
Kak Zean menuntuntu saat kami menaiki bukit, hampir setahun kami tidak pernah ke tempat ini lagi. Aku bernafas lega saat kami sudah berada dipuncak.
Aku menatap hamparan bunga matahari yang telah layu, meski tak seindah saat pertama kali aku kemari, tetap saja tempat ini menjadi tempat terindah diantara aku dan kak Zean, sebuah tempat yang menjadi saksi saat aku mengutarakan perasaanku kepada kak Zean untuk yang kedua kalinya, serta tempat dimana kak Zean mengakui perasaannya. Dari tempat inilah semua dimulai, kisah indah yang telah terjalin hampir dua tahun lamanya.
" Pril." Panggil kak Zean lembut.
" Hem." Jawabku singkat, aku menoleh dan menatap wajah kak Zean.
" Untukmu." Kak Zean menyodorkan sebuah kotak berukuran mungil kepadaku.
" Apa ini?" Aku membuka kotak itu dan terkejut melihat isinya.
" Cincin?" Ucapku, aku kembali menatap kak Zean mencoba mencari tau apa maksudnya memberiku sebuah cincin.
" Hadiah ulangtahunmu. Pakailah." Kak Zean meraih cincin itu dan memasangkannya di jari manisku.
Dia tersenyum menatap cincin yang tersemat dijariku " Sangat pas untukmu."
" Tapi kenapa harus cincin kak?"
" Kamu tidak suka?"
Aku menggeleng pelan " Sangat suka, tapi cincin ini, aku hanya merasa aneh saja, kakak tidak berniat melamarku kan?"
" Kau mau? Mungkin lebih baik begitu, aku akan melamarmu jika kamu siap." Ujar kak Zean menganggap serius ucapanku.
" Aku masih sekolah kak." Tolakku dengan halus.
" Aku hanya ingin melamarmu bukan menikahimu, mungkin aku akan lebih tenang jika sudah mengikatmu secara resmi."
Kak Zean masih menatapku, dia masih menunggu jawabanku mengenai niat baiknya.
" Maaf." Ucapku lemah.
Kak Zean memalingkan wajahnya, dia beralih menatap langit yang mulai mendung, diakhir tahun ini hujan masih sering turun.
" Kakak marah?"
" Tidak, kamu benar, aku saja yang terlalu buru-buru. Ayo turun sekarang."
Kak Zean lalu berdiri, dia mengulurkan tangannya kapadaku, aku segera meraih tangan itu dan berdiri mensejajarinya.
Kami segera turun sebelum hujan turun, kak Zean kembali menuntunku saat kami menuruni bukit, aku menatap punggung kak Zean, aku merasa bersalah karena sudah menolak maksud baik kak Zean, dia begitu menyayangiku dan selalu melindungiku, lalu kenapa aku masih ragu dan menolaknya.
Kak Zean kembali melajukan mobilnya, kali ini dia hanya diam dan fokus menatap jalanan didepannya. Aku meremas tanganku sendiri, lidahku begitu kelu sehingga tak ada satu katapun keluar dari mulutku, suasana didalam mobil terasa begitu canggung.
Aku bahkan tak berani bertanya saat kak Zean memasuki pelataran sebuah Mall, dia memarkirkan mobilnya di basement lalu keluar begitu saja dari mobilnya. Aku segera keluar dan mengikuti kak Zean masuk kedalam Mall.
" Mau makan apa?" Tawar kak Zean setelah kami sampai di food court yang berada dilantai tiga.
" Aku belum lapar kak, nanti saja makannya, ini masih sore." Ucapku sambil melihat jam ditanganku yang menunjukan pukul lima sore.
__ADS_1
" Oke."
Kini kak Zean meraih tanganku dan menggandengku menuju bioskop. Meski begitu aku merasa jika kak Zean masih marah padaku, aku membuang nafas dengan kasar dan mencoba untuk mengerti kak Zean, semuanya adalah salahku, gumamku dalam hati.
