Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 51 Aku bukan kakakmu


__ADS_3

Beberapa kali aku mencoba menghubungi kak Zean tetapi dia tidak mengangkatnya. Beberapa menit kemudian ponselku berbunyi dan ternyata kak Zean yang balik menghubungiku.


"Hallo kak."


" Hallo sweety, ada apa? Aku baru selesai mandi."


" Ada yang ingin aku bicarakan."


" Bicaralah."


Aku diam sesaat, memikirkan bagaimana caranya aku harus memulai pembahasan tentang beasiswa yang di terima kak Zean.


" Sweety, kenapa diam?"


" Kak Ega sudah tahu tentang kita dan dia ingin kita putus." Aku memukul kepalaku sendiri karena merasa bodoh, bukan ini yang ingin aku bicarakan sekarang.


" Lalu, apa kamu setuju?"


" Belum. Maksudku aku belum menjawabnya."


" Jadi kamu berencana untuk putus denganku?"


" Bukan begitu."


" Buktinya kamu tidak langsung menolak perintah kak Ega." Suara kak Zean terdengar sedih.


" Aku tidak ingin kak Ega sedih, tapi aku juga tidak mau kita putus." Suaraku mulai serak tanda-tada aku akan segera menangis.


" Maka pertahankan keduanya. Jangan buat kak Ega sedih dan jangan putus dariku juga."


" Lalu apa yang harus aku lakukan."


" Meyakinkan kak Ega." Perintah kak Zean yang malah membuatku semakin frustasi, dia tidak tau jika sifat keras kepalaku itu menurun dari kak Ega. Jadi bukan perkara yang mudah untuk meyakinkan kak Ega.


" Aku usahakan."


" Kamu sudah makan malam?" Tanya kak Zean.


" Belum, kakak sudah?" Tanyaku balik.


" Belum juga, aku baru saja sampai. Tadi mampir ke restoran dulu."


" Oh."


" Kamu kenapa?" Kak Zean bertanya lagi.


" Apa ada yang kakak rahasiakan dariku?"


" Tidak. Kenapa memangnya?"


Kak Zean berbohong kepadaku, kenapa dia tidak jujur saja kepadaku.


" Aku hanya penasaran dengan sesuatu?"


" Apa?"


" Dulu kakak pernah akan pergi ke California, kakak juga bilang akan menetap disana. Lalu apa yang membuat kakak berubah fikiran."


" Kamu."

__ADS_1


" Kenapa."


" Aku tidak ingin jauh darimu sweety."


" Kak."


" Hmm."


" Jangan pernah melakukan sesuatu yang merugikan kakak hanya demi aku."


" Apa maksudmu?"


" Masalah beasiswa..."


" Aku bisa menjelaskannya." Kak Zean memotong kalimatku.


" Kenapa kakak membatalkannya?"


" Aku tidak membatalkannya."


" Maksud kakak."


" Aku memberikan beasiswaku untuk yang lebih membutuhkannya."


" Makdsud kakak?"


" Aku mendaftar beasiswa itu bersama salah satu temanku, dia sangat pintar tapi sayang kondisi ekonomi keluarganya tidak mendukung kepintarannya, jadi aku sengaja mundur supaya dia mendapat lebih banyak kesempatan dan ternyata dia berhasil mendapat beasiswa itu."


" Memangnya kamu mau aku pergi ke luar negeri?"


" Tidak. Tapi jika itu untuk kebaikan kakak maka aku akan setuju."


" Aku bisa menyusulmu ke sana."


" Benarkah."


" Tentu saja." Tentu saja aku hanya membual.


" Kak."


" Apa lagi."


" Kenapa lavender kita belum mekar, ini sudah di pertengahan bulan Desember, katamu akhir Agustus dia akan mekar?"


" Berarti kamu tidak pandai merawatnya." Ujar kak Zean.


" Kan sudah aku bilang, aku memang tidak pandai merawat tanaman, besok aku kembalikan saja kepada kakak, kasian lavender ini, dia bisa mati jika terus di rawat olehku."


Kami masih terus melanjutkan obrolan, padahal entah hal apa yang kami bincangkan, tetapi aku sama sekali tak merasa bosan mendengar cerita receh dari kak Zean, aku beberapa kali merubah posisiku, dari duduk di kursi, berjalan sambil bermain dengan Cleo sampai berguling-guling di kasur empukku, sepertinya semua gaya sudah aku lakukan dan aku mulai kelelahan dan tertidur.


" Sweety, kamu tidur?"


" Makan malam dulu sebelum tidur!"


" Sayang apa kamu mendengarku?"


" Ya sudah, selamat istirahat. Nice dream sweety, i love you."


Aku sudah terbuai dengan mimpi indahku sehingga aku sudah tidak mendengar kata-kata dari kak Zean lagi.

__ADS_1


Aku terbangun di tengah malam ketika aku mendengar suara benda jatuh di lantai bawah. Aku melangkah dengan pelan mendekati pintu dan suara benda jatuh terdengar semakin sering. Jangan-jangan ada maling di rumahku.


