
Aku masih berdiri memandangi punggung adikku yang mulai menjauh. Aku tak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. Benar kata Zean, kakak macam apa yang mencintai adiknya sendiri. Aku terus merutuki kebodohanku, seandainya aku bisa menahan perasaan bodoh ini, seandainya dia tak perlu tau tentang perasaan gila ini, seandainya, seandainya, yang ada di dalam kepalaku hanyalah kata seandainya.
Aku menatap nanar wajah laki-laki yang di cintai oleh adikku, memar di wajahnya mulai membiru, ada noda darah di sudut bibirnya yang sudah mengering.
Mungkin semuanya berawal dari dia, aku cemburu melihat kedekatan mereka. Pagi ini setelah melihat tanda merah di leher Indhi aku merasa begitu sakit, fikiranku kacau, aku tidak berani membayangkan apa yang telah mereka lakukan. Aku mempercayai adikku tapi tidak dengan laki-laki yang kini tengah berdiri di hadapanku.
Lalu sejak kapan perasaan ini mulai timbul? Entahlah, awalnya aku fikir aku begitu menyayanginya karena dia adikku. Setelah aku tau kebenaran tentang diriku, perasaan lain mulai tumbuh di hatiku, aku tak lagi memandangnya sebagai adikku, aku bahagia melihat senyumannya dan aku terluka setiap melihatnya menangis.
Kalian pasti akan menganggapku gila, setiap kali berdekatan dengannya jantungku berdebar dan rasa ingin memilikinya semakin besar.
Setahun lamanya aku bisa menahan semua perasaan ini, aku cukup mencintainya dalam diam, melihat senyumannya adalah suatu kebahagiaan tersendiri dalam hatiku, bisa terus melihatnya dari dekat sudah lebih dari cukup bagiku waktu itu.
Tapi semuanya tidak lagi sama saat Zean mulai datang ke dalam kehidupan Indhi. Matanya berbinar setiap kali manatap laki-laki itu, dia selalu bersemangat setiap kali membicarakannya dan hal itu membuatku terbebani. Perasaan yang semula tersimpan rapi, kini mulai mencuat di hatiku. Aku mulai serakah dan aku mulai berharap lebih.
Sebenarnya hari ini aku mengajaknya pergi karena aku ingin mengakhiri perasaan ini sebelum dia mulai menyadarinya. Dan sebelum itu, aku ingin menghabiskan waktu bersamanya, aku ingin pergi bersamanya, bukan sebagai kakak tapi sebagai seorang lelaki dewasa yang mencintainya.
Tapi semuanya terlambat, dia sudah mengetahui kebenaranya. Lantas bagaimana aku harus menghadapinya nanti, apakah aku bisa bersikap seperti biasanya atau kami akan menjadi orang asing setelah ini?
***
" Lukamu harus di obati?" Tawarku kepada Zean yang masih berdiri di depanku.
" It's okay." Jawab Zean singkat.
" Maaf soal tadi, aku tidak bisa menahan emosiku." Pintaku penuh sesal.
" Aku juga minta maaf karena aku yang memancing emosi kak Ega."
__ADS_1
" Kamu benar-benar mencintainya?" Tanyaku sedikit ragu.
" Sangat kak, sangat mencintainya." Jawab Zean tanpa keraguan.
Meskipun terluka mendengar ucapannya, tapi aku juga merasa lega, karena artinya ada orang lain yang mencintai Indhi sepenuh hati dan akan menjaganya jika suatu saat nanti aku harus pergi.
" Tentang tanda di lehernya...."
" Kami tidak melakukannya kak, itu kesalahnku karena tak bisa menahan diri, tapi sungguh kami tidak melakukan hal yang tak seharusnya kami lakukan."
" Aku akan mempercayaimu."
" Bagaimana dengan kakak, kakak mencintainya?"
" Aku sangat mencintainya melebihi hidupku sendiri"Gumamku dalam hati.
" Kakak akan menyerah?"
" Tentu saja, aku tidak ingin kehilangan keluargaku. Hanya mereka yang aku punya."