Aku duduk menunggu kak Zean yang tengah membeli tiket, setelah itu dia berpindah dan membeli popcorn serta minuman.
" Ayo masuk, filmnya akan segera dimulai?" Ajak kak Zean.
" Cepat sekali?"
" Aku sengaja membeli tiket film yang akan segera diputar, aku tidak ingin kamu pulang kemalaman, ibu pasti khawatir."
Aku hanya mengangguk dan mengikuti kak Zean masuk kedalam salah satu ruangan yang ada dibioskop itu. Tak lama, film mulai diputar , kak Zean nampak serius dengan layar besar didepan sana, sementara aku hingga film berakhir aku tidak bisa fokus, aku bahkan tidak tertarik untuk menontonnya, fikiranku dipenuhi dengan kak Zean yang tengah merajuk karena penolakanku.
Film selesai diputar, pengunjung mulai keluar dari ruangan itu, aku menahan tangan kak Zean saat dia hendak bangun dan menyuruhnya untuk duduk lagi.
" Kakak marah, kenapa dari tadi hanya diam?" Ucapku pelan.
Kak Zean menggeleng " Tidak, aku hanya lelah, ayo kita pulang, aku ingin istirahat, besok pagi aku harus terbang lagi."
Kak Zean melepaskan tanganku lalu dia keluar dadi ruangan itu. Aku masih duduk disana dan menatapnya keluar tanpa menungguku. Apa benar dia lelah, atau dia memang marah padaku?
Aku segera keluar dari ruangan itu dan kak Zean sedang menungguku, setelah melihatku keluar dia kembali berjalan dan aku mengekor dibelakangnya.
" Mau makan apa?" Tawarnya lagi saat kami melewati foodcourt dilantai bawah.
" Aku nggak laper." Tolakku, aku mulai merasa tidak nyaman bersama kak Zean sekarang yang begitu dingin. " Aku juga capek, aku akan pulang sekarang, aku bisa naik taxi, kakak tidak perlu mengantarku." Imbuhku lagi, bukannya membujuk kak Zean agar tidak marah lagi aku malah terpancing dan ikut marah dibuatnya.
Dengan jengkel aku segera turun menuju lantai dasar. Bisa-bisanya dia tidak menahanku dan membiarkanku pulang sendiri, dia fikir hanya dia yang bisa marah dan mendiamiku, lihat saja, aku juga bisa marah dan cuek padamu.
Saat keluar dari Mall aku segera masuk kedalam taxi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpangnya. Saat taxi yang kutumpangi akan keluar dari area Mall tiba-tiba sebuah mobil melewati kami dengan kecepatan tinggi, aku melihat kedepan dan ternyata itu mobil kak Zean.
" Dasar sembrono, kalau nabrak baru tau rasa." Geruru sopir taxi sambil membunyikan klakson beberapa kali.
Mendengar ucapan sopir taxi ,aku merasa khawatir, apalagi kak Zean memang tengah marah, bagaimana jika sesuatu terjadi kepadanya di jalan.
Aku menyuruh sopit taxi untuk mengikuti mobil kak Zean yang melaju dengan kecepatan tinggi, jarak kami lumayan jauh tapi aku masih bisa melihat mobil kak Zean. Aku mengigit bibir bawahku saat melihat kak Zean begitu ugal-ugalan.
BRAAKK, apa yang aku takutkan terjadi, didepan sana mobil kak Zean menabrak bahu jalan dan dibagian depan mobilnya mengeluarkan asap. Aku menyuruh sopir taxi itu untuk menepikan mobilnya, setelah membayar ongkos taxi , aku segera keluar dari taxi itu dengan tubuh gemetar, aku berlari menuju mobil kak Zean, kakiku berasa sangat lemas dan mataku mulai berkaca-kaca.
