Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 68 Air mata pengganti garam


__ADS_3

Setelah meninggalkan mereka berdua aku memutuskan untuk pulang ke rumah ibu. Rumah sangat sepi karena ibu belum pulang, aku segera naik ke kamar untuk mandi


" Guk, guk." Cleo mengguguk saat aku masuk ke kamar dan aku segera menggendongnya.


" Kamu pasti merindukanku ya." Aku mengelus bulu lembut Cleo yang tengah nyaman di pelukanku.


Cleo melompat dari pelukanku dan berlari ke wadah tempat makanannya dan aku mengikuti di belakangnya.


" Kamu laper ya, sebentar aku ambil makananmu dulu."


Cleo mengendus wadah makananya yang kosong. Aku segera turun ke dapur untuk mengambil stok makanan Cleo.


" Non Idhi sudah pulang?" Sapa asisten rumah tanggaku .


" Lho bibi masih di sini ternyata, aku pikir udah pulang?"


" Belum non, non Indhi nyari apa?"


" Makananya Cleo abis bi, oh iya bi makasih ya waktu Indhi di rumah kak Ega, bibi udah ngrawat Cleo."


" Bukan bibi non, ibu yang tiap hari ngasih makan Cleo, bibi cuma bantu buang kotorannya saja."


" Ibu?"


" Iya non. Apa ada yang di butuhkan lagi non?" Tanyanya sopan.


" Nggak bi, makasih."


" Makan malamnya sudah bibi siapin, non tinggal angetin saja. Kalau begitu bibi pamit pulang ya non."


" Iya bi terimakasih, hati-hati di jalan."


Setelah asisten rumah tanggaku pergi aku kembali ke kamarku untuk memberi makan Cleo, aku tersenyum mengingat perkataan bibi barusan. Ternyata ibu masih sangat peduli padaku, buktinya dia mau merawat Cleo saat aku pergi dari rumah. Maafiin aku yang terlalu berburuk sangka terhadap ibu.


Setelah mandi aku turun lagi ke dapur untuk makan. Meskipun tubuhku terbilang cukup kecil, tapi selera makanku sangatlah besar, aku bisa makan tiga sampai empat kali dalam sehari, bahkan dalam keadaan sedih sekalipun aku tidak akan melewatkan waktu makanku. Kalian masih ingat mottoku kan, sebesar apapun masalahku, makan tetaplah nomor satu..


Aku duduk menatap masakan bibi yang sudah dingin. Aku menyendok nasi dan beberapa lauk ke dalam piringku dan menyuapkannya perlahan ke dalam mulutku.


Tes, tes, tanpa aku sadari air mataku menetes, aku tak berhenti menguyah makanan di mulutku meski kini wajahku sudah basah karena air mata.


" Wah, mungkin karena bibi kurang memasukan garam makannya aku menangis, anggap saja ini pengganti garam." Gumamku dengan mulut penuh.


Aku kembali memasukan makanan ke dalam mulutku yang masih penuh, mulutku kini menggembung dan aku semakin terisak."


" Apaa-apaan ini, aku sedang menikmati makananku dan kalian malah asik keluar dari mataku, lihat wajahku jadi basah." Aku bermonolong sambil mengusap kasar air mata di wajahku.

__ADS_1


Aku menghentikan makanku saat dadaku terasa semakin sesak dan air mataku tak henti-hentinya menetes. Aku memukul dadaku beberapa kali, berharap sesuatu yang menghimpit hatiku segera keluar.


Malam ini aku benar-benar menangis seorang diri. Tidak ada kak Ega dan kak Zean yang menemaniku. Fakta jika kak Ega bukanlah kakak kandungku begitu menyakitiku, rasanya seperti ada sayatan di hatiku yang menimbulkan sebuah luka dan hari ini luka itu seperti di taburi garam di atasnya, rasanya sungguh menyakitkan, aku harus menerima kenyataan baru jika kakak yang begitu aku sayangi tak lagi memandangku sebagai adiknya.


Aku kembali ke kamarku dengan wajah sembab, aku meringkuk di atas ranjangku yang dingin. Rasa lelah telah menggerogoti tubuh dan hatiku, akhirnya aku terlelap di tengah dikesunyian malam.


***


Paginya aku bangun dan masih sendiri, ibu belum juga pulang dari perjalanan dinasnya. Kali ini aku ke sekolah tanpa semangat, kak Zean sedari kemarin tak memberi kabar dan pagi inipun dia tidak datang untuk menjemputku.


" Kenapa sedih gitu wajahnya?" Tanya Arum saat aku sudah sampai di dalam kelas.


" Lagi pengin sedih aja" Aku meletakkan tasku di meja lalu duduk menghadap Arum.


