
Setelah hampir sebulan kami berkencan, aku menemukan banyak hal baru dalam diri Prily. Ya Prily, panggilan kesayanganku untuk dia. entah mengapa aku lebih suka memanggilnya Prily. Awalnya aku pikir dia gadis yang pendiam dan juga dingin, tapi sekarang sepertinya aku harus menarik kata-kataku, aku seperti melihat gadis yang berbeda setiap kali bertemu dengan-nya, aku sangat menyukai Prilatia-ku yang sekarang, dia begitu ceria, begitu banyak bicara ketika kami sedang bersama , begitu banyak tersenyum dan senyumnya sudah menjadi candu untuk-ku. Sayang-nya dia masih belum terlalu terbuka tentang hidupnya, wajar saja aku pernah mengecewakan dia beberapa kali, mungkin dia masih belum percaya kepadaku sepenuhnya dan aku memaklumi itu.
Batalnya kepergian-ku ke California sebenarnya sedikit menoreh kekecewaan di hati mamy, sebenarnya aku sangat ingin bercerita dengan mamy tentang dia, tapi karena dia melarangku akhirnya aku mengurungkan niatku dan menjadikan restoran sebagai dalih batal-nya kepulanganku ke California.
Awalnya aku sama sekali tak tertarik dengan usaha yang di jalankan kedua orangtuaku, tapi semenjak mengenal Prily, meskipun sempat menyimpan banyak keraguan aku mulai menyempatkan diri untuk membantu menjalankan usaha kedua orangtuaku. Meskipun awalnya sedikit terpaksa, tapi aku harus melakukan-nya, aku harus punya alasan untuk tetap tinggal di sini, di dekat gadis kecilku.
Hari ini aku berencana menjemput Prily di tempat lesnya, akhir-akhir ini kami sangat susah untuk bertemu, dia sibuk mempersiapkan diri untuk ujian sekolahnya, di tambah hubungan kami yang masih di rahasiakan, jadi aku tak bisa datang begitu saja menemui dia. Jika tau akan sesulit ini, aku pasti tidak akan setuju pacaran diam-diam begini.
Aku menghentikan mobilku saat dari kejauhan aku melihat Prily sedang berbincang dengan seorang pria yang sangat ku kenal. Dion, sedang apa dia di sini. Aku mengamati mereka dari kejauhan, Dion memberikan setangkai wamar merah dan satu blok coklat yang terlihat manis dengan pita berwarna merah muda menghiasinya. Prily menerima bunga dan coklat dari Dion dan dia tersenyum. Aku merasa kepanasan meskipun AC mobil dalam kondisi menyala, aku beberapa kali mengambil nafas karena dadaku terasa sesak melihat dia tersenyum kepada pria lain.
Aku meraih ponselku dan mencoba mengirim pesan untuknya.
" Hye sweety, apa yang sedang kamu lakukan.?"
Aku melihat Prily mengelurkan ponsel dari dalam saku rok sekolanya.
" Les." Balasnya singkat dan membuatku sedikit jengkek.
" Sudah mau pulang, aku jemput ya."
" 30 menit lagi. Mau, tapi ada kak Dion di sini."
" Dion? sedang apa dia di situ?"
" Katanya cuma lewat, terus mampir dan akan menungguku pulang."
" Kalau gitu aku puter balik aja."
" Kakak udah lagi kesini?"
" Ya."
" Kesini aja, nanti biar aku cari alasan supaya kak Dion tak perlu menungguku."
Aku tersenyum penuh kemenangan setelah membaca balasan dari Prily, aku bersiul dan bersenandung di dalam mobil, tak lama kemudian mobil Dion melewati mobilku , sepertinya alasan Prily sangat manjur untuk mengusir Dion.
Hampir setengah jam menunggu aku melihat Prily keluar dari gedung tempatnya les. Dia celingukan seperti sedang mencari sesuatu, aku membunyikan klakson mobilku, dia tersenyum ke arahku dan berlari menghampiriku.
__ADS_1
" Sudah lama?" Tanyanya setelah masuk ke dalam mobil.
" Lumayan. Apa itu?" Aku menunjuk paper bag yang berada di pangkuannya.
" Coklat sama bunga dari kak Dion, katanya hadian valentine." Jawabnya polos.
" Boleh aku minta?"
" Ambil saja." Dia menyerahkan paper bagnya kepadaku.
Aku meraih paper bag itu lalu merogoh isinya dan mengeluarkan sebatang coklat yang berhias pita. Tanpa basa basi aku langsung membuka dan memakannya. Prily hanya tersenyum melihat tingkahku.
