
Setelah makan aku dan kak Zean duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Aku beberapa kali menguap, mungkin karena efek makan terlalu banyak tadi makannya aku mengantuk sekarang.
Ponselku bergetar, aku meraihnya dari atas meja. Panggilan dari kak Ega, aku membiarkan panggilan itu berakhir, beberapa kali kak Ega kembali menelfonku tak tak juga aku angkat.
" Kenapa nggak di angkat, kak Ega pasti khawatir?"Tanya kak Zean setelah tau siapa yang menelfonku.
" Biarin aja, aku masih mau di sini."
" Bersamaku?" Tanya kak Zean.
" Hmmm, kakak keberatan?"
" Tentu saja tidak, tapi aku yakin bukan itu alasannya." Tebak kak Zean.
" Lalu apa alasannya?"Aku balik bertanya.
" Kamu cuma mau lari dari kak Ega kan, kamu sebenernya marah kan sama kak Ega?"
" Sweety..."
Kak Zean menggantung kalimatnya, dia merubah posisi duduknya dan menghadap ke arahku.
" Lihat aku." Kak Zean menyentuh wajahku dan memberi sedikit tekanan agar aku mau menatapnya.
" Masalah itu harus di hadapi, bukan malah di tinggal lari kaya gini. Lebih baik sekarang kamu pulang, terus bicara baik-baik sama kak Ega, aku yakin kak Ega sangat menyesal tidak bisa datang ke acara wisudamu, apalagi kamu adalah lulusan terbaik, aku yakin seyakin-yakinnya kak Ega pasti sangat merasa bersalah."
Deg, lagi-lagi kak Zean mengerti dengan perasaanku, perkataannya selalu membuatku merasa lebih baik. Benar kata kak Zean, kak Ega pasti punya alasan tersendiri makannya dia tidak bisa datang.
" Lalu bagaimana dengan ibu?"Aku penasaran pendapat apa yang akan kak Zean berikan kepadaku perihal ibu.
" Ah, tante tika juga pasti punya alasan lainnya ."
" Tante tika, darimana kakak tau nama ibuku?"
" Ah, aku lupa memberi tahumu ya." Jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Memberi tahu apa?" Aku semakin penasaran.
" Kamu ingat awal kita pacaran aku sedang berencana untuk membangun restoran baru?"
Aku mengangguk.
" Arsiteknya adalah tante Tika, ibu kamu?"
" Dari mana kakak tau kalau dia ibuku?"
" Waktu kami sedang meeting di restoranku, ada segerombolan anak SMP yang makan juga di restoranku, kemudian beliau cerita kalau beliau juga mempunyak putri cantik yang seumuran dengan mereka."
" Lalu?"Aku semakin penasaran.
" Beliau menunjukan foto anaknya kepadaku dan ternyata itu kamu, aku sempat kaget waktu itu, kenapa dunia begitu sempit, aku bertemu dengan calon ibu mertuaku lebih cepat dari pikiranku."
__ADS_1
" Kakak nggak bilang yang aneh-aneh kan?" Aku merasa was-was takut kak Zean menceritakan tentang hubungan kita kepad ibi.
" Aku bilang aku kenal dengan kamu dan kita pacaran."
" Apa, seriusan?" Aku panik.
" Tentu saja aku bohong, hahaha."
Kesal merasa di permainkan oleh kak Zean akhirnya aku mengeluarkan senjata umum para wanita , cubitan maut di pinggang kak Zean.
Kak Zean mengaduh, karena belum puas aku menggelitik pinggang kak Zean. Kak Zean kegelian, dia merebahkan badanya di atas sofa sehingga membuatku semakin luasa untuk menggelitiknya. Beberapa kali dia meminta maaf tapi aku tak menghiraukannya, aku masih melanjutkan aksi nakalku. Tiba-tiba kak Zean mencekal kedua tanganku, aku kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, kak Zean berniat untuk menolongku tapi kami malah terjatuh bersamaan dengan posisiku berada di bawah kak Zean. Salah satu tangan kak Zean menahan tubuhnya agar tidak menindihku dan tangan yang lainnya berada di bawah kepalaku.
Aku menatap kak Zean, mata kami saling bertemu, kak Zean terlihat kesulitan menelan salivanya, nafasnya terdengar berat dan mukanya memerah. Aku memalingkan wajahku saat aku merasakn ada sesuatu yang menekan pahaku. Meskipun aku masih 15 tahun tapi aku tak sebodoh itu, tentu saja aku tau apa yang sedang kak Zean rasakan.
Menyadari hal itu kak Zean langsung berdiri dan meninggalkan aku yang masih tergeletak di lantai, aku bangun dan melihat kak Zean sedang minum air es di depan kulkas miliknya.
Aku berjalan menuju dapur karena merasa haus juga tapi kak Zean malah melarangku.
" Stop." Teriak kak Zean.
" Tapi aku haus kak?"
" Tanggkap ini!" Kak Zean mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas lalu melemparkannya kepadaku.
