
" Sayang bisa tolong panggilkan Zean dikamarnya, suruh dia turun untuk makan siang." Ucap mamy setengah berteriak karena beliau berada di dapur.
" Iya mi."
Dengan sedikit ragu aku menggendong Sam dan naik kekamar kak Zean, aku berhenti cukup lama didepan pintu, namun tiba-tiba pintu terbuka dan kak Zean keluar dari kamarnya. Kami sama-sama terkejut dan salah tingkah.
" Disuruh mamy turun kak." Ucapku pelan.
" Maaf." Ucap kami bersamaan, kami saling menatap satu sama lain dan kembali merasa canggung.
" Maafin aku sweety, aku tidak bisa menahan diri." Ucap kak Zean mendahului.
" Aku juga minta maaf karena aku yang memulainya." Aku kembali menunduk karena menahan malu mengingat kejadian tadi.
" Jangan pernah seperti itu lagi, aku takut tidak bisa menahannya, aku tidak ingin menghancurkan masa depanmu." Ucap kak Zean lembut, dia mengusap rambutku yang sudah tumbuh, usapan tangannya yang lembut mampu menghilangkan kecanggunganku.
" Mamy sudah menunggu, ayo kita turun kak."
" Hem."
Aku berjalan lebih dulu dan kak Zean mengekor dibelakangku, dia terus saja menggoda Sam yang kini berada di dalam pelukanku sehingga balita gembul itu tertawa. Aku tersenyum menyaksikan tingkah kakak beradik yang jarak usianya begitu jauh itu.
Di dapur mamy sudah menunggu dimeja makan yang begitu penuh dengan makanan diatasnya.
" Banyak sekali mi."Ucapku heran melihat begitu banyaknya menu hari ini.
" Semuanya masakan kesukaan Zean, dia pasti akan merindukan masakan mamy kalau sudah ada disana."
" Disana kan juga banyak makanan Indonesia, lagian masakan mamy biasa aja, enakan masakan mbok Yem." Goda kak Zean dengan senyum tertahan diwajahnya.
" Dasar anak kurang ajar." Ucap mamy sembari menjewer telinga kak Zean yang menggundang gelak tawa kami semua.
Setelah selesai makan siang kak Zean menurunkan barang-barangnya dan menunggu taxi yang sudah dia pesan. Kak Zean tidak membawa mobilnya karena mamy tidak ikut mengantarnya ke bandara, alasannya takut Sam menangis saat ditinggal, padahal mamylah yang takut akan menangis saat berpisah dengan putra sulungnya itu.
" Zee pamit ya mam, aku akan menyuruh dady untuk sering pulang dan menengok kalian." Ucap kak Zean sembari memeluk mamy.
" Hati-hati dijalan honey, mamy pasti akan sangat merindukanmu." Mamy menepuk punggung putranya beberapa kali sebelum akhirnya mamy tak sanggup menahan air matanya.
" Jangan menangis, Zee akan sering pulang, lagi pula kita sudah terbiasa berpisah seperti ini mam."
" Mamy tau tetap saja mamy sedih."
" Titip mamy ya mbok." Titah Zean kepada mbok Yem yang juga tengah menangis disebelah mamy.
Zean melepaskan pelukannya dan berganti memeluk mbok Yem yang sudah seperti ibu untuknya.
__ADS_1
" Ati-ati disana, jaga kesehatan dan jangan makan sembarangan." Ucap mbok Yem dengan air mata berlinang.
" Iya mbok, mbok juga jaga kesehatan ya."
"Zee berangkat ya." Pamit kak Zean lagi.
" Indhi juga pamit ya mi, nanti Indhi langsung pulang ke rumah, nggak bisa mampir lagi."
" Hati-hati ya sayang." Ucap mamy melepas kepergian kami
Aku dan kak Zean masuk kedalam taxi setelah berpamitan dengan mamy dan mbok Yem.
Aku bersandar dipundak kak Zean dan tangan kami saling bertautan, rasanya begitu berat untuk berpisah darinya. Mungkin hal ini juga tengah dirasakan oleh kak Zean, enggan berpisah dariku.
Disepanjang perjalanan kami hanya diam, kak Zean tak sesetikpun melepaskan tanganku dan sebaliknya aku juga tidak merubah posisi kepalaku, rasanya sangat nyaman berada dipundak kak Zean.
