Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 58 Dia mirip sepertimu


__ADS_3

Aku masih berada di pangkuan kak Zean saat mendengar suara kesakitan mamy dari lantai atas. Aku dan kak Zean segera menghampiri mamy dan melihat mamy tengah duduk di lantai sambil memegangi perut besarnya.


" Mamy." Teriak kak Zean.


" Zee sepertinya adikmu sudah ingin keluar." Ucap mamy sambil menahan sakitnya.


" Mbok, mbok Yem." Kak Zean berteriak memanggil mbok Yem.


" Ayo ke rumahsakit kak, kasian mamy kesakitan." Ucapku ikut panik melihat mamy.


" Sayang, bisa tolong bawakan tas itu, semua perlengkapan persalinan mamy ada di sana?" Mamy menunjuk sebuah tas besar di dekat lemari pakaian.


Aku mengangguk dan membantu mamy berdiri. Kak Zean memapah mamy untuk berjalan sementara aku mengambil tas itu dan menyusul kak Zean lalu aku ikut menuntun mamy menuruni tangga.


" Pelan-pelan my." Ucap kak Zean.


Aku melihat mbok Yem dengan langkah pincangnya terlihat panik dan menghampiri kami lalu beliau meraih tas yang ada di tanganku sehingga aku tidak kesulitan untuk membantu kak Zean menuntun mamy.


Kak Zean segera melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat. Aku duduk di belakang bersama mamy dan mbok Yem. Mamy mengatur nafasnya perlahan namun ketika kontraksi itu datang mamy akan mengaduh kesakitan dan meremas tanganku. Aku menggegam erat tangan mamy, sementara mbok Yem dengan telatennya memijat pinggang mamy dan sesekali mengusