Lara Cintaku

Lara Cintaku
EXTRA PART


__ADS_3

Sebulan sudah Zean pergi untuk selamanya dan Indhi masih larut dalam kesedihannya, hari-harinya hanya ia habiskan mengurung diri didalam kamar. Karena terlalu khawatir dengan kondisi putrinya, ibu memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjaga Indhi.


Pagi ini Sam datang lagi, sebelum berangkat sekolah mamy mengantarnya untuk menemui Indhi terlebih dahulu karena hanya Sam yang bisa membujuk Indhi untuk makan.


Beberapa kali Sam mengetuk pintu kamar Indhi namun tak juga dibuka oleh pemilik kamar, Sam kembali turun ke bawah menemui mamy dan juga ibu Tika yang tengah berbincang didapur.


Ribuan kali ibu Tika mengucapkan maaf kepada mamy, karena masalah keluarganya Zean harus meregang nyawanya. Namun siapa sangka ternyata mamy begitu legowo, baginya semua sudah diatur oleh sang pencipta. Bukan mamy tak bersedih karena ditinggal oleh putra pertamanya, mamy begitu berduka, namun mamy sadar duka tidak akan membawa Zean hidup kembali, untuk itu mamy memutuskan untuk tegar dan berusaha kuat melewati semua ini. Mamy juga berharap ibu Tika bisa menghilangakn rasa bersalahnya karena ini semua bukan kesalahannya.


"My kak Indhi tidak membuka pintunya." Ucap Sam, dia menaruh piring yang dibawanya diatas meja makan.


"Mungkin kak Indhi masih tidur." Jawab mamy seraya mengelus kepala Sam.


"Tapi tidak biasanya dia belum bangun jam segini, saya akan memeriksanya sebentar." Ibu beranjak dari tempat duduknya dan naik kekamar Indhi.


"Ndi bangun nak, adikmu disini."


"Indhi, buka pintunya, kasian Sam menunggu lama."


"Indhi." Teriak bu Tika seraya menggedor pintu kamar Indhi yang tak kunjung dibuka.


Mendengar keributan dilantai atas mamy dan Sam akhirnya menyusul ibu Tika naik kekamar Indhi. Ega yang juga kebetulan belum berangkat bekerja segera keluar dari kamarnya setelah mendengar teriakan ibu.


"Ada apa bu?" Tanya Ega begitu dia keluar dari kamarnya.


"Adikmu belum bangun, pintunya juga dikunci, ibu takut terjadi sesuatu dengan Indhi."


Mendengar penjelasan ibu, Ega segera meraih kenop pintu dan berusaha membukanya.


"Indhi buka pintunya, ini kak Ega."


Karena khawatir Ega memutuskan untuk mendobrak pintu itu. Braakkk, setelah tiga kali tendangan akhirnya pintu itu terbuka, mereka semua segera masuk dan mendapati Indhi terbaring diatas tempat tidurnya.


Ibu menjerit histeris manakala melihat mulut putrinya mengeluarkan busa. Ega segera menghampiri Indhi dan memeriksa apa yang terjadi dengan Indhi. Mata Ega memanas saat melihat tubuh adik kesayangannya terkulai tak berdaya, dia membersihkan busa yang keluar dari mulut Indhi sehingga menampakan bibirnya yang membiru, Ega memeriksa ujung jari adiknya dan dugaannya benar, ujung jari Indhi membiru menandakan Indhi overdosis obat anti depresan.


"Indhi overdosis, kita kerumah sakit sekarang." Seru Ega lalu dia membopong tubuh Indhi dan bergegas membawanya kerumah sakit.


Ega meletakan tubuh Indhi dikursi belakang bersama dengan ibu, sementara mamy dan Sam membawa mobil sendiri dan mengikuti mobil Ega dari belakang.


"Fokus Ega, fokus, Indhi baik-baik saja, dia gadis yang kuat, dia akan baik-baik saja." Ucap Ega lirih, dia berusaha menenangkan dirinya, tangannya gemetar hebat namun dia harus tetap fokus pada kemudinya dan membawa Indhi kerumahsakit.


Sementara dikursi belakang ibu tak hentinya menangis, dia meratapi nasib buruk yang menimpa putri kecilnya itu.


"Bangun nak, jangan tinggalkan ibu. Buka matamu Ndi, ibu takut sekali. Jangan tinggalkan ibu nak, ibu tidak sanggup jika harus kehilanganmu."


Lima belas menit menit kemudian Ega sudah sampai dirumahsakit, dia menghentikan mobilnya tepat didepan UGD, Ega keluar dan segera membopong tubuh Indhi masuk kedalam ruang gawat darurat itu.


