
Aku memaksakan diri untuk membuka mataku karena ponselku terus saja berdering, aku meraba meja di sebelah tempat tidur dan meraih ponselku yang tergeletak di atasnya.
" Hallo." Sapaku dengan suara serak.
" Happy Birthday sweety, semoga panjang umur dan sehat selalu. Semoga yang kamu harapkan akan di kabulkan Tuhan dan semoga kamu selalu menyayangiku. Wish you all the best sweet heart." Ucap kak Zean penuh semangat dari seberang sana.
" Jam berapa ini kak?"
" Jam 11.45 malam." Suara kak Zean terdengar begitu antusias.
" Ulang tahunku masih besok kak."
" Aku cuma mau jadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun buat kamu."
" Hmmm, makasih untuk ucapan dan doanya kak, tapi aku masih ngantuk." Jawabku sambil terus menguap.
" Aku mengganggumu ya?."
" Bukan begitu, maaf." Aku akhirnya bangun setelah mendengar ucapan kak Zean, aku takut di anggap tidak menghargai niat baiknya.
" Kakak kenapa belum tidur?"
" Aku tidak ingin melewatkan hari ulang tahunmu seperti tahun lalu."
" Tahun lalu bukannya kakak juga memberiku hadiah , apa kakak lupa?"
" Ya, tapi aku orang terakhir yang mengucapkannya kan?"
" Kakak mengucapkannya saja sudah lebih dari cukup untukku."
" Hadiah apa yang kamu inginkan?" Tanya kak Zean.
" kamu."
" Aku?"
" Hmmm."
" Bukannya aku sudah menjadi milikmu."
" Benar juga, kalau begitu jadilah milikku selamanya kak."
" Dengan senang hati sweet heart. Hmm baiklah karena ini hari ulang tahunmu jadi aku mengizinkanmu untuk tidur lagi."
" Kakak juga tidurlah, ini sudah larut."
" Love you sweety."
" Love you more kak."
__ADS_1
Aku merebahkan tubuhku kembali dan bersiap untuk tidur lagi, namun lagi-lagi ponselku berdering dan itu sangat mengganggu.
" Apa lagi kak, aku ngantuk." Ucapku.
" Ini ibu."
Aku terkejut dan segera bangun, aku memeriksa ponselku dan benar saja ini panggilan dari ibu.
" Ibu." Sapaku dengan suara penuh kerinduan.
" Selamat ulangtahun dan selamat untuk peringkat satunya."
" Ibu." Aku menangis bahagia karena ternyata ibu masih peduli padaku.
" Salam untuk kakakmu, pulanglah kalau sudah tidak marah." Ucap ibu sebelum beliau memutuskan sambungan telefonnya.
Aku berlari keluar kamar sambil membawa ponselku. Aku mengetuk kamar kak Ega, aku sangat bahagia hari ini dan ingin membagi kebahagiaanku dengan kak Ega. Beberapa kali aku mengetuk pintu namun kak Ega tidak kunjung membuka pintu kamarnya. Aku mendorong pintu kamar kak Ega yang ternyata tidak terkunci.
Kosong, kak Ega tidak ada di kamarnya. Kemana kak Ega, apa kak Ega belum pulang?
Aku menerobos masuk ke dalam kamar kak Ega untuk memastikan apakah kak Ega benar-benar tidak ada di kamarnya.
Saat akan memeriksa kamar mandi aku tak sengaja melihat sebuah kotak kayu tergeletak di bawah tempat tidur kak Ega. Aku mengambil kotak yang sudah terbuka itu dan membawanya ke tempat tidur. Aku memangku kotak kayu itu lalu mengeluarkan satu persatu benda yang ada di dalamnya.
Hanya ada beberapa lembar foto dan secarik kertas yang terlipat rapi, aku memeriksa satu persatu foto yang sudah mulai buram.
" Ini sepertinya kak Ega."
Karena penasaran aku memberanikan diri untuk membuka lipatan kertas tadi, dari aromanya saja aku sudah bisa menebak bahwa kertas ini sudah cukup lama berada di dalam kotak kayu milik kak Ega.
Aku berhasil membuka lipatan kertas itu yang ternyata isinya adalah sebuah surat. Aku memicingkan mataku karena aku kesulitan untuk membaca tulisan di dalam kertas itu.
"Untuk anakku.." Aku mulai mengeja tulisan itu dan sepertinya ini dari ibu. Aku semakin bersemangat untuk membacanya.