" Dita belum berangkat?" Tanyaku karena tak menemukan dia di dalam kelas.


" Lagi beli sarapan, katanya tadi nggak sempet sarapan di rumah."


" Oh."


" Itu dia orangnya, panjang umur." Arum menunjuk Dita yang baru saja masuk kelas dan membuatnya bingung.


" Apa?" Tanya Dita sangar.


" Ada yang nanyain?"


" Aku sakit, bukan bolos." Dalihku.


" Oh kirain bolos sama kak Z, soalnya dia juga nggak masuk kemarin?" Ucap Arum.


Mendengar ucapan Arum membuatku sangat merasa bersalah kepada kak Zean. Maaf karena memilih berbohong kepadamu kak


Arum menendang kursiku sementara Dita memberikan kode padaku agar aku menoleh ke depan. Dengan malas aku menoleh dan melihat Naura yang sedang berdiri di depan pintu bersama kak Zean, entah apa yang sedang mereka bicarakan di luar sana.


" Kenapa Naura makin mirip sama kamu si Ndi?"Kata Arum dengan seolah dia tak menyukai penampilan Naura.


" Tuh liat Ndi, dari model rambutnya, potongan bajunya bahkan sepatu sama tasnya juga sama kaya punya kamu." Tambah Dita menjelaskan dengan sangat detail.


" Biarin aja lah, suka-suka dia mau ngapain."


Kami semua terdiam saat Naura masuk kedalam kelas dan bergabung bersama kamu.


" Nau, kamu nggak risik ngikutin gaya Indhi?" Tukas Arum.


" Inimah bukan ngikutin tapi niruin." Sindir Dita.

__ADS_1


" Memangnya kenapa, Indhi aja nggak keberatan, iya kan Ndi?" Ucap Naura dengan polosnya.


" Senyaman kamu aja Nau." Jawabku lirih.


Aku menatap kedua temanku dan menggelengkan kepalaku, memberi kode kepada mereka untuk tidak membahas tentang penampilan Naura lagi.


Sebenarnya aku terganggu dengan penampilan baru Naura yang menurut kedua temanku sangat murip denganku. Bagaiamana bisa dia merubah penampilannya dan menjadi persis sama sepertiku.


******


Saat jam istirahat tiba kami berempat pergi ke kantin sekolah bersama namun di tengah jalan kami malah di hadang oleh kakak kelas kami yang salah satu di antara mereka adalah ketua osis.


" Ada apa, kami mau lewat." Ucap Dita sambil melipat kedua tangannya di dada.


" Boleh aku meminta nomer ponselmu." Ucap sang ketua osis sambil menyerahakn ponselnya padaku.


" Untuk apa kak?"


" Untuk berteman, aku ingin berteman denganmu, boleh kan?" Jawabnya tegas.


" Maaf kak, aku tidak terbiasa berteman dengan orang asing." Aku menolak permintaan ketua osis untuk menjadi temanku.


Arum dan Dita tertawa puas mendengar jawabanku yang menolak kakak ketua osis menjadi temanku.


" Ada apa ini?"


" Pak Zean." Ucap kami secara bersamaan.


" Apa yang kalian lakukan di sini, di tengah jalan, kalian mengganggu teman yang lain." Tanya kak Zean tanpa menoleh kepadaku sedikitpu .


" Ketua Osis kita naksir sama Indhi pak, dia sedang berusaha meminta nomor ponsel Indhi." Tukas Dita lantang.


" Benarkah itu?" Tanya kak Zean kepada ketua osis kami..


" Maaf pak, saya hanya ingin berteman dengan adik kelas. Kalau begitu kami permisi pak." Jawab si ketua osis yang kemudian membawa teman-temannya untuk menajuhi kami.


Arum dan Dita kembali terbahak, sementara Naura hanya menyaksikan kejadian ini dengan wajah tak sukannya. Aku menatap mereka bertiga secara bergantia. Jujur saja aku sangat beruntung memiliki teman seperti Dita dan Arum,mereka benar-benar mewarnai kehidupan SMA-ku, kekonyolan dan sikap setia kawan merekalah yang membuatku nyaman berteman dengan mereka sampai hari ini. Dan untuk Naura tiba-tiba aku mulai tidak nyaman berteman dengannya. Entah mengapa tapi sepertinya Naura lebih menganggapku sebagai saingan dari pada seorang teman.


BERSAMBUNG...


Hye semua apa kabar hari ini, semoga kalian sehat selalu ya..


Untuk hari ini aku hanya bisa up satu eps karena masalah kesehatan yang sedang memburuk,,


untuk kalian semua jangan lupa jaga kesehatan ya,

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2