Lara Cintaku

Lara Cintaku
BAB 26 Hampir saja


__ADS_3

Aku mengusap rambutnya dan perlahan menarik tubuhnya ke dalam pelukanku.


"Menangislah lagi jika masih sedih, keluarkan semuanya, bebaskan hatimu dari amarah dan kebencian, tapi setelahnya berjanjilah untuk tidak pernah memangis lagi".


Akhirnya dia menangis lagi, tapi kali ini dia tak sendiri, ada aku yang berada di sisihnya. Entah kenapa dadaku terasa sesak mendengar tangisannya, rasanya aku ingin segera menghentikan tangisnya, dan melihat senyumnya lagi. Aku benar-benar tidak tahan melihat dia menangis. Lama berlalu, sudah tak terdengar isak tangisnya lagi, dia melepaskan diri dari pelukanku dan menunduk, sepertinya dia malu.


" Makasih ya kak, udah nemenin aku." Ucapnya dengan suara parau dan mata yang sembab.


" Hmm." Jawabku singkat sambil menyelipkan rambut ke belakang telinganya.


" Sudah tenang, bisa kita pergi sekarang?" Ajakku lalu berdiri.


" Bisa bawa aku ke hotel?" Pertanyaannya sedikit ambigu dan membuatku sedikit terkejut.


" Maksudku bisa kakak anterin aku ke hotel, aku masih ingin sendiri, belum pengin pulang." Jelasnya lagi, mungkin dia mengerti aku sempat bingung dengan ucapannya.


" Sendirian? Hmm maksudku apa tidak bahaya menginap di hotel sendirian?."


" Gimana kalau pergi ke tempat Fajar aja?" Tawarku lagi.


" Nggak kak, aku lagi pengin sendiri aja." Tolaknya.


" Ibu sama kakak kamu pasti khawatir, mungkin lebih baik kamu pulang aja, bicarain baik-baik sama ibu kamu." Aku berusaha menyakinkan dia agar mau pulang.


Dia hanya menggeleng. Melihat wajah sedihnya akhirnya aku mengalah dan menuruti keinginanya. Kami akhirnya turun dari bukit. Aku berjalan lebih dulu, tangan kiriku memegang ponsel untuk menerangi jalan sementara tanga kananku menuntun tangannya yang berada di belakangku.


Baru beberapa langkah, dia mengaduh kesakitan, aku berhenti dan berbalik ke arahnya.


" Kenapa?"Tanyaku sedikit panik.


" Kakiku sakit kak."


Aku menyuruhnya duduk dan aku memeriksa kakinya dengan bantuan senter ponsel.


" Astaga, gimana nggak sakit, kaki kamu bengkak kaya gini, gimana ceritanya bisa luka kaya gini sih?."Aku keget melihat pergelangan kakinya bengkak dan sudah membiru.


" Tadi pas naik aku sempet jatuh."


" Sakit banget ya. Makannya kalau jalan hati-hati, jangan sambil ngelamun jalannya, jadinya cedera gini kan kaki kamu" Ceramahku.


" Iya maaf." Jawabnya sambil menunduk dan menahan rasa sakit.


" Ayo naik." Tawarku setelah membalik badan.


" Aku masih bisa jalan kak."


" Kalau kamu paksain jalan nanti nambah parah lukanya!"


" Tapi aku berat kak." Tolaknya lagi

__ADS_1


" Udah ayo buaruan naik, keburu malem!"


Setelah menimbang beberapa saat akhirnya dia naik kepunggungku. Aku berdiri dan menyerahkan ponselku agar dia memegangnya dan bergegas turun dari bukit karena hari semakin malam.


" Berat ya kak?" Ucapnya lagi dan membuatku merinding karena hembusan nafasnya mengenai leherku.


" Lumayan, heheh."


" Aku turun aja kak, kasian kakak capek!"


" Kalo kamu jalan yang ada besok kita baru sampai mobil."


Dia tidak menjawab lagi, kami melanjutkan perjalanan dengan hening, hanya suara binatang malam yang menemani perjalanan kami.


Aku mendudukannya di kursi penumpang lalu memakaikan sabuk pengaman setelah kami sampai di mobil. Saat sedang memasang sabuk pengaman aku menoleh ke arahnya dan mata kami saling bertemu, wajah kami sangat dekat sampai kami bisa merasakan hembusan nafas masing masing. Aku mendekatkan wajahku, mengamati wajahnya yang ayu membuatku kesulitan menelan salivaku, pandanganku beralih ke bibirnya yang ranum dan tanpa aku sadari aku mengarahkan bibirku mendekat bibirnya. Belum sempat menyentuh bibirnya tiba- tiba terdengar suara dari perutnya yang kelaparan. Menyadari perbuatanku aku segera menjauhkan wajahku dan bergegas mengeluarkan kepalaku dari dalam mobil.


