
"Temui aku di cafe biasa, aku sangat merindukan kakak."
Aku berlalu meninggalkan kak Zean dengan senyuman di wajahku.
***
Sepulang sekolah aku menunggu kak Zean di depan cafe. Tempat yang menjadi saksi bisu saat kak Zean menurunkanku sewaktu kita berangkat bersama dan tempat yang menjadi titik jemput saat kami akan pulang bersama.
Kak Zean menepikan mobilnya tepat di hadapanku dan aku segera masuk ke dalam mobil.
" Kita mau kemana?" Tanya kak Zean setelah dia melajukan mobilnya.
" Terserah kakak."
" kamu nggak les?"
" Aku bolos hari ini, bawa aku kemanapun kakak mau hahaha."
" Kenapa semakin hari kamu semakin genit si?" Ucap kak Zean sambil menoel hidungku.
" Benarkah?"
Kak Zean kembali fokus pada jalanan di depannya, sesekali tanggan kirinya mengelus rambutku dengan senyum merekah di wajahnya.
" Kok ke rumah?" Tanyaku saat kak Zean sudah memarkirkan mobil di depan rumahnya.
" Biar aman."
Benar juga satu-satunya tempat paling aman untuk kita bertemu adalah di rumah. Aku mengekori kak Zean masuk ke dalam rumahnya.
" Kok sepi kak, mamy kemana?"
" Mamy pergi ke rumahsakit sama Sam sama mbok Yem juga?"
" Siapa yang sakit kak?" Tanyaku dengan nada khawatir.
" Sam sudah waktunya imunisasi katanya."
" Oh gitu."
" Bisa ikut aku ke atas, ada yang ingin aku tunjukkan ke kamu."
Aku mengikuti kak Zean ke lantai atas dan masuk kedalam kamarnya. Aku duduk di sofa sementara kak Zean masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Aku merogoh ponsel dari saku bajuku saat ada notifikasi pesan masuk."
" Ibu ada pekerjaan di luar kota dan tidak bisa pulang malam ini, beritahu kak Ega untuk pulang agar kamu tidak sendirian."
Aku menghela nafas panjang setelah membaca pesan dari ibu.
" Ada apa, kenapa manyun begitu?"
__ADS_1
Aku menunjukkan pesan dari ibu kepada kak Zean. Kak Zean meraih ponselku lalu membaca pesan dari ibu dan duduk disebelahku.
" Menginap saja di sini."
" Kakak gila? Apa kata mamy nanti?"
" Bilang saja kamu takut sendirian, nanti biar aku yang bilang ke mamy. Mamy pasti mengizinkan."
" Nanti biar aku pulang ke rumah kak Ega saja."
" Kalau kak Ega tidak di rumah bagaimana?"
" Pulang ke rumah ibu, lagian aku juga udah terbiasa sendiri."
" Apa yang mau kakak tunjukan padaku."
" Buka lemari itu." Kak Zean menunjuk lemari pakaiannya.
Aku berdiri dan berjalan mendekati lemari yang di tunjuk kak Zean. Aku menoleh saat berada di depan lemari untuk memastikan apakah ini lemari yang kak Zean maksudkan dan dia mengangguk. Aku membukanya perlahan dan tiba-tiba sesuatu keluar dari dalam lemari dan menimpaku. Aku tersenyum melihat boneka beruang raksasa yang besarnya hampir sama denganku.
" Untukku?" Ucapku sambil menunjuk diriku sendiri.
" Happy Anniversary sweety, terimakasih sudah menemaniku setahun ini, aku mecintaimu." Kak Zean berjalan mendekat lalu memelukku.
" Astaga, bagaimana aku bisa lupa. Maafin aku kak, aku selalu melewatkan momen spesial kita."
Kak Zean melepas pelukannya, kini dia menatapku, dia mengelus rambutku dan meyelipkannya di belakang telingaku.
" Kamu benar-benar pelupa, bagaimana jika nanti kamu melupakanku?"
" Kamu tidak punya hadiah untukku."
" Maaf." Ucapku penuh sesal.
" Ya sudah, aku memang tidak penting untukmu." Kak Zean merajuk lalu berjalan ke arah pintu.
Aku mengejar kak Zean dan memeluknya dari belakang, aku merasa bersalah kepadanya. Waktu itu aku melupakan ulang tahunnya dan sekarang aku melupakan Anniversary kami.
" Jangan marah, aku tidak akan melupakannya mulai sekarang. Hadiah apa yang kak Zean inginkan, aku akan mengabulkan semuanya."
" Semuanya?" Ulang kak Zean.
" Hem."
Kak Zean memutar tubuhnya dan kini kami saling berhadapan.
" Boleh aku memintanya." Pinta kak Zean sambil menujuk bibirku.
Aku diam sesaat dan mempertimbangkan keinginan kak Zean. Hanya sebuah ciuman kan, kak Zean tentu tidak akan meminta lebih dari ini. Lagi pula kami juga sudah pernah melakukannya beberapa kali.
