
" Apalagi yang perlu dibawa kak." Ucapku sembari memasukan baju kak Zean ke dalam kopernya.
Sore nanti kak Zean akan berangkat ke California dan pagi ini aku sudah berada dirumah kak Zean untuk membantunya packing. Kak Zean sengaja memilih hari libur agar aku bisa mengantarnya ke bandara.
" Mana lagi yang mau di bawa kak." Aku mengeraskan suaraku karena kak Zean tak kunjung menjawab pertanyaanku.
" Ini." Ucapnya sembari memelukku dari belakang.
" Haruskah aku ikut?" Aku memutar tubuhku sehingga tubuh kami saling berhadapan dan tangan kak Zean melingkar di pinggangku.
" Kamu mau?" Tanyaya penuh harap.
" Aku tidak sekaya itu untuk hidup dan sekolah ke luar negeri." Ucapku lemah.
" Aku akan bekerja dan menghidupimu disana, tapi sebelumnya....." Kak Zean tidak melanjutkan kalimatnya.
" Apa?" Aku mendongakkan kepalaku dan menatap wajahnya.
" Menikahlah denganku." Bisiknya di telingaku.
Aku melepas kaitan tangan kak Zean dan memukul lengannya dengan keras.
" Aku serius." Ucapnya lagi, dia kembali merengkuh pinggangku sehingga tubuh kami saling menempel satu sama lain.
" Dasar gila." Aku yang bingung harus menjawab apa akhirnya hanya kata gila yang keluar dari mulutku.
" Aku memang gila dan itu semua gara-gara kamu." Ungkap kak Zean, kemudian dia mencubit hidungku.
" Tunggu aku jadi dokter dulu, setelah itu aku akan menikahi kakak, tapi.."
" Tapi apa?" Potong kak Zean tidak sabar.
" Kakak harus punya rumah dan pekerjaan yang tetap, aku tidak mau menikah dengan pria pengangguran." Godaku dengan wajah serius.
" Tunggu saja, setelah aku punya keduanya aku akan segera menikahimu dan membuat anak yang banyak denganmu."
Aku tersenyum geli mendengar harapan konyol kak Zean menganai anak yang banyak, aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya kami jika harapan konyol ini bisa terwujudkan di masa depan.
" Apa sekarang aja bikin anaknya." Ucapnya dengan wajah tanpa dosa. Aku membulatkan mataku dan mencubit pinggangnya sehingga dia mengaduh kesakitan.
" Dasar mesum."
__ADS_1
Aku kembali memasukan barang-barang kak Zean ke dalam koper miliknya sementara dia hanya mengamatiku sembari rebahan diatas tempat tidurnya.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kak Zean, bagiku perilaku abnormalnya sudah bukan hal yang baru, aku sudah terbiasa dengan tingkah konyolnya.
" Sana mandi, nanti telat kebandaranya." Seruku setelah selesai mengemas barang-barang milik kak Zean.
" Ini masih jam 10 pagi sayang, penerbanganku jam 4 sore, kita masih punya banyak waktu, aku mau tidur lagi." Kak Zean menarik selimut tebal miliknya, dia serius dengan ucapannya yang akan tidur lagi.
Aku mengamati jam tanganku dan benar saja ini masih terlalu pagi untuk menyuruhnya mandi. Melihat kak Zean yang sudah diam dibawah selimut aku memutuskan untuk turun dan bermain bersama Sam.
Belum juga menyentuh hendel pintu, tangan kekar kak Zean sudah memeluk pinggangku dan kepalanya tertumpu di pundakku yang membuatku merasa tidak nyaman, aku bisa merasakan nafas hangatnya membelai leherku.
" Mau kemana?" Ucapnya lembut.
" Aku kira kakak tidur, aku akan bermain dengan Sam dibawah."
Kak Zean melepaskan tangannya dan memutar tubuhku, dia membelai wajahku dengan lembut, dikecupnya keningku berulang-ulang.
" Aku tidak ingin berpisah darimu." Ucapnya sedih, dia menatapku dengan ketidakrelaan, tangannya masih terus membelai wajahku.
" Aku juga."Aku segera memeluknya dan membenamkan wajahku didada bidang milik kak Zean, aroma Vanila dari tubuhnya membuatku sangat nyaman berada di pelukannya.
Sebuah kecupan mendarat di bibirku, saat kak Zean melepaskan bibirnya, aku merasa tidak rela, tanpa ragu aku menarik tengkuk kak Zean dan berbalik menciumnya.
Kak Zean yang seperti mendapat lampu hijau segera membalas ciumanku, dia ******* bibirku sehingga bibir kami saling bertautan, sura kecapan demi kecapan terdengar indah menggema diseluruh penjuru kamar.
