuma flu dan aku cuma butuh istirahat, aku juga sudah minum obat, kakak tidak perlu kemari, aku nggak mau kakak tertular nanti." Aku terpaksa berbohong kepada kak Zean.


" Kamu yakin tidak perlu ke dokter?"


" Iya kak?"


" Mau aku belikan sarapan?"


" Nggak perlu kak, ada kak Ega di rumah, dia sudah membuat sarapan untukku."


" Kak Ega, hmm, syukurlah kalau ada dia di rumah."


" Sudah dulu kak, kakak harus berangkat ke sekolah kan."


" Hubungi aku kalau flunya tidak membaik."


" Iya kak."


Aku melempar ponselku ke atas tempat tidur lalu menangkup wajahku dengan kedua tanganku.


Huh, mari bersikap biasa saja dan temui kak Ega. Anggap saja ucapan kak Ega barusan hanyalah sebuah lelucon, aku tidak akan berubah karena selamanya kak Ega adalah kakakku.


Aku pergi ke kamarku untuk membasuh wajahku dan berganti pakaian sebelum turun ke bawah. Untung saja aku masih meninggalkan beberapa potong pakaian di rumah ini,jika tidak aku akan kepanasan dengan setelan jeans dan hodiie ini.


Aku melihat kak Ega sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk kami. Aku berjalan mendekatinya lalu duduk di kursi meja makan.


" Apa yang kakak buat?" Aku bertanya setelah beberapa kali mengumpulkan keberanianku.


" Kamu sudah bangun?" Kak Ega malah balik bertanya.


" Hmm. Sudah baikan?"

__ADS_1


" Sudah, terimakasih sudah merawat kakak semalaman. Kamu nggak sekolah?" Tanya kak Ega sambil melihat jam tangannya.


" Sudah kesiangan. Kenapa kakak nggak bangunin aku?"


" Maaf, kakak nggak tega bangunin kamu tadi."


" Kakak nggak kerja?"


" Kakak izin sakit hari ini." Kata kak Ega sambil menaruh piring berisi sandwich di depanku.


" Pasti enak?" Ucapku sambil mengikat rambut.


" Ndi."


"Hmm." Jawabku singkat karena mulutku penuh berisi makanan.


" Lehermu." Kak Ega menunjuk tanda merah di leherku.


" Ah, ini." Aku salah tingkah sambil berusaha menutupi dengan tanganku.


" Aku tadi berasa masuk angin jadi aku kerokan kak, tapi ternyata sakit jadi aku tidak melanjutkannya." Astaga, lihat siapa yang sedang aku bohongi, mana mungkin kak Ega akan percaya dengan karanganku.


" Kerokan?" Tanya kak Ega penuh selidik.


" Ya, kerokan , dengan koin." Kilahku sambil mempraktekan gerakan kerokan.


" Perlu kakak belikan obat."


" Nggak usah kak, aku sudah merasa sehat sekarang."


" Kakak yakin sudah sehat?"


" Ya."


Setelah sarapan kami kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Aku menatap cermin dan memperhatikan tanda merah yang warnanya sudah mulai pudar.


Aku memakai celana jeans dan kemeja berwarna putih yang membuatku terlihat lebih dewasa dari umurku, aku sengaja menggunakan baju berkerah agar bisa menutupi tanda merah hasil kenakalan kak Zean.


Setelah siap aku turun dan menyusul kak Ega yang sudah menunggu di depan rumah. Aku mengunci pintu dan pagar sebelum masuk ke dalam mobil kak Ega.


" Mau kemana kak?"


" Jalan-jalan aja. Udah lama kan kita nggak jalan-jalan."


" Kalau ibu tau aku bolos sekolah gimana?"


" Kakak udah ngasih tau ibu, kamu izin sakit."


" Ibu nggak marah?"


" Enggak, kata ibu kakak harus merawatmu."


" Dosa nggak sih bohong sama ibu?"

__ADS_1


" Kamu kan memang lagi nggak enak badan, buktinya kamu sampai kerokan kaya gitu ." Ucap kak Ega yang seperti sedang menyindirku.


Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi mendengar kalimat sindiran kak Ega. Bagaimana mungkin aku berfikir jika kak Ega percaya dengan alasanku, sementara kak Ega adalah laki-laki dewasa yang pasti tidak asing dengan hal demikian.


Sepanjang perjalanan aku hanya diam, aku bahkan tak berani bertanya kemana kak Ega akan membawaku pergi. Semua pertanyaanku terjawab saat mobil kak Ega memasuki area sebuah taman hiburan. Sebuah tempat yang setelah kepergian ayah tidak pernah kami datangi lagi.


" Kak." Ucapku tak percaya.


" Apa?"


" Kenapa mengajakku kesini?"


" Kakak akan mengabulkan semua permintaan yang kamu tulis waktu itu dan pergi ke taman hiburan adalah hal pertama yang kakak wujudkan."


" Kakak masih menyimimpan daftar konyol itu?"


" Tentu saja. Ayo turun."


Aku turun dari mobil dengan penuh semangat dan mengekori kak Ega yang akan membeli tiket. Setelah membeli dua lembar tiket, kak Ega menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam taman hiburan. Suasana di dalam taman hiburan tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pengunjung, mungkin karena masih terlalu pagi dan bukan akhir pekan.


Kak Ega menarikku menuju salah satu wahana di taman hiburan itu.


" Kakak mau naik itu." Kata kak Ega sambil menunjuk wahana bianglala.


Tanpa menunggu persetujuanku kak Ega kembali menarik tanganku dan menaiki Bianglala sesuai keinginanya.


Kami duduk saling berhadapan, ketika posisi kami semakin tinggi kami di suguhkan dengan pemandangan yang luar biasa, kami bisa melihat seisi kota dari atas sini.


Bianglala yang kami naiki berhenti berputar saat posisi kami tepat berada di titik paling atas. Meskipun indah, aku tak bisa menutupi ketakutanku, tanganku mulai bergetar saat melihat ke bawah sehingga aku memilih untuk memejamkan mataku. Aku begitu tinggi, bagaiaman jika aku jatuh. Begitulah kira-kira yang aku fikirkan saat ini.


" Tenang ada kakak disini ,kamu nggak perlu takut." Ucap kak Ega setelah meraih kedua tanganku dan menggenggamnya.


" Buka matamu." Pinta kak Ega lembut.


Perlahan aku mulai membuka mataku, saat kepalaku akan melihat ke bawah kak Ega menahannya dan mendungakkan kepalaku dengan telunjuk tangannya.


" Jangan lihat ke bawat, lihatlah kita sangat dekat dengan langit." Kak Ega ikut mendungakkan kepalanya.


Aku tersenyum saat melihat gumpalan awan putih yang menghiasi langit siang ini, rasa takutku seperti hilang seketika.


" Kak, bukankah awan itu mirip permen kapas, sepertinya sangat manis jika aku memakannya."


" Dasar gadis bodoh, mana bisa kamu memakan awan."


" Aku hanya bercanda kak."


" Kak." Panggilku sembari memandang wajah kak Ega.


" Apalagi?"


" Apa kakak tidak ingin menikah?"


Kak Ega tidak langsung menjawabnya, dia menatapku dan pandangan kami bertemu, dia tersenyum lalu mengusap rambutku.

__ADS_1


" Kamu mau menikahi kakak?"


...BERSAMBUNG...


__ADS_2