Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 99 Amerika


__ADS_3

1,5 tahun kemudian..


Waktu telah berlalu, dalam satu setengah tahun ini hanya dua kali kak Zean menyempatkan untuk pulang dan menemuiku. Berbeda dengan awal kepulangannya, dua kepulangan kak Zean berikutnya kami lebih banyak menghabiskan waktu berdua hanya dirumah saja. Tak ada pertengkaran atau perdebatan saat kami tengah bersama, jarak yang memisahkan kami menjadi pelajaran berharga untuk kami lebih menghargai waktu ketika sedang bersama.


Ujian Nasional telah usai, aku tengah menyiapkan diri untuk masuk ke Fakultas Kedokteran, kali ini bukan karena paksaan dari ibu, tapi karena mutlak keinginanku.


Tak ada yang istimewa selama satu setengah tahun ini, aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk belajar, sesekali aku masih pergi keluar bersama kedua sahabatku Arum dan Dita. Mereka juga tengah mempersiapkan diri mereka untuk masuk kuliah, Arum memilih Fakultas Hukum dia ingin menajadi seorang pengacara dan mengikuti jejak kedua orangtuanya. Sedangkan Dita, dia memilih untuk menjadi perawat.


**


" Bagaimana hasilnya, diterima?" Tanya kak Zean, kami sedang melakukan panggilan vidio dan aku tengah menunggu pengumuman penerimaan mahasisawa baru.


"Belum keluar hasilnya." Aku menggigit ujung jariku saking gugupnya. "Aku akan memeriksa sekali lagi kak." Ucapku gugup.


" Kak aku..."


" Bagaimana, diterima?" Ujar kak Zean penuh semangat.


Aku menunduk lemah..


" It's okay, kamu bisa mencobanya lagi tahun depan." Ucap kak Zean lembut, melihat ekspresiku dia menebak aku tidak lulus seleksi untuk masuk Fakultas Kedokteran.


" Aku diterima." Teriakku penuh semangat, aku berdiri dan menari-nari, dari layar laptop aku bisa melihat kelegaan diwajah kak Zean.


Aku berlari keluar kamar dan berteriak memanggil ibu yang tengah berada di dapur bersama bi Sumi. "Bu, ibu, Indhi diterima bu."Seruku dari ujung tangga.


Mendengar teriakanku ibu segera menghampiriku, wajah ibu terlihat begitu bahagia. " Kamu diterima?" Ulang ibu.


Aku mengangguk dengan semangat, lalu ibu memelukku dan mencium pipiku berulang kali. "Kamu memang hebat, ibu bangga padamu, segera hubungi kakakmu, kita akan mengunjunginya." Ucap ibu dan membuaku terkejut.


"Mengunjungi kak Ega." Ulangku penuh penekanan.


" Hem, ibu dan kakakmu sudah berjanji akan membawamu liburan disana kalau kamu diterima di Fakultas Kedokteran" Jelas ibu.


Aku menutup mulutku karena tak percaya akan menyusul kak Ega keluar negeri, sudah lama sekali kami tidak bertemu, aku sangat bersemangat, aku sudah tidak sabar untuk menemuinya.


Aku kembali kekamar, aku lupa belum mematikan panggilan vidio bersama kak Zean dan saat aku kembali kak Zean belum menutup panggilannya.


" Selamat sayangku, aku bangga padamu."

__ADS_1


Aku tersenyum lebar hingga menampakkan gigiku. "Terimakasih kak."


"Maaf aku tidak bisa pulang dan merayakan kelulusanmu, aku sangat sibuk menyiapkan Tesisku." Ucapnya sedih.


" Aku mengerti kak, lagipula sebentar lagi kakak juga pulang."


" Hem, mungkin 5 atau 6 bulan lagi."Ucap kak Zean kembali bersemangat.


"Kak."


" Ya."


" Apa Maryland dan California jauh?"


" Lumayan, butuh waktu sekitar 5 jam jika menggunakan pesawat, kenapa?"


Aku menggelengkan kepalaku, aku tidak mengatakan kepada kak Zean tentang rencana ibu yang akan mengajakku mengunjungi kak Ega.


***


seminggu kemudian..


"Aku sangat merindukan kakak."


" Kakak juga."


Kak Ega melepas pelukanku dan berganti memeluk ibu yang telah berada disebelahku.


