Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 66 Cinta Segitiga


__ADS_3

" Katanya flu, kok malah disini?" Ucap seseorang dengan sinis.


Aku menoleh ke arah sumber suara dan terkejut dengan apa yang aku lihat.


" Kak Zean." Ucapku setengah berteriak.


" Kenapa kaget begitu?" Tanya kak Zean lalu menarik kursi dan duduk di sebelahku.


" Masih flu?" Imbuh kak Zean.


" Udah mendingan." Aku menjawab sambil menunduk , aku tak berani menatap kak Zean rasanya seperti aku tertangkap basah sedang berselingkuh dengan kak Ega.


" Kak Ega nggak ke rumahsakit?" Tanya kak Zean sambil menatap kak Ega


" Nggak, aku cuti hari ini." Jawab kak Ega dan membalas tatapan kak Zean.


Lama mereka saling menatap dan membuatku canggung harus berada di antara mereka.


" Kak Zean mau makan?" Aku berusaha mencairkan suasana, rasanya aku seperti berada di ruangan yang pengap saat melihat mereka saling bersitatap.


" Aku sudah makan."


" Boleh aku pinjem Indhi sebentar kak?" Pinta kak Zean.


" Tentu." Jawab kak Ega singkat namun matanya masih menatap tajam kak Zean.


" Kalau begitu permisi." Pamit kak Zean lalu berdiri.


" Indhi tinggal sebentar ya kak?"


" Hmm."


" Kakak jangan kemana-mana." Perintahku pada kak Ega lalu aku pergi menyusul kak Zean yang sudah menjauh.


***


" Kak."


" Kakak."


" Kak Zean." Suaraku mulai meninggi karna kak Zean tak juga berhenti.


" Kak." Panggilan ke empat dan dia tidak berhenti sama sekali.


" Zean." Teriakku karena aku sudah kesal.


Mendengar namanya di sebut kak Zean berhenti dan berbalik, dia berjalan mendekatiku dengan tatapan yang susah di artikan, tangannya berkacak pinggang dan tak ada senyuman di wajahnya.


" Siapa yang kamu panggil?"


" Maaf, habisnya kakak nggak mau berhenti. Kita mau kemana si kak?"


" Kamu sepertinya tidak senang melihatku disini?"


" Apa maksudmu kak. Aku hanya bertanya kita mau kemana, kasihan kak Ega kalau dia menunggu lama."


" Kamu nggak flu kan?" Tanya kak Zean ragu.


" Kakak nggak percaya sama aku?"


" Ya dan aku nggak suka di bohongin." Suara kak Zean mulai meninggi.


" Siapa yang bohongin kakak?"


" Kamu?"


" Aku? Kapan aku berbohong?"


" Heh, lalu seharian ini kamu kemana saja?"


" Aku....."

__ADS_1


" Aku apa? Kamu seharian diluar kan sama kak Ega?"


" Bagaimana kakak bisa tau?"


" Bagaimana aku tau itu tidak penting. Aku mengkhawatirkanmu seharian ini dan kamu malah asik bermain di taman hiburan. Lalu kamu masih bertanya kapan kamu berbohong?"


" Dari mana kakak tau aku pergi ke taman hiburan?"


" Nggak penting aku tau dari mana." Jawab kak Zean gugup.


" Dari mana kamu tau aku pergi ke taman hiburan?" Aku mengulang pertanyaanku.


" Kamu mengikutiku?"


" Jawab!" Aku berteriak hingga menarik perhatian orang di sekitar kami.


" Jangan bilang...." Aku menggantung kalimatku, lalu merogoh ponsel di kantong celanaku. Aku menatap kak Zean tak percaya dengan apa yang aku temukan di ponselku.


" Sejak kapan kakak memasang aplikasi pelacak di ponselku?" Tanyaku dengan kecewa.


" Sejak awal kita pacaran."


" Hahahaha." Aku tertawa sinis.


" Kamu menakutkan kak." Tungkasku masih tak percaya dengan perbuatan kak Zean.


" Aku melakukannya demi kebaikanmu." Kilah kak Zean.


" Kebaikanku?"


" Aku hanya khawatir kamu akan menghilang seperti waktu itu, aku fikir jika aku memasang pelacak di ponselmu aku akan lebih mudah menemukanmu."


" Aku kecewa sama kamu kak."


" Aku yang lebih kecewa sama kamu. Kamu bilang sakit dan ternyata kamu pergi bersama pria lain." Suara kak Zean kembali meninggi.


" Pria lain katamu, dia kakakku." Suaraku tak kalah keras.


" Apa maksudmu kak?"


" Tidak usah pura-pura bodoh Prilatia, kamu tau apa maksudku."


" Bicaramu sudah ngawur kak, lebih baik aku pergi sekarang."


Aku berbalik dan berniat pergi namun kak Zean menahanku dengan ucapannya.


" Aku tau semuanya Pril, aku di sana malam itu. Malam ulang tahunmu."


Aku mengurungkan langkahku untuk pergi, kakiku gemetar dan jantungku seakan berhenti berdetak. Aku merasa seperti dadaku terhimpit, sesak, aku hampir tak bisa bernafas lagi. Air mata yang sedari tadi terbendung di mataku kini mengalir dengan derasnya.


