Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 41 Pengakuan kak Dion


__ADS_3

Waktu cepat berlalu, hari ini adalah wisuda kelulusanku di SMP. Setelah berjuang hampir 6 bulan lamanya, akhirnya aku bisa lulus dengan nilai yang memuaskan, tidak sia-sia rasanya selalu pulang telat karena harus mengikuti les tambahan. Aku juga sangat bersyukur karena pacaran nyatanya tak membuatku malas belajar, kak Zean malah menjadi support system terbaik setelah kak Ega tentunya. Meskipun diam-diam dia selalu menyempatkan waktu untuk menjemputku, bahkan di sela waktu senggangnya dia sering menemaniku untuk belajar di perpustakaan kota. Dia tak pernah lupa mengingatkan aku untuk belajar. Kalian tau apa yang lebih menyenangkan, dia selalu berbicara dalam Bahasa Inggris ketika kami sedang belajar bersama, katanya untuk membantuku cepat fasih berbahasa Inggris. Tak lupa juga peran penting kak Dion yang juga selalu menyempatkan dua jamnya untuk membantuku belajar.


Acara wisuda di adakan di gedung aula sekolah kami, kami para siswa duduk di bangku depan sementara untuk walimurid berada di bangku belakang kami.


Aku keluar dan berjalan menuju pintu gerbang sekolah karena belum melihat kak Ega berada di antara wali murid yang lainnya. Kak Ega berjanji akan datang setelah menyelesaikan operasinya karena kebetulan acara wisuda kami di mulai pada jam 10 pagi. Aku juga menunggu kedatangan ibu, berharap ibu akan datang dan memberiku ucapan selamat. Beberapa hari yang lalu kak Ega menyempatkan diri untuk pulang dan memberi tahu ibu mengenai acara wisudaku hari ini.


Aku berjalan mondar-mandir di depan gerbang sekolah. Sudah jam 10.15 tapi belum ada satupun dari mereka yang datang.


" Indhi." Sebuah suara menghentikan langkah kakiku.


" Kak Dion, kakak ngapain di sini?" Aku berjalan mendekat ke arah kak Dion.


" Buat liat wisuda kamu lah. Kak Ega belum datang?"


" Belum, mungkin operasinya belum selesai."


" Boleh kita bicara sebentar." tanya kak Dion.


" Boleh, apa yang mau kakak bicarakan."


" Bisa cari tempat yang lebih tenang nggak, di sini berisik banyak kendaraan lewat."


Aku mengangguk dan membawa kak Dion ke dalam ruang kelasku yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari pintu gerbang sekolah kami.


" Kakak mau ngomong apa si, kayanya penting banget?" Tanyaku kemudian setelah kami sampai di dalam kelas.


" Oh ya ini buat kamu." Kak Dion memberikan buket bunga mawar merah kepadaku.


" Terimakasih kak, cantik banget bunganya." Aku mencium bungan mawar itu kemudian meletakannya di atas mejaku.


" Emmmm, sebenarnya...." Kalimat kak Dion berhenti.


" Sebenarnya apa kak?"


" Sebenarnya aku sayang sama kamu Ndi." Ucap kak Dion yang membuatku kaget.


" Aku juga sayang sama kakak, tapi rasa sayangku lebih ke rasa sayang seorang adik kepada kakaknya, sama seperti yang aku rasakan ke kak Ega."


" Tapi aku menyayangi kamu bukan sebagai seorang kakak Ndi, aku menyayangi kamu sebagai seorang laki-laki." Tegas kak Dion.

__ADS_1


" Kakak tau kan kalau aku menyukai orang lain?" Tanyaku kemudian.


" Zean?"Tebak kak Dion.


" Iya. Dan kami sudah berpacaran sejak 5 bulan yang lalu kak." Aku akhirnya mengungkap hubunganku dengan kak Zean.


" Aku akan menganggap percakapan ini nggak pernah terjadi kak, aku nggak mau kehilangan kak Dion cuma gara-gara ini, kakak udah aku anggap seperti kakak kandungku sendiri."


" Tapi Zean itu bukan laki-laki yang baik buat kamu." Ungkap kak Dion.


" Kenapa kakak bilang begitu?"Aku terpancing oleh ucapan kak Dion.


" Kamu kenal Natasha?"


Aku mengangguk.


" Aku adalah sepupu jauh Natasha, mereka pernah berkencan dan.......