"Bagaiamana kabarmu nak?"


" Ega baik bu, ibu apa kabar?"


Ibu melepas pelukan kak Ega. " Seperti yang kamu lihat, ibu baik-baik saja."


Kak Ega kembali menatapku, dia mengelus kepalaku dengan lembut. "Sejak kapan kamu jadi setinggi ini." Ucap kak Ega dengan senyum diwajahnya. "Selamat untuk kelulusanmu ya, kakak bangga sekali padamu." Imbuh kak Ega.


"Dua tahun bukan waktu yang singkat kak, aku tumbuh besar dan tinggi ketika kakak pergi."


" Terimaksih kak, ini berkat doa serta dukungan ibu dan kakak."

__ADS_1


Kak Ega memasukan koper kami kedalam taxi, kami segera meninggalakan bandara dan menuju apartemen sewa milik kak Ega.


Kak Ega membuka pintu apartemennya. "Ayo masuk bu." Aku dan ibu masuk kedalam apartemen, aku takjub melihat apartemen kak Ega yang begitu rapi, dia masih kakakku yang dulu, gumamku dalam hati.


" Istirahatlah, kalian pasti lelah." Kak Ega mengajakku dan ibu ke kamarnya, hanya ada satu kamar di apartemen ini.


" Kasurnya tidak luas, tapi muat untuk kalian berdua."


Kak Ega meninggalkanku dan ibu dikamarnya, aku segera melompat keatas kasur untuk beristirahat begitupula dengan ibu.


***


Keesokan harinya kak Ega masih belum bisa menemaniku untuk jalan-jalan, karena bosan aku berinisiatif meminta izin kepada ibu untuk menemui kak Zean sebentar.


Awalnya ibu khawatir membiarkanku pergi sendiri, tapi akhirnya ibu mengizinkanku untuk pergi.


" Hanya satu hari, besok sudah harus kembali kesini."


***


Setelah 5 jam akhirnya pesawat yang kutumpangi mendarat di Bandara Internasional Los Angeles, aku melanjutkan perjalananku menggunakan taxi untuk menuju alamat rumah kak Zean di Santa Monica, setengah jam perjalanan supir taxi menghentikan mobilnya di depan rumah berlantai dua yang cukup besar.


Aku turun dari taxi dan memasuki halaman rumah yang tak berpagar itu. Didepan rumah itu aku kembali mencocokkan alamatnya. Sudah benar, ucapku lirih.


Aku mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada yang kunjung membukanya. Aku mencoba berkeliling, siapa tau kak Zean sedang berada disekeliling rumahnya.


Aku pergi ke samping rumah, banyak bunga tertanam disana, mungkin ini bunga-bunga yang sering mamy bicarakan kepadaku. Aku melanjutkan langkahku, aku tersenyum saat melihat kak Zean tengah berada halaman belakang rumahnya, pantas saja dia tidak mendengar ketukanku, dia sedang sibuk dengan laptop dihadapannya. Aku berjalan dengan pelan agar suara langkahku tidak terdengar oleh kak Zean, aku tidak sabar ingin memberinya kejutan, dia pasti sangat bahagia melihatku disini sekarang


Aku menghentikan langkahku saat aku melihat sosok yang begitu aku kenali datang menghampiri kak Zean, aku bersusah payah menelan ludahku saat menyaksikan wanita itu memeluk kak Zean dari belakang, dadaku terasa begitu sesak ketika wanita itu beberapa kali mengecup pipi kak Zean dan tak ada penolakan dari kak Zean.


Dengan sedikit keberanian aku berjalan mendekari kak Zean dan wanita itu, mereka masih belum sadar dengan kedatanganku, aku menggigit bibir bawahku, sedikit ragu untuk melanjutkan langkahku saat melihat kedekatan mereka, rasanya aku ingin segera pergi dari tempat ini, tapi aku juga ingin mendengar penjelasan kak Zean tentang semua ini.


" Apa ini Tesis yang kamu maksud kak?" Ucapku dengan suara bergetar.


Kak Zean berbalik kearah sumber suara, dia begitu terkejut ketika melihatku berada di sana, dia melepas tangan wanita yang tengah melingkar dilehernya dan berlari kearahku.


" Aku bisa jelaskan." Ucapnya terbata.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2