***
" Berapa lama lagi?" Tanya kak Zean setelah kami sampai dibandara dan kami duduk ruang tunggu.
" Satu jam"
" Kenapa waktu berputar begitu cepat." Keluh kak Zean.
Kak Zean tersenyum sembari menatap wajahku, tangannya menyentuh pipiku dengan lembut, tangannya yang selalu terasa hangat membuatku begitu nyaman akan sentuhannya.
" Tunggu aku." Ucap kak Zean lembut.
Aku hanya menganggung, mataku kembali berkaca-kaca, rasanya semakin tidak rela untuk berpisah darinya sekarang.
Satu jam telah berlalu, kak Zean benar-benar akan meninggalkanku sekarang.
" Jaga dirimu baik-baik, aku akan sering menelfon."
Kak Zean menarik tubuhku kedalam pelukannya dan aku membenamkan wajahku didada kak Zean, air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya tumpah, aku tidak bisa menahan kesedihanku lagi, berat rasanya melepaskan kak Zean untuk pergi, dua tahun bukanlah waktu yang singkat, akankah hubungan kami bertahan sampai saat itu.
Ketakutan mulai muncul dibenakku, bagaimana jika kak Zean menemukan seseoraang yang jauh lebih baik dariku ketika kami tidak bersama dan bagaimana jika kak Zean melupakanku.
Aku berusaha untuk menepis segala ketakutanku, sekarang yang kami perlukan adalah rasa saling percaya, dengan begitu semua ketakutan yang aku rasakan tidak akan pernah terjadi, semoga.
" Jangan menangis, aku akan sering pulang, hanya dua tahun, tunggu aku, setelah itu aku akan selalu bersamamu."
" Jangan terlalu dekat dengan teman priamu."
" Belajarlah yang rajin, karena aku akan menagih janjimu saat kamu sudah menjadi dokter."
__ADS_1
Kak Zean menatapku penuh kasih, jemarinya menyeka air mata yang terus menetes dan membasahi wajahku, dia kembali memelukku dan mengecup pucuk kepalaku.
" Aku pergi sekarang." Ucap kak Zean, lalu dia melepaskan pelukannya.
" Hati-hati pulangnya."
" Kabari aku begitu sampai disana kak!"
" Tentu."
" Aku mencintaimu." Kak Zean mengecup keningku sebelum akhirnya dia melangkah menjauhiku.
Beberapa kali kak Zean berbalik dan melambaikan tangannya, aku hanya tersenyum simpul dan membalas lambaian tangannya. Aku menatap punggung kak Zean yang mulai menjauh sampai akhirnya kak Zean hilang dari pandanganku.
Hanya dua tahun, dia juga berjanji akan sering pulang, bertahanlah, aku tidak boleh seperti ini, gumamku dalam hati mencoba menguatkan diriku sendiri agar tidak larut dalam kesedihan.
Aku menyeka mataku yang basah dan memutuskan untuk pulang.
Brakk, seseorang menabrakku saat aku hendak berbalik, aku mengaduh karena benturan yang cukup keras ditubuhku.
" Maaf aku sedang buru-buru." Ucap seorang wanita yang menabrakku.
" Kak Natasha." Pekikku saat aku melihat wanita yang tengah sibuk memungut barang-barangnga dilantai.
" Kamu." Kak Natasha tak kalah kaget saat dia melihatku.
" Kakak mau kemana?" Tanyaku penasaran.
" Aku akan ke LA."
" Kamu ngapain disini?" Imbuh kak Natasha.
" Mengantar kak Zean."
" Oh." Jawab kak Natasha dengan senyum yang terlihat mengejek.
Tanpa berbasa-basi lagi kak Natasha berlalu begitu saja dan menghilang diantara kerumunan.
" LA, apakah dekat dengan California, kenapa bisa kebetulan sekali atau jangan-jangan mereka...."
" Aish, buang fikiran itu Indhi, kak Zean baru saja bernagkat, pesawatnya saja mungkin belum lepas landas dan kamu sudah mencurigainya."
Aku segera menepis segala kecurigaanku, mungkin saja memang kebetulan kak Natasha juga berangkat keluar negeri hari ini, aku sudah berjanji untuk menunggunya dan untuk menepati janji itu, hal pertama yang harus aku lakukan adalah mempercayainya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1