Tanpa melepaskan tautan bibirnya, kak Zean mengunci kamarnya, dia lalu mengangkat tubuhku dan menggendoku di bagian depan, aku mengaitkan kakiku dipinggang kak Zean agar tidak terjatuh.
Dia membawaku mendekati tempat tidur, dia duduk ditepi ranjangnya sehingga akupun duduk diatas pangkuannya.
Ciuman kami semakin dalam, lidah kami saling bertautan dan aku bisa merasakan sesuatu yang bergerak dibawah pahaku.
Aku melepas kemeja putihku sehingga menyisakan bra berwarna hitam yang membungkus kedua bukit yang sudah tumbuh didadaku.
Kak Zean melepaskan ciumanya saat menyadari aku sudah menanggalkan pakaianku dan tinggal mengenakan bra saja, dia menatapku tak percaya, lalu tatapannya berpindah turun kedadaku.
" Kamu yakin akan melakukannya sekarang?" Tanya kak Zean dengan suara seraknya, matanya sudah diselimuti oleh nafsu namun dia terlihat sedang menahannya.
Tanpa menjawab, aku kembali mencium bibir kak Zean, entah mendapat keberanian dari mana sehingga aku begitu yakin akan melakukannya hari ini.
Kak Zean yang sudah sangat bernafsu tidak menyiakan kesempatan ini, dia membuka kaitan braku dan melepaskannya dengan kasar. Kini tidak ada lagi yang menutupi tubuh bagian atasku, kak Zean menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat gundukan daging yang terpampang nyata dihadapannya.
__ADS_1
Kak Zean mendekatkan wajahnya kedadaku, dia menciumi satu persatu gundukan itu, lalu mengul*mnya penuh nafsu, aku merasa geli bercampur nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, mulutku mulai mengeluarkan desah*n yang membuat kak Zean semakin buas melahap bukit kembar milikku.
Kak Zean merubah posisinya sehingga aku berada dibawahnya sekarang. Dia melepaskan kaos tipisnya memamerkan dada bidang nan putih miliknya. Dia kembali mencium bibirku, ciumannya berpindah keleherku dan terus berpindah hingga diperutku.
Setelah puas menciumi tubuh bagian atasku, kini kak Zean mencoba membuka kancing celana jeans yang tengah aku kenakan, dia menariknya perlahan sehingga underwear berwarna hitam yang membalut bagian sensitifku mulai terlihat.
Namun tiba-tiba kak Zean menghentikan aktivitasnya, dia mengangkat kedua tangannya lalu meraih selimut dan melemparkannya diatas tubuhku. Dia segera beranjak dari tempat tidurnya dan masuk kedalam kamar mandi.
Aku yang masing bingung hanya menatap pasrah kepergian kak Zean. Aku membasahi bibirku yang telah mengering. Saat aku mulai menguasai hawa nafsu yang tadi sangat menggebu, aku mulai mengutuki kebodohanku.
Aku beranjak dari tempat tidur kak Zean dan memungut pakaianku dan segera mamakainya sebelum kak Zean keluar dari kamar mandi.
Dari dalam kamar mandi aku bisa mendengar erangan kak Zean meskipun samar-samar dan aku berasa bersalah karena hal itu, seharusnya aku tidak memancingnya dari awal, padahal kak Zean sudah sering memperingatiku untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa membuatnya kehilangan kendali.
Setelah merapikan pakaianku aku segera meninggalkan kamar kak Zean dan bergabung bersama mamy dan juga sam di ruang keluarga.
" Sudah selesai packingnya?" Tanya mamy setibanya aku disana.
" Sudah mi." Aku menghampiri Sam yang tengah belajar berdiri, dia berpegang pada sofa ruang keluarga.
" Kamu sudah ingin berjalan ya." Tanyaku pada bocah kecil yang sangat gembul, pipinya yang tembam begitu menggemaskan.
" Sayang, kenapa wajahmu merah, kamu kepanasan?" Ujar mamy yang ternyata memperhatikanku.
" Kak Zean tidak membantuku mengemasi barang-barangnya mi, dia malah tidur, makanya aku kepanasan begini mi." Aku mengipas wajah dengan tanganku dan berusaha menutupi kegugupanku.
" Dasar anak manja."
Aku kembali bermain dengan Sam sambil terus berfikir apa yang akan aku lakukan saat kak Zean turun nanti, bagaimana aku bisa menutupi rasa maluku, dasar bodoh, aku terus saja mengumpat dalam hatiku.
BERSAMBUNG....
Hye semua apa kabar hari ini, semoga kalian dalam keadaan sehat ya..
Maaf untuk hari ini aku hanya bisa up 1eps dikarenakan kesibukanku yang tidak bisa aku tinggalkan.
Terus support karyaku ya, supaya aku semakin semangat menyelesaikan cerita ini..
jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian..
Salam sayang dariku ❤❤❤❤
__ADS_1