"Dokter Kevin." Ucap salah seorang dokter jaga yang mengenali Ega.


"Tolong adikku, dia over dosis."


Ega segera membawa Indhi masuk kedalam ruang tindakan, dia meletakan tubuh Indhi diatas brankar dan bersiap untuk mengobatinya.


"Sebaiknya dokter Kevin tunggu diluar, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan adik anda." Ucap salah seorang dokter yang berada diruangan itu.

__ADS_1


Ega menurut dan segera keluar, meskipun dia seorang dokter tapi dia tidak bisa mengobati Indhi dalam keadaan emosional seperti ini, akhirnya Ega mempercayakan Indhi untuk ditangani oleh dokter lain.


Ega keluar dari ruangan itu dan segera menghampiri ibu yang tengah dipeluk oleh Mamy.


"Bagaimana keadaan adikmu, kenapa kamu keluar?" Tanya Ibu dengan air mata berderai diwajahnya.


"Dokter lain yang menangani Indhi, Ega tidak bisa melakukannya bu." Ucap Ega penuh sesal.


" Sabar bu Tika, Indhi pasti bisa melewati semua ini, dia gadis yang kuat." Ucap Mamy seraya mengelus punggung ibu.


Satu jam lebih Indhi berada diruang perawatan, Ega mondar-mandir didepan diruangan itu diliputi oleh kecemasan dan ketakutan akan kehilangan orang terkasihnya.


Setelah hampir dua jam akhirnya dokter dan perawat yang menangani Indhi keluar, Ega segera menghampiri dokter itu disusul oleh ibu dan mamy, sementara Sam duduk dikursi yang tunggu.


"Bagaimana dok?" Tanya Ega dengan wajah piasnya.


"Syukurlah pasien sudah melewati masa kritisnya, kami terpaksa melakukan Bilas Lambung untuk mengeluarkan obat-obatan yang belum tercerna."


"Teriamakasih banyak dok, apa saya boleh menemuinya sekarang."


"Sebaiknya tunggu sampai pasien dipindahkan keruang perawatan. Kalau begitu saya permisi."


Meskipun belum bisa menemui Indhi namun Ega bisa bernafas lega karena Indhi bisa diselamatkan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Indhi meninggalkannya untuk selamanya.


Beberapa jam kemudian Indhi sudah dipindahkan keruang perawatan namun dia belun juga sadar, Mamy dan Sam sudah pulang terlebih dahulu, kini hanya ada Ega dan ibu yang duduk disebelah ranjang perawatan Indhi.


Matahari mulai tergelincir kebarat, Ega masih setia menunggu adiknya yang belum juga sadar. Dia menggenggam erat tangan Indhi dan beberapa kali mencium punggung tangannya.


Tok tok tok, terdengan suara ketukan pintu dan sesaat kemudian pintu terbuka, Arum dan Dita segera masuk setelah ibu mempersilahkan mereka. Mereka baru tau jika Indhi masuk rumahsakit dan segera datang.


Belum juga melihat wajah sahabatnya, Ega sudah berdiri dan menghampiri mereka.


"Ikut kakak." Seru Ega lalu keluar dari ruang perawatan Indhi dan diikuti oleh kedua gadis itu.


"Kalian mau kemana?" Tanya ibu tapi tak mendapatkan jawaban dari mereka.


***


Ega membawa keduanya kebelakang rumahsakit. Arum dan Dita saling melempar pandang, mereka bingung kenapa Ega membawa mereka kemari.


"Siapa yang bisa menjelaskan ini?" Tanya Ega sembari menunjukan botol bekas obat yang diminum Indhi.


Setelah dirumahsakit, Ega sempat menelfon bi Sumi dan menyuruhnya untuk mencari apapun yang berada dikamar Indhi, bi Sumi menemukan dua botol obat anti depresan dan mengantarnya kerumahsakit sesuai perintah Ega.


"Jawab, siapa dari kalian yang membantu Indhi mendapatkan ini?" Seru Ega meninggikan suaranya.


"Apa itu kak?" Jawab Arum sembari meraih botol yang tengah dipegang Ega, sementara Dita hanya menunduk dan tidak berani menatap Ega.


"Obat anti depresi, obat inilah yang hampir membunuh Indhi."Terang Ega, matanya menatap tajam kearah Dita yang masih menunduk.


Arum menutup mulutnya, dia terkejut mendengar penjelasan Ega, dia tidak menyangka Indhi akan berbuat senekat itu. Menyadari tatapan tajam Ega, Arumpun kini ikut menatap Dita yang masih menunduk disebelahnya.


"Jangan bilang kamu yang membelikan obat ini untuk Indhi." Tanya Arum tak percaya.