Aku mengirup nafas perlahan dan mengumpulkan sedikit kekuatan untuk menghapus air mataku. Aku berbalik mendekati kak Zean dan menatap wajahnya.


" Apa yang kamu tau kak?" Tanyaku dengan suara gemetar.


" He is not your brother."


" Sejauh mana kakak mendengarnya?"


" Aku mendengar semuanya setelah kak Ega masuk."


" Dan kakak tidak memberitahuku?"


" Aku ingin tau sejauh mana kamu menganggapku, aku pikir kamu akan memberitahuku, tetapi aku salah."


" Bukannya aku nggak mau memberi tau kakak, hanya saja ini masalah keluargaku, aku tidak ingin orang lain tau dan mencampuri masalah keluargaku. Kak Ega sangat penting bagiku kak, aku tidak ingin membuatnya sedih jika tau aku menceritakan tentang siapa dia kepada orang lain."


" Orang lain. Jadi selama ini aku hanya orang lain bagimu."


" Bukan begitu maksudku kak."


" Aku mengerti sekarang. Aku memang tidak akan menang dari kakakmu."

__ADS_1


" Apa kamu juga meyayanginya?" Tanya kak Zean dengan tatapan nanar.


" Tentu saja aku menyayanginya, dia kakakku."


" Meskipun dia tidak memandangmu sebagai adik?"


" Apa yang mau kakak bicarakan sebenarnya?"


" Kak Ega mencintaimu kan?"


" Dari mana kakak tau, aku bahkan tidak memberi tahu siapapun." Aku mulai panik dan tidak sadar dengan ucapanku.


" Jadi benar?"


" Kak." Ucapku lemah.


" Sejak awal aku sudah menduganya, tatapan kak Ega padamu, perlakuannya padamu, semua yang dia lakukan bukan semata karena dia kakakmu, tapi karena dia mencintaimu."


" Cukup Zean." Bentak kak Ega yang tiba-tiba muncul di belakangku.


" Kenapa kak, kamu takut Indhi akan membencimu setelah dia tau kalau kakak mencintainya?" Tanya kak Zean yang kini wajahnya mulai memerah karena menahan emosi.


" Aku bilang cukup." Bentak kak Ega yang mulai terbawa emosi.


" Pria macam apa kamu kak, menyembunyikan perasaanmu di balik nama seorang kakak."


" Cukup Zean." Kak Ega menarik kerah baju kak Zean dengan kasar.


" Kenapa kakak tidak mengungkapkannya sekarang, biar aku jandi saksi cinta di antara kalian."


Brukkk, kak Ega memukul wajah kak Zean hingga sudut bibirnya berdarah.


" Cukup." Aku berteriak saat kak Ega kembali mengangkat tinjunya.


" Sudah cukup , aku mohon hentikan!"


" Kali ini aku benar-benar kecewa dengan kalian berdua."


" Kalian sudah dewasa, apa begini caranya menyelesaikan masalah? Yang kalian lakukan hanya akan membuat masalah semakin rumit."


" Kak Zean, kenapa kakak begitu yakin jika kak Ega mencintaiku bukan sebagai adik?"


" Kamu ingat sepasang gelang dan kalung hadiah ulang tahunmu?" Tanya kak Zean.


" Hmm."


" Kami sempat berebut saat akan membelinya, kak Zean mengatakan jika kalung itu untuk pacarnya sehingga aku mengalah dan melepaskan kalung itu."


" Benar begitu kak?" Aku bertanya kepada kak Ega setengah ragu


Aku harus menyelesaikan semuanya hari ini, semua kesalahpahaman kak Zean dan kebenaran tentang perasaan kak Ega yang sesungguhnya.


" Apakah yang kak Zean katakan itu benar kak?" Aku bertanya kembali karena kak Ega hanya terdiam.


" Maaf."


" Sejak kapan?"Tubuhku kembali bergetar.


" Entahlah, kakak juga tidak menyadarinya. Semuanya mengalir begitu saja. Tapi kakak akan mengakhirinya Ndi, perasaan gila ini akan kakak akhiri secepatnya."


" Aku akan mempercayai kak Ega, aku yakin kakak bisa mengatasinya. Mungkin yang kakak rasakan bukanlah cinta, mungkin kakak hanya salah mengartikan perasaan kakak"


" Sekarang untuk kalian berdua, tolong beri aku waktu untuk sendiri. Saat kita bertemu nanti aku harap semuanya sudah kembali seperti semula. Aku permisi."


Aku melangkah meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri menatap kepergianku. Langkahku terasa sangat berat. Pagi ini aku fikir yang kak Ega ucapkan hanyalah lelucon belaka, namun akhirnya yang aku takutkan terjadi, yang tidak aku harapkan justru datang dan menghampiriku. Kenyataan jika kak Ega mencintaiku jauh lebih menyakitkan dengan fakta kak Zean yang melacak keberadaanku.


Siapapun yang mendengar kisah ini pasti akan tertawa, gadis kecil yang tengah mengijak masa remaja terjebak diantara dua pria dewasa yang saling mencintainya.


Lalu apa yang harus aku lakukan kedepannya. Entah, biarlah aku mengikuti alur skenario Tuhan.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2