Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 94 Keberangkatan kak Ega


__ADS_3

Pagi ini kak Ega akan mengantarkanku kesekolah, kak Ega sudah berhenti bekerja dari dua hari yang lalu dan kini dia tengah menganggur, kesibukannya hanya makan dan tidur, dia seperti sedang menebus waktunya yang banyak tersita dirumahsakit.


" Kak." Ucapku memecah keheningan didalam mobil.


" Apa." Jawab kak Ega, dia meliriku sebentar lalu fokus pada jalanan didepannya.


" Tidak jadi." Aku mengurungkan niatku untuk bertanya kepada kak Ega seberapa jauh jarak LA ke California.


Aku meraih ponselku dan segera mencari dimesin pencarian seberapa jauh jarak antara Los Angeles dan Santa Monica, alamat rumah kak Zean di California.


Aku membulatkan mataku saat melihat jarak diantara keduanya begitu dekat, mereka hanya butuh waktu sekitar 30menit untuk saling mengunjungi. Astaga, kenapa aku punya fikiran mereka akan saling mengunjungi satu sama lain.


Aku memasukkan kembali ponselku kedalam tas dan segera membuang jauh-jauh fikiran yang hanya akan menggangguku.


" Nanti kakak jemput ." Ucap kak Ega saat kami sudah berada didepan sekolah.


Aku segera keluar dari mobil kak Ega lalu bergegas masuk karena sebentar lagi bel masuk pasti akan berbunyi.


" Tumben telat." Cecar Arum saat aku sampai dikelas.


" Nunggu kak Ega bangun lama banget." Jawabku dengan nafas tersenggal karena berlari menuju kelas.


" Kak Ega beneran resign?" Tanya Arum lagi.


" Hm, dua hari lagi dia berangkat ke luar negeri."


" Bagaimana rasanya ditinggal dua orang sekaligus?" Ucap Arum menggodaku.


" Luar biasa."


" Kemana Dita?" Tanyaku setelah menyadari Dita tidak berada dikelas.


" Nggak masuk, ada urusan keluarga katanya."


**


Sepanjang jam pelajaran aku tidak bisa fokus sama sekali, aku masih menunggu kabar dari kak Zean, penerbangannya memakan waktu sekitan 20 jam dan mugkin saja dia bekum sampai.


Sampai jam pulang sekolah aku tak kunjung mendapat kabar dari kak Zean, padahal menurut perhitunganku harusnya dia sampai disana jam 12 siang, tapi ini sudah lewat jam 4 sore dan dia belum mengabariku.


Lelah menunggu aku memutuskan untuk mandi. Aku sudah melepaskan semua pakaianku saat aku mendengar ponselku berbunyi, aku meraih handuk dan melilitkannya ditubuhku.


Seperti dugaanku, aku tersenyum saat mendapati panggilan Vidio dari kak Zean.


" Kakak sudah sampai, jam berapa kakak sampai, kenapa baru menghubungiku sekarang?" Tanyaku tanpa jeda.

__ADS_1


" Kamu tidak pakai baju, apa yang sedang kamu lakukan?"


" Aku sedang mandi tadi."


" Oh, boleh aku lihat?"


" Lihat apa?" Tanyaku yang memang tidak mengerti maksud kak Zean.


" Yang di balik handuk." Goda kak Zean dengan senyuman diwajahnya.


" Bukannya sudah melihat." Balasku monohok.


" Ah iya aku lupa, ingin lihat lagi."


" Dasar mesum. Kapan kakak sampai?" Aku kembali bertanya.


" Baru saja, pesawatnya sempat delay." Jelas kak Zean mengobati rasa penasaranku


" Jam berapa disana sekarang kak?"


" Jam 2 pagi."


" Iatirahatlah, kakak pastu lelah, aku mau mandi dulu."


" Hemm, miss you sweety."


***


Dua hari kemudian..


Hari ini aku sengaja bolos sekolah agar bisa ikut mengantar kak Ega kebandara karena kakak memilih penerbangan pagi.


Saat aku turun aku melihat ibu tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk kami, beliau juga cuti hari ini karena akan mengantarkan kak Ega.


Aku tersenyum bahagia, rasanya aku melihat sosok ibu yang dulu, sosok yang sangat aku rindukan beberapa tahun ini.


" Apa yang membuatmu begitu bahagia sepagi ini." Ucap kak Ega yang ternyata sudah berada disebelahku.