Mobil kak Zean mulai dikerumuni orang-orang yang berada disekitar sana, aku menerobos keruman itu dan mencoba membuka pintu mobil kak Zean. Aku menangis saat aku tak bisa membukanya, pintu itu terkunci, aku mengetuk kaca mobilnya namun tak ada respon dari kak Zean dan membuatku semakin ketakutan.
Beberapa orang membantuku mengetuk kaca mobil kak Zean, aku semakin frustasi karena kak Zean tak juga membukanya.
" Pak bisa tolong pecahkan kaca mobilnya." Ucapku dengan suara bergetar pada seseorang yang berada disana.
" kamu kenal dengan pemilik mobil ini?
" Kenal pak, tolong pecahkan saja kacanya ,saya khawatir dia terluka."
Saat bapak itu akan memecah kaca mobil kak Zean tiba-tiba pintu terbuaka, kak Zean keluar dengan memegangi kepalanya.
" kamu nggak papa, apa ada yang luka." Ucapku sembari memeriksa tubuhnya, tidak ada luka kecuali memar didahi kak Zean.
__ADS_1
Aku menuntunnya kepinggir, sementara bapak yang tadi membantu kami menepikan mobil kak Zean karena sudah menyebabkan kemacetan lalu lintas.
" Terimamasih banyak pak." Ucapku pada bapak itu.
" Sama-sama, cepat bawa temanmu kerumahsakit, lain kali jangan menyetir dengan ugal-ugalan."
" Iya pak, terimakasih sekali lagi."
Setelah bapak itu pergi aku kembali fokus pada kak Zean yang tengah duduk. Aku menyeka air mataku dan pergi kewarung yang tidak jauh dari tempat kak Zean duduk.
" Minumlah." Aku berjongkok dan menyodorkan botol air mineral kepadanya.
" Aku bilang minum." Seruku setengah berteriak.
Dia menatapku sejenak lalu meraih botol ditanganku dan meminumnya hingga habis.
" Masuk mobil, kita kerumahsakit sekarang." Ucapku dengan ketus.
Dia berdiri dan mengikutiku, aku membuka pintu mobilnya tapi dia menolak untuk masuk.
" Aku bilang masuk." Teriakku yang mulai tidak sabar. Akhirnya aku mendorong tubuh kak Zean untuk masuk, dia menurut dan duduk dikursi penumpang. Aku menutup pintu mobilnya dan menyuslnya masuk.
" Kamu yakin bisa bawa mobil." Ucap kak Zean ragu.
Aku tidak menjawabnya, aku menghidupkan mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
" Aku tidak perlu kerumahsakit." Ucap kak Zean pelan.
Aku hanya diam dan tidak mempedulikan ucapannya.
" Aku baik-baik saja, aku tidak perlu ke rumah sakit." Ulangnya lagi dan membuatku marah. Aku menepikan mobil kak Zean ditempat yang lumayan sepi. Aku menatapnya dengan jengkel.
" Kamu puas sekarang, membuatku menggila karena mengkhawatirkanmu."
" Dewasalah Ze, dengan begini masalah kita tidak akan selesai, bicarakan padaku, bukan malah ugal-ugalan dijalan seperti ini."
" Aku hanya kesal." Ujarnya lirih.
" Kesal, padaku? karena aku menolak niatmu untuk melamarku?"
" Hem."
" Dasar aneh."
" Aneh katamu, aku terbang hampir 20 jam hanya demi menemuimu, aku mengabaikan lelahku karena aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, aku begitu mencintaimu, tapi apa yang aku dapat, penolakan?" Ucap kak Zean keras.
" Aku masih sekolah dan kamu pasti tau alasanku menolak."
" Bilang saja kalau kamu tidak mencintaiku lagi, kamu tidak ingin bersamaku lagi kan." Teriak kak Zean dengan lantang.
" Kalau begitu ayo lakukan."
BERSAMBUNG....
__ADS_1