__ADS_1


"Rum, pergilah sebentar, kakak ingin berbicara dengan Dita."


"Tapi kak."


"Hanya sebentar."


Arum menurut dan meninggalkan mereka berdua. Namun Arum tak pergi jauh dari tempat itu, dia bersembunyi dan ingin mendengar percakapan mereka.


"Kau gila?" Bentak Ega setelah Arum pergi.


"Maaf." Jawab Dita dengan terisak. "Indhi meminta tolong padaku, dia memohon karena terus mendengar suara kak Zean. aku sungguh tak berfikir Indhi akan melakukan hal nekat seperti ini kak."


"Harusnya kamu mengajaknya menemui dokter bukan malah membelikannya obat itu. Aku sunggung kecewa padamu." Ega menghentikan kalimatnya, dia mengusap wajahnya dengan kasar lalu kembali menatap Dita. "Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi, aku mau hubungan ini selesai sampai disini."


Dita yang semula menunduk kini mulai mengangkat kepalanya, dia menatap wajah Ega dengan mata berkaca-kaca, tak percaya dengan apa yang dikatakan Ega.


"Tapi kenapa, apa salahku kak?" Tanya dia dengan suara bergetar.


"Kau hampir membunuh adikku." Bentak Ega hingga membuat Dita terkejut.


"Aku?" Dita menunjuk dirinya sendiri. "Indhi melakukan semua itu atas dasar kemauannya sendiri dan kakak menyalahkanku?" Seru Dita tak terima disalahkan.


"Jangan jadikan ini sebagai alasan kau ingin putus dariku, sejak awal kakak tidak pernah menyukaiku kan, kakak hanya kasihan padaku karena aku terus memohon kepada kakak kan." Dita diam sejenak, dia mengatur nafasnya yang mulai memburu karena emosi. "Bukankah sudah kubilang, aku akan menunggu sampai kakak melupakan perasaan kakak untuk Indhi, jadi jangan bilang begitu, jangan tinggalkan aku kak." Iba Dita, air mata telah membasahi wajahnya.


"Aku tidak bisa melupakan perasaan ini, aku begitu mencintainya, maaf karena menyakitimu, aku harap kamu mengerti." Ucap Ega lalu dia meninggalkan Dita yang masih terisak


Arum yang bersembunyi dan tak sengaja mendengar percakapan mereka masih menganga tak percaya dengan apa yang didengarnya. Arum tak menyangka jika mereka memiliki hubungan spesial, karena selama inipun Dita tak pernah bercerita apapun kepadanya.


Arum memberanikan diri untuk mendekati Dita yang masih menangis, dia memegang bahu sahabatnya sehingga Dita menoleh.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Dita terbata, dia berusaha mengusap air mata diwajahnya.


"Sejak kapan?" Tanya Arum singkat namun jelas maksudnya.


"Apa maksudnu?"Dita mencoba mengelak.


"Aku mendengar semuanya, sejak kapan kalian memulainya?"


Dita menghela nafas panjang, Arum sudah mendengar semuanya, mau tidak mau dia harus menceritakan semuanya.


"Kau ingat saat Indhi bercerita bahwa kak Zean membelikan rumah untuknya dan mengajaknya menikah? Waktu itu kak Ega baru saja pulang dari MarryLand." Dita memulai ceritanya dan Arum hanya mengangguk.


"Aku tak sengaja melihat kak Ega dibar, aku menemuinya dan dia sedang mabuk, dia menceritakan semuanya, dia bilang cintanya sudah berakhir."


"Setelah kejadian itu, kak Ega sering bercerita kepadaku dan aku fikir kami semakin dekat. Saat kak Ega juga bekerja dirumahsakit yang sama denganku, perasaanku mulai berubah, awalnya aku hanya mengaguminya dan tanpa aku sadari aku mulai menyukainya."


"Setengah tahun aku memendamnya dan akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan ini kepada kak Ega. Sejak awal akulah yang salah, aku yang memaksanya dan berjanji akan menunggunya sampai dia melupakan Indhi."


Arum segera memeluk sahabatnya, seketika air mata Dita tumpah dan dia kembali menangis dipelukan Arum.


"Aku mohon rahasiakan ini dari Indhi, aku tak mau dia menyalahkan dirinya sendiri, dia sudah cukup menderita dengan kepergian kak Zean, aku tak mau menambah beban hidupnya."


Arum hanya mengangguk mendengar permintaan Dita, dia setuju dengan permintaan sahabatnya, melihat kondisi Indhi sekarang tidak memungkinkan baginya untuk menceritakan masalah antara Dita dan kak Ega.

__ADS_1


__ADS_2