Perlahan aku membuka pintu kamar, aku berjalan berjinjit agar tidak menimbulkan suara, di tanganku sudah ada tongkat kasti yang aku bawa dari sekolah SMP-ku dulu.


Aku berjalan mendekati tangga, suara benda jatuh sudah tak terdengar lagi dan berganti menjadi suara tangisan di dekat dapur. Aku mulai merinding dan menghentikan langkahku. Jangan-jangan hantu, tapi apa hantu bisa melemparkan sesuatu. Dengan ragu aku mulai menuruni tangga, suara tangisan itu mulai dekat. Aku mendekati sumber suara yang berasal dari dapur.


" Aaaaaaaaaaa." Aku berteriak melihat seseorang keluar dari bawah meja makan.


" Siapa disana?" Tanyaku sambil mengayun-ayukan tongkat kastiku.


" Indhi." Sebuah suara yang ku kenal memanggil namaku.


" Kak Ega." Aku mendekati kak Ega yang masih berdiri di dekat meja makan.


" Kakak ngapain disini?"


" Kakak mabuk?" Tanyaku setelah mencium bau alkohol dari badan kak Ega.


Aku menarik kursi dan membantu kak Ega duduk, aku menyalakan lampu dapur dan mengambil air mineral dari dalam kulkas.


" Minum dulu." Aku membuka tutup botol dan menyerahkannya kepada kak Ega.


Kak Ega meraihnya lalu menghabiskan air tersebut. Penampilan kak Ega sudah sangat tak karuan, wajahnya layu, matanya sembab, rambutnya berantakan dan kemejanya sudah tidak terkancing lagi, untung saja kak Ega memakai kaos sehingga badannya masih tertutup.


Baru kali ini aku melihat kak Ega mabuk, padahal biasanya kak Ega paling anti dengan minuman keras.


Kak Ega menyandarkan kepalanya di atas meja, matanya mulai terpejam.


" Jangan tidur di sini." Aku membungkukkan tubuhku lalu mengguncang tubuh kak Ega.


" Kak ayo pindah ke kamar." Ajakku lagi tapi tak mendapat respon dari kak Ega.


Aku menegakkan badanku, menghembuskan nafas dengan kasar dan berniat pergi meninggalkan kak Ega yang sudah tertidur. Aku mengurungkan langkahku saat kak Ega memegang pergelangan tanganku, kepalanya mulai terangkat dan menatapku dengan senyum sedih di wajahnya. Tiba-tiba kak Ega menarikku sehingga aku terduduk di pangkuan kak Ega dan Kak Ega memelukku dengan erat, dia membenamkan kepalanya di antara rongga dadaku. Aku merasakan ada cairan hangat yang mengalir mengenai kulitku dan sesaat kemudian aku mulai mendengar isak dari mulut kak Ega. Dia menangis, seorang kak Ega yang selalu terlihat kuat kini sedang menangis di pelukan adiknya.


Aku menepuk punggung kak Ega mencoba untuk menenangkannya namun suara tangisnya malah semakin keras.


Tiba-tiba terlintas niat jahil di kepalaku, aku mengeluarkan ponselku lalu meletakannya di posisi yang pas supaya bisa merekam aktivitas kami. Aku cekikikan karena mempunyai senjata baru untuk melawan kak Ega.


" Sudah ku bilang aku menyayangimu, kenapa kamu malah memilih bersama dia." Kak Ega mulai mengoceh.


" Aku tidak mau hanya di anggap kakak olehmu, aku bukan kakakmu." Ucap kak Ega lagi.


Sepertinya kak Ega sedang patah hati, wanita yang di sukainya hanya menganggapnya sebagai kakak. Kasihan kakakku ini, wanita bodoh mana yang sudah menolak perasaan kak Ega.


" Aku harap kamu memutuskan dia dan bersamaku selamanya, aku akan menunggumu sampai kau mau denganku." Kak Ega mulai berteriak.


Aku membekap mulut kak Ega dan menggeleng tak percaya dengan apa yang sedang aku saksikan sekarang. Kau pasti akan sangat malu jika melihat tingkahmu sekarang kak. Sedalam itukah kakak mencintai wanita itu.


Hampir satu jam aku menemani kak Ega dan mendengar ocehannya yang tak jelas. Saat dia mulai sedikit sadar aku membantunya menaiki tangga dan membawanya ke dalam kamar. Aku membanting tubuhnya di atas kasur. Aku mengatur nafasku dan mengeluarkan ponsel dari kantongku.


Akan aku pastikan kakak malu setelah melihat ini besok.


BERSAMBUNG....


Hy, akhirnya aku bisa menulis 2 bab baru hari ini meski tak mudah.


kira kira siapa wanita yang kak Ega maksud ya?


jangan bosan menunggu kelanjutannya ya..

__ADS_1


Salam sayang dariku❤❤❤


__ADS_2