" Kak Zean, kakak lagi ngapain di sini?"


Kalimat kak Dion terhenti saat mendengar seseorang memanggil nama kak Zean. Aku meninggalkan kak Dion dan keluar dari kelas.


" Astaga Indhi, aku nyari kamu kemana-mana, nggak taunya ada di sini." Teriak Arum setelah melihatku keluar dari kelas.


" Aku lagu nunggu kak Ega Rum." Jawabku


" Kak Zean udah lama datengnya?" Aku mengalihkan perhatianku kepada kak Zean.


" Baru aja." Jawabnya singkat


" Kak Zean sakit, kenapa wajah kakak pucet, terus kakak juga berkeringat banyak kaya gini?"Aku khawatir melihat kak Zean.


" Mungkin karena kepanasan aja." Kak Zean mengelap keringat di dahinya.


" Selamat buat kelulusan kalian ya." Kak Zean memberikan dua buket bunga mawar merah, yang satu untukku dan yang satunya untuk Arum.


" Makasih kak Zean." Ucap Arum.


" Makasih kak."

__ADS_1


Kak Zean hanya mengangguk. Sikap kak Zean terlihat aneh hari ini. Mungkin karena dia tidak ingin hubungan kami terungkap di depan teman-tamanku.


Kami masih berdiri didepan kelas saat pintu kembali terbuka dan kak Dion mucul dari balik pintu.


" Kak Dion." Arum terkejut melihat kak Dion.


" Kakak ngapain di sini?"Tambah Arum


" Mau liat acara wisuda kalian. "


"Apa kabar Zean, lama nggak ketemu?"Kak Dion mengulurkan tangan kepada kak Zean dan kak Zean menyambutnya.


" Kabarku baik."


Aku melihat ada yang tidak beres dengan mereka berdua. Mereka bersalaman cukup lama dan saling menatap seperti musuh. Ada apa dengan mereka, bukannya mereka berteman dengan baik sebelumnya.


" Astaga aku sampai lupa, kita harus kembali ke aula Ndi, acaranya udah mau di mulai."


Aku dan Arum masuk ke dalam kelas dan meletakan bunga di meja kami. Arum sempat melirik bunga mawar pemberian kak Dion lalu kami kembali ke Aula di ikuti kak Zean dan kak Dion.


Sampai pada acara penyerahan piagam kepada siswa berprestasi yang masuk 10 besar lulusan terbaik dan aku masuk dalam daftarnya.


Tepuk tangan bergemuruh saat kepala sekolah dengan bangga memanggil namaku sebagai lulusan terbaik tahun ini. Aku naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan. Suasana berubah saat kepala sekolah tiba-tiba ingin wali murid naik ke atas panggung juga untuk berfoto bersama, aku panik karena belum melihat kehadiran ibu dan juga kak Ega.


Semua wali murid sudah berada di atas panggung kecuali waliku. Mereka menatapku dengan melas dan aku benar-benar tak menyukai tatapan belas kasih dari mereka. Air mataku hampir jatuh saat aku melihat kak Zean berjalan menghampiriku dan naik ke atas panggung lalu menggenggam tanganku.


" Anda siapa?"Tanya kepala sekolah


" Saya saudara sepupu Indhi pak, kebetulan orangtuanya sedang berada di luar kota dan kakaknya sedang ada operasi darurat, jadi saya di minta datang untuk mewakili mereka."


Aku menjadi lebih tenang sekarang, aku menatap kak Zean penuh rasa sukur, kak Zean hanya tersenyum dan mengangguk kecil seolah mengatakan semuanya baik-baik saja, ada aku di sini.


Acarapun telah usai tapi kak Ega dan ibu tak kunjung datang. Aku memaklumi kak Ega, mungkin dia benar-benar tidak bisa meninggalkan pasiennya. Tapi ibu, bagaimana ibu bisa setega itu padaku, apakah ibu benar-benar sudah tidak peduli lagi padaku.


Bu, bagaimana ibu bisa setega ini padaku, aku benar-benar kecewa pada ibu kali ini. Rupanya kepergian kami tak serta merta membuat ibu berubah, ibu malah semakin menjauh dari kami.


Sepanjang perjalanan pulang aku hanya bisa meneteskan air mata, meratapi hubunganku dan ibu yang semakin menajuh dan tembok tinggi semakin memisahkan kami.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2