Aku menangkap botol air itu lalu membawanya lagi ke sofa. Beberapa menit berlalu kak Zean masih berada di dapur. Karena bosan aku melihat sekeliling, aku tersenyum melihat foto masa kecil kak Zean, lucu sekali, dia sudah tampan dari kecil rupanya.
" Bukankah aku tampan?"
" Maaf soal yang tadi, aku... aku nggak ada maksud buat nggak sopan sama kamu."
" It's okay, tandanya kak Zean normal." Aku berusaha memecehakan kecanggungan di antara kami.
" Maksudmu sebelum ini kamu menganggapku tidak normal?"Kak Zean mulai menggodaku lagi.
" Ayo antar aku pulang sekarang!." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan kami.
Aku meraih tasku dan berjalan keluar , kak Zean mengekor di belakangku dan terus menuntut jawabanku.
" Jawab dulu, sebelumnya kamu beneran mikir kalau aku nggak normal?"
" Aku kurang normal gimana lagi, kamu lupa aku pernah memaksa menciummu waktu itu."
Aku berhenti mendengar ucapan kak Zean, kak Zean menabrakku dari belakang karena tak menyadari aku sudah berhenti.
" Kakak tau, kakak itu pencuri."
" Maksudmu?"
" Kakak sudah mencuri ciuman pertamaku."
" Really, firs kiss, kamu serius?"
__ADS_1
" Hmm,,"
" Bahagianya aku. Baiklah untuk menebus kesalahanku aku akan memberimu hadiah. Taraaa."
Kak Zean mengeluarkan sebuah bingkisan yang ukurannya lumayan besar. Karena penasaran aku langsung membukanya dan aku terkejut melihat isi bingkisan itu.
" Kakak yang melukisnya?" Tanyaku setelah melihat lukisan kak Zean.
Kak Zean mengangguk.
" Kapan kakak membuatnya?"
Aku masih terpesona dengan lukisan kam Zean. Lukisan seorang wanita yang sedang duduk sendirian, kepalanya mengadah menatap matahari yang sedang tenggelam di antara semak ilalang dan bunga matahari. Tunggu, kenapa aku seperti tidak asing dengan lukisan itu. Aku menatap kak Zean dan dia mengangguk.
" Its you. Aku membuatnya setelah kamu pergi dari rumahku waktu itu." jawab kak Zean.
Aku meletakan lukisan itu dan memeluk kak Zean.
" Terimakasih, aku suka".
" Selamat untuk kelulusamu, aku bangga sekali." Kak Zean mengelus rambutku lagi, sekarang mengelus rambutku sudah seperti kebiasaan kak Zean.
Kak Zean akhirnya mengantarku pulang, hari ini kesedihanku di bayar lunas dengan kebahagiaan yang kak Zean berikan kepadaku.
Aku mengecup pipi kak Zean sebelum aku keluar dari mobilnya. Hari ini entah kenapa rasanya aku ingin terus bersama kak Zean. Aku bahkan mengizinkan kak Zean mengantarku sampai di depan rumah.
Aku masuk ke dalam rumah lalu pergi ke kamarku, saat hendak berganti pakaian aku menemukan ponsel kak Zean di saku bajuku. Aku meminjam ponsel kak Zean untuk menelfon kak Ega karena baterai ponselku habis dan aku lupa mengembalikannya.
Aku keluar menuju balkon kamarku, menunggu kak Zean datang lagi untuk mengambil ponselnya.
Bukannya itu mobil kak Zean, aku melihatnya terparkir di depan rumah kak Dion.
Aku berlari menuruni tangga dan keluar menuju rumah kak Dion.
Aku masuk ke dalam karena pagar rumahnya tak tertutup. Aku melihat pintu rumah sedikit terbuka, aku mengurungkan niatku untuk masuk saat mendengar perdebatan di antara kak Zean dan kak Dion.
" Kamu belum memberitahunya?" Tanya kak Dion.
" Tidak perlu mencampuri urusan kami Yon, aku akan memberitahunya nanti, jadi kamu tidak perlu bersusah payah untuk memberi tahu dia seperti yang kamu lakukan tadi di sekolah." Suara kak Zean terdengar kesal.
" Aku peduli dengan Indhi, aku nggak mau dia tersakiti!" Mendengar namamku di sebut aku semakin mendekat ke arah pintu.
" Aku nggak akan nyakitin dia Yon aku janji."
" Gimana aku bisa percaya sama kamu setelah apa yang kamu lakukan ke sodara aku. She is pregnant and you left her. Jangan memulai sesuatu yang baru jika masa lalumu masih belum meninggalkanmu Zean."
" Aku nggak pernah ninggalin dia, dia yang pergi ninggalin aku begitu saja, kamu nggak berhak menghakimiku karena kamu nggak tahu kebenarannya seperti apa."
" Lalu seperti apa kebenarannya kak?" Tanyaku setelah tidak tahan mendengar apa yang mereka bicarakan.
Mereka berdua terkejut melihat kedatanganku, kak Zean menatapku pasrah semantara aku masih menunggu jawaban dari kak Zean.
__ADS_1
BERSAMBUNG....