Akhirnya aku menganggukan kepalaku. Kak Zean menangkup kedua pipiku, aku mendongakkan kepalaku dan menatap mata birunya, perlahan kak Zean mulai mendekatkan wajahnya, hembusan nafasnya yang hangat mengenai wajahku, aku memejamkan mataku saat bibir kak Zean mulai menyentuh bibirku, dia melu**nya perlahan dan lidahnya mulai menerobos kedalam rongga mulutku. Aku membalas ciuman kak Zean, lidah kami saling bertautan dan kami saling mengecap satu sama lain.
__ADS_1
Kak Zean melepas ciumannya, dia berjalan mundur mendekat ke arah pintu dan menguncinya. Aku menelan ludahku, aku mulai takut jika kak Zean melewati batasannya. Ketakutanku sirna seketika saat kak Zean mulai menciumku lagi, kini ciuman kak Zean tak selembut tadi, beberapa kali dia hampir menggigit bibirku.
Kak Zean kembali melepas ciumannya, kini tangannya berpindah ke pinggangku, dia mengangkat tubuhku dan menggendongku di depan, reflek tanganku segera melingkar di leher kak Zean. Kak Zean kembali melu**t bibirku, ciumannya semakin dalam dan aku mulai terbuai olehnya.
Kak Zean mendudukanku di atas ranjangnya tanpa melepas ciumannya, tangannya mulai membuka kancing bajuku satu persatu dan setelah berhasil membuka semuanya dia melepas baju seragamku.
Kini aku hanya mengenakan Tank-top bra yang menutupi tubuh bagian atasku. Kak Zean mulai menggila setelah melihat penampilanku, dia mulai memindahkan ciumannya ke leherku. Kak Zean mendorong tubuhku sehingga aku jatuh terlentang di atas ranjangnya, dia membuka kaosnya dan mulai mendekatiku lagi, mata birunya yang teduh kini tertutup kabut nafsu yang menyelimutinya.
Aku mulai sadar jika ini bukanlah kak Zean yang ku kenal, dia tak akan menyakitiku dan dia bahkan berjanji tidak akan menyentuhku tanpa persetujuanku. Aku mendorong tubuh kak Zean saat kak Zean mulai mencumbuku lagi, tangannya mulai berkeliaran menjelajahi tubuh bagian atasku.
Tapi percumah, tenagaku kalah telak, melihat penolakanku kak Zean malah semakin menggila, tangannya mulai mengelus pahaku dan kini dia bahkan berusaha melepas under wear milikku.
Aku berusaha mendorong tubuh kak Zean lagi, aku memang mencintainya tapi untuk sekarang aku belum siap menyerahkan harta milikku yang paling berharga.
Aku gagal dan menyerah, aku hanya bisa pasrah dan menangis. Suara tangisanku akhirnya berhasil menghentikan kekhilafan kak Zean.
Kak Zean menghentikan ciumannya, dia berdiri lalu membantuku bangun dari tempat tidurnya.
" Apa yang telah aku lakukan. Astaga Tuhan, hampir saja aku menyakiti orang yang paling aku cintai."
" Pril maafin aku, maaf Pril." Suara kak Zean bergetar.
" Pukul aku Pril, pukul. Aku bahkan tidak bisa menjagamu, aku menyakitimu." Teriak kak Zean frustasi dia bahkan menjambak rambutnya sendiri.
"Pukul Pril, pukul. Aku pantas mendapatkannya." Kak Zean meraih tanganku dan menuntunnya untuk memukul tubuhnya.
" Maafin aku Pril." Ucap kak Zean yang mulai terisak.
Aku mengangkat kepalaku dan menatap wajahnya, aku bisa melihat penyesalan tergambar jelas di mata birunya.
Aku melepas tanganku dari genggamannya. Aku mendekat dan memeluknya, aku juga menyesal karena seharusnya aku menolaknya dari awal. Semua ini hampir tejadi bukan hanya salah kak Zean, aku juga turut andil di dalamnya.
" Aku juga minta maaf karena membiarkan kak Zean bertindak begitu jauh, aku begitu naif, harusnya aku lebih bisa menjaga diriku sendiri."
" Biarkan semua ini menajadi pembelajan untuk kita, aku harap kak Zean bisa menahannya sampai aku dewasa dan siap untuk melakukannya.
Kak Zean melepaskan pelukanku lalu dia meraih bajuku dan membantuku memakainya.
Kak Zean bangun dari duduknya, mengambil kaos miliknya yang tergeletak di lantai lalu memakainya.
Aku terkejut karena tiba-tiba kak Zean berlutut di depanku, dia meraih tanganku dan menggenggamnya.
" Kamu tidak akan meninggalkanku kan?"
Aku hanya menggeleng lemah.
" Kamu tidak akan menjauhiku kan?
" Kak, bangunlah. Aku tidak marah. Aku hanya sedikit terkejut dengan perubahan kak Zean tadi."
" Kamu yakin tidak marah padaku dan mau memaafkanku?"
__ADS_1
" Berjanjilah tidak akan memaksanya lagi. Suatu saat nanti, saat aku siap aku akan memberikannya tanpa harus di paksa."
BERSAMBUNG....