Nak, maafkan aku. Maaf karena aku lebih memilih untuk meninggalkanmu.
Sejauh ini entah kekuatan dari mana sehingga aku mampu merawatmu hingga kamu sebesar ini. Tapi sekarang rasanya aku sudah tidak tahan lagi mendengar hinaan dari orang-orang di sekitarku.
Kenyataan bahwa kamu lahir tanpa seorang ayah membuat aku harus merelakan masa mudaku untuk merawatmu, aku harus melupakan semua mimpiku.
Aku tidak berharap kamu akan memaafkan aku suatu hari nanti, tapi sekarang aku harus pergi dan kembali menjalani hidupku yang sempat terhenti karena adanya dirimu.
Aku memang tidak pantas untuk di sebut sebagai seorang ibu dan aku tidak akan menyesali keputusanku kali ini untuk meninggalkanmu karena sejak awal harusnya kamu tidak perlu hadir di dunia ini dan menjadi bagian dari hidupku.
Carilah laki-laki yang ada di foto ini, dia ayahmu, ayah kandungmu.
Temui dia dan mintalah perlindungan darinya sekarang karena aku sudah tidak bisa melindungimu lagi mulai saat ini.
Meski aku bukan ibu yang baik tetap saja aku akan mendoakanmu semoga kelak kamu menjadi laki-laki yang hebat dan penuh tanggungjawab, tidak seperti ayahmu.
__ADS_1
Sekali lagi maafkan aku.
Aku menangis sesegukan setelah membaca isi surat ini, aku seperti kehabisan nafas dan aku tidak bisa berkata-kata lagi, tubuhku gemetar, aku tidak berani memikirkan siapa anak laki-laki yang di sebutkan dalam surat ini.
Rasa kantuk yang sedari tadi aku tahan sudah tak ada lagi, yang tersisa hanyalah ketakutan yang kini mulai menguasai diriku sepenuhnya.
Dengan sedikit kekuatan yang tersisa, aku meraih ponselku dan segera menghubungi ibu.
" Hallo, ada apa Ndi?."
" Bu." Aku tak sanggup menyelesaikan kalimatku, aku menangis sejadi-jadinya sebelum aku sempat bertanya kepada ibu.
" Ada apa, bicara yang jelas." Suara ibu terdengar panik.
" Ibu, hiks hiks, hiks."
" Tunggu ibu, ibu kesana sekarang."
Ibu memutus sambungan telefon kami, sementara aku masih menangis di dalam kamar kak Ega sambil memeluk sepucuk surat yang aku sesali karena telah membacanya.
Aku beberapa kali memukul dadaku karena sesak yang aku rasakan tak kunjung hilang. Aku menyeka air mataku yang masih belum berhenti mengalir. Aku benar-benar tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika apa yang ada dalam fikiranku adalah benar, tentang siapa anak laki-laki yang di maksud dalam surat ini.
Setengah jam berlalu aku mendengar suara ketukan dari pintu utama. Aku segera memasukkan semua foto dan surat ini kedalam kotaknya lagi. Dengan tergopoh aku menyeret kakiku untuk turun dengan kotak kayu yang masih berada di pelukanku.
Aku membuka pintu dan melihat ibu di baliknya. Pehatian ibu segera tertuju pada kotak kayu yang berada dalam pelukanku, wajah ibu terlihat pujat dan matanya memerah.
" Dari mana kamu dapat kotak ini?" Tanya ibu, lalu beliau mengambil kotak itu dari pelukanku.
" Kak Ega." Jawabku terbata.
Melihat keaadaanku, ibu segera memapahku dan membawaku duduk di sofa, beliau pergi sebentar lalu kembali dengan membawa segelas air putih.
" Tenanglah dulu." Ucap ibu sambil membantuku minum.
" Kemana kak Ega?" Tanya ibu dengan lembut setelah melihatku sedikit tenang.
Aku hanya menggeleng.
" Dari mana kamu dapat ini?" Tanya ibu sambil menunjuk kotak kayu yang sekarang berada di atas meja.
" Dari kamar kak Ega."
" Indhi sudah membuka isinya?"
Aku hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan ibu.
Ibu menghela nafas dengan panjang, seperti seseorang yang sedang kelelahan.
" Indhi sudah dewasa, mungkin sudah saatnya Indhi tahu kebenarannya." Ucap ibu sambil mengelus rambutku.
__ADS_1
" Kebenaran mana yang ibu maksud?"
BERSAMBUNG........