Aku tersenyum penuh kemenangan lagi. Aku tidak rela dia memakan coklat pemberian dari pria lain, apalagi itu adalah Dion.
Aku mengambil sesuatu di jok belakang dan menyerahkannya kepada Prily.
" Untukku?"Sambil menunjuk buket bunga matahari dan coklat.
" Hmm,, Happy Valentine day." Ucapku sambil mengelus rambutnya yang terurai.
" Terimakasih. Tapi aku tidak punya hadiah untuk kakak."
" Cukup mencintaiku setiap hari, itu sudah jadi hadiah paling membahagiakan untukku."
Dia tersenyum penuh mendengar jawabanku dan beberapa kali mencium bunga pemberianku.
Aku terpaksa mengalihkan perhatianku karena ponselku bergetar terus menerus dari tadi, aku memeriksanya dan ternyata beberapa panggilan dari mamy. Tumben mamy telefon jam segini, bukannya di sana harusnya masih dini hari. Aku memutuskan untuk mengirim pesan kepada mamy. Aku menoleh karena merasa ada sesuatu yang mendekat dan benar saja, Cup, satu kecupan mendarat di bibirku dengan tiba-tiba. Aku menggigit bibir bawahku dan menatap Prily tak percaya dengan apa yang barusan dia lakukan. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.
" Apa yang kamu lakukan gadis kecil?" Tanyaku meledek.
Dia perlahan-lahan membuka tangannya dan menampilkan wajah ayunya yang memerah. Entah kenapa aku sangat menyukai rona merah di wajahnya, membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
" Aku nggak sengaja."
" Yakin?" Aku terus saja melontarkan pertanyaan jahil.
" Iya, awalnya aku hanya ingin sedikit, sedikit saja mencium pipi kakak, tapi kakak malah menoleh." Jawabnya jujur.
__ADS_1
" Gimana kalau kita ulang lagi, kakak nggak akan noleh deh, janji." Ucapku sambil menunjuk pipiku sendiri.
" Dasar mesum."
Aku tertawa terbahak mendengar kata mesum dari mulut Prily, melihatku mentertawainya, dia beberapa kali mencubit pinggangku, bukannya berhenti aku malah semakin terbahak karena merasa geli dengan cubitan prily.
Setelah lelah tertawa kami akhirnya pulang. Aku bercerita banyak hal tentang masa kecilku kepadanya, sesekali dia juga ikut menceritakan masa kecilnya meskipun tak begitu detail. Aku menoleh ke arahnya saat aku tak mendengar tanggapan darinya lagi. Rupanya dia tertidur, kepalanya menyender di kaca mobil, tangannya masih memegang coklat yang sudah di buka olehnya. Aku menepikan mobilku, mengambil coklat dan buket bunga dari pangkuannya. Aku memperhatikan wajahnya dengan lekat, wajahnya terlihat sangat lelah, meskipun demikian wajahnya masih nampak cantik padahal dia tak menggunakan make-up sama sekali.
Aku kembali melajukan mobilku. 10 menit kemudian kami sampai di depan komplek perumahan Prily, aku memarkirkan mobilku di bahu jalan yang rindang karena sore ini begitu terik, aku tak ingin membangunkan Prily yang masih terlelap dalam tidurnya.
5 menit, 10 menit, 20 menit berlalu dan dia masih belum bangun juga. Apa dia begitu lelah sampai begitu nyenyaknya tidur di dalam mobil.
Dia membuka matanya perlahan lalu menguceknya, dia menatapku dan tersenyum.
" Udah sampai?" Tanyanya dengan suara serak.
" Sudah dari satu jam yang lalu."
" Apa?" Dia berteriak.
" Kenapa kakak nggak bangunin aku?"
" Kamu keliatannya cape banget, jadi aku nggak tega mau bangunin kamu."
" Kak Ega pasti khawatir jam segini aku belum pulang." Ucapnya setelah memeriksa jam di tangannya.
Dia kemudian merapikan rambutnya, mengambil bunga dan coklatnya, lalu keluar dari mobil tanpa berkata apapun.
Beberapa detik kemudian dia kembali membuka pintu mobilku dan membuatku kaget.
" Terimakasih tumpangannya kak. Oh ya kita nggak perlu merayakan Valentine setiap tahunnya kak, karena aku menyayangimu setiap hari." Ucapnya lalu kembali menutup pintu mobilku.
Aku masih duduk terpaku di dalam mobil, aku tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar, dari mana gadis kecilku belajar kata kata manis peperti itu.
Bersambung.....
__ADS_1