Dasar bodoh, kenapa aku tak bisa menahannya sih, apa yang akan dia pikirkan tentangku nanti. Pasti dia akan menganggapku cabul. Akhirnya dengan canggung aku masuk kedalam mobil dan melajukan mobilku.


" Ini dimana kak?" Tanyanya penasaran karnea tidak membawanya ke hotel.


" My home."


" Aku kan minta di anterin ke hotel kak, kenapa malah ke rumah kakak."


" Wait, jangan marah dulu, aku jelasin alasannya. Pertama kamu masih di bawah umur, kamu belum punya KTP buat check-in nantinya dan yang kedua kaki kamu harus segera di obatin, ketiga kamu nggak mau di antar ke tempat sahabat kamu, jadi jalan satu-satunya adalah pulang ke rumah aku."


" Tapi kak....


Perdebatan selesai, akhirnya dia mengalah dan mau menginap di rumahmu.


Aku kembali menggendongnya, membawanya masuk ke rumahku dan mendudukannya di sofa. Aku mengambil es batu dan kain untuk mengompres kakinya yang bengkak.


" Kamu yakin nggak perlu ke rumahsakit?" Tanyaku sambil mengompres pergelangan kalinya.


" Nggak usah kak, besok juga udah sembuh."


" Den, ini susunya mau di bawa ke situ apa di sini aja?" Tanya mbok Yem dari dapur.


" Taruh situ aja mbok, nanti Ze kesitu."


" Bisa jalan? Kita pindah ke dapur, kamu laper kan biar aku masakin sesuatu."Tanyaku setelah selesai menggompres kakinya.


" Tunggu sebentar ya, biar aku bikinin nasi goreng dulu." Dia mengangguk dan duduk di sebelah meja makan.


Aku sibuk dengam nasi gorengku, untungnya semua bumbu dan bahan lainnya sudah di siapkan oleh mbok Yem tadi, jadi aku hanya perlu memasukan semua bahan dan mencampurnya.


" Nasi goreng siap, dengan toping 2 telor mata sapi tentunya." Aku menaruh dua piring nasi goreng di atas meja makan.


" Kakak bisa masak?" Tanyanya sedikit ragu.

__ADS_1


" Cuma beberapa menu aja..Cobain mumpung masih panas, nanti kalau dingin udah nggak enak."


Dia memasukan sendok berisi nasi goreng ke dalam mulutya, dia menguyah dengan perlahan, dan tiba tiba tersenyum ke arahku.


" Enak nggak?" Tanyaku penasaran.


" Lumayan."


" Kalau nggak enak jangan di paksa makannya." Aku menarik piringnya.


" Apaan si kak, orang enak kok, enak banget malah." Menarik lagi piringnya dari-ku.


" Tadi kata kamu cuma lumayan."


Dia menggeleng sambil tesenyum dan melanjutkan makannya.


" Ini susunya." Aku menyodorkan segelas susu hangat ke arahnya.


" Maaf kak, aku nggak bisa minum susu!." Jawabnya penuh penyesalan.


" Why. Alergi?"


" Bukan alergi, cuma aku dari kecil memang nggak suka susu kak, keterusan deh sampe sekarang."


Aku mengambilkan air putih sebagai gantinya dan mengajaknya ke kamar agar dia bisa istirahat.


Aku memapahnya menaiki tangga menuju kamarku, dia terlihat gugup tapi aku pura-pura tidak menyadarinya.


Aku membantunya duduk di tepi ranjang dan aku pergi mengambil pakaianku di dalam lemari lalu menyerahkan kepadanya.


" Pakailah, biar nyaman tidurnya. Kamar mandinya di sebelah sana, kamu bisa berendam air hangat dulu, tadi mbok Yem sudah menyiapkan air hangatnya."


" Kamu bisa jalan ke kamar mandi nggak?"


" Bisa kak." Jawabnya singkat padat dan jelas.


Dia berjalan kedalam kamar mandi dengan kaki pincangnya. Aku duduk di tepi ranjang, mengeluarkan ponselku lalu menghubungi kak Ega. Dia pasti sangat khawatir.


" Halo, siapa ya?" Tanya kak Ega dari seberang sana.


" Ini aku kak, Zean temennya Indhi. Indhi ada di rumahku sekarang tadi aku menemukannya sedang menangis di bukit belakang kampusku kak."


" Gimana keadaannya sekarang, dia baik baik aja kan. Apa dia masih menangis, apa dia sudah makan." Kak Ega memberondongkan pertanyaan kepadaku.


" Tenang kak, Indhi baik-baik aja, dia sudah makan tadi, cuma kakinya sedikit bengkak karena keseleo tadi."


" Terus kenapa Indhi malah ada di rumahmu bukannnya pulang ."


" Indhi akan menginap di sini kak...."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2