" Lihatlah kak, ibu kita sudah kembali, dulu ibu selalu bersenandung seperti itu saat menyiapkan sarapan untuk kita dan ibu melakukan itu lagi hari ini."


" Syukurlah, kakak lebih tenang untung meninggalkanmu." Ungkap Kak Ega sambil mengelus rambutku.


Kami segera menghampiri ibu dimeja makan. Ibu tersenyum saat melihat kami. Dengan telaten ibu menyiapkan makanan dipiring kami. Aku dan kak Ega saling menatap, lama sekali rasanya ibu tidak seperti ini, aku sangat bersyukur Tuhan telah mengembalikan ibu seperti dulu lagi, semoga kedepannya ibu akan terus seperti ini. Jangan berubah lagi bu, aku mohon.


Setelah sarapan aku membantu kak Ega memasukkan kopernya kedalam mobil. Barang bawaannya lumayan banyak karena kak Ega akan belajar selama 5 tahun disana.

__ADS_1


Setelah keberangkatan kak Ega aku pasti akan sangat kesepian, tidak ada kak Zean maupun kak Ega yang akan menemaniku, mereka sudah tidak bisa mengantarku secara bergantian, aku akan bernagkat kesekolah sendirian lagi, mengingat semua itu membuatku ingin menangis.


Setelah semuanya siap kami segera masuk kedalam mobil, namun tiba-tiba ada sebuah mobil yang masuk kehalaman rumah ibu, kami tercekat saat melihat sipemilik mobil keluar.


" Sudah kuduga dia pasti akan menemukan rumah kita, mau apa lagi dia?" Ucap kak Ega jengkel saat melihat pemilik mobil adalah ibu kandungnya


" Ega, beri kesempatan dia untuk bicara, bagaimanapun dia ibumu, orang yang telah melahirkanmu." Ibu menahan tangan kak Ega saat dia hendak turun.


" Bicaralah baik-baik, ibu dan adikmu akan menunggu disini."


Kak Ega hanya mengangguk, dia keluar lalu mememui ibu kandugnya.


Aku dan ibu menunggu didalam mobil, menurut ibu kak Ega harus belajar menerima kenyataan dan balajar memaafkan. Kami mengamati mereka dari jauh, mereka terlihat berbincang dengan serius, namun kemudian kak Ega terlihat begitu emosi dan meninggalkan ibu kandungnya.


" Dasar tidak tau malu." Ucap kak Ega menahan amarah.


" Kenapa?"


" Dia masih saja memintaku untuk tinggal bersamanya bu, dia bilang dia sudah bercerai dari suaminya demi aku, seolah-olah akulah penyebab mereka bercerai, tolong jangan suruh Ega untuk berbicara dengan wanita itu lagi bu."


" Maafkan ibu nak, ibu tidak akan memaksamu lagi."


Setelah tenang kak Ega melajukan mobilnya dan meninggalkan wanita itu yang masih berada dihalaman rumah.


***


" Belajar yang rajin, kakak mungkin tidak bisa sering pulang." Ucap kak Ega setelah kami sampai dibandara.


" Hati-hati nak, pulanglah saat punya waktu."


" Akan Ega usahakan bu."


Kak Ega membawaku dan ibu kedalam pelukannya. Aku melihat mata ibu mulai berkaca-kaca, namun ibu berusaha tegar, ibu tidak ingin membebani kak Ega.


" Ibu sangat bangga padamu." Ucap ibu setelah kak Ega melepaskan pelukannya.


" Terimakasih bu, ini semua berkat ibu, Ega tidak akan menjadi seperti sekarang tanpa ibu."


" Sudah kewajiban ibu untuk mengantar anak-anak ibu menuju kesuksesan."


" Ega pamit bu."


Kak Ega menatapku sejenak lalu mengusap kepalaku, dia kemudian berbalik dan pergi meninggalkan kami. Kak Ega sama sekali tidak menoleh kebelakang, mungkin dia tidak ingin melihatku dan ibu bersedih melepas keberangkatannya.


Aku dan ibu meninggalkan bandara setelah kak Ega tidak terlihat lagi. Sekarang hanya tinggal kami berdua, sepasang ibu dan anak yang sedang mecoba memperbaiki hubungan mereka. Seperti kak Ega yang enggan menoleh kebelakang, aku harap ibupun demikian. Mari bersama menciptakan masa depan yang bahagia bu, aku menyayangi ibu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2