" Terimakasih kak, karena kita tidak harus bersaing."
"Hmm. Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu."
" Jangan pernah menyakitinya atau aku akan mengambilnya darimu." Ancamku sambil menepuk pundaknya.
Aku berlalu meninggalkan Zean yang masih berdiri di tempatnya. Aku menghembuskan nafas penuh kelegaan, rasanya seperti batuan besar yang menghimpit hatiku telah hilang, mungkin ini yang terbaik untuk kami semua, mereka tau perasaanku yang sebenarnya dan sekarang tugasku hanyalah menjaganya dari jauh.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam mobilku lalu menghidupkannya. Aku duduk termenung, ingatanku menerawang jauh kejadian dua tahun silam, seandainya aku tidak pernah bertemu dengan wanita itu, seandainya aku tetap percaya dengan orangtuaku, seandainya aku tak pernah melakukan tes DNA itu, mungkin sekarang keadaanya tidak akan seperti ini, aku akan terus menjadi kakak kandungnya dan hubungan kami akan tetap baik-baik saja.
Dua tahun lalu, saat aku masih menjadi residen di rumahskit lamaku, aku bertemu dengan seorang wanita yang usianya hampir sama dengan ibu.
Awalnya aku fikir dia hanya akan berobat, tetapi aku salah. Dia sengaja datang menemuiku, berpura-pura menjadi pasienku dan tanpa aku sadari dia mulai mempengaruhiku.
Hampir setiap dua minggu sekali dia datang untuk berkonsultasi, setelah itu dia akan menceritakan tentang putranya yang telah lama hilang, dia bilang sangat ingin menemui putranya.
Hingga suatu ketika ibu menyusulku ke rumahsakit karena dompetku tertinggal di rumah, dia menyaksikan kedekatanku dengan ibu dan dengan lantangnya dia berkata bahwa aku putra kandungnya , putra yang telah lama hilang, putra yang sangat di rindukannya.
Aku tak percaya begitu saja, lalu dia menunjukan foto masa kecilku. Aku masih tidak mempercayainya sampai akhirnya dia mengusulkan untuk tes DNA dan dengan bodohnya aku mengambil sampel rambut ayah dan melakukan tes DNA.
Duniaku hancur waktu itu, hasil tes menunjukkan jika aku memang bukanlah anak kandung ayah dan ibu. Saat aku ingin menanyakan masalah ini, tiba-tiba ayah meninggal karena kecelakaan.
Melihat ibu yang begitu terpukul, aku mengurungkan niatku, aku tidak ingin menambah beban kesedihan ibu. Sejak saat itu aku memutuskan untuk merahasiakannya dan menutup kisah lama tentang siapa diriku dan dari mana asalku.
Setelah masa residenku selesai, aku mendaftar di rumahsakit baru yang sekarang menjadi tempat kerjaku. Aku tidak ingin wanita itu menemuiku lagi. Aku hanya akan fokus dengan keluargaku sekarang.
Sampai setahun yang lalu tanpa sengaja aku menemukan kotak kayu itu dan mendapati fakta jika aku telah di tinggalkan, aku telah di buang bahkan aku adalah seseorang yang tidak di harapkan kehadirannya. Aku meyesal karena sempat mempunyai fikiran untuk menerima ibu kandungku, tapi setelah membaca surat ini aku berjanji kepada diriku sendiri, tidak ada ibu lain selain ibuku, ibu yang telah merawat dan membesarkank.
Ada satu hal yang menajdi pertanyaanku sampai hari ini, dari mana dia tau jika aku anaknya.
Aku berharap dia tidak akan menemuiku lagi dan tidak akan mengganggu keluargaku.
Bagiku sekarang keluarga bukan hanya karena ikatan darah saja. Meskipun aku bukan anak kandung ibu, hal itu tidak akan mengubah fakta jika aku menyayangi beliau lebih dari apapun.
Dan untukmu gadis kecilku, tetaplah menjadi sama, biarkan aku mencintaimu dengan caraku. 😢😢
__ADS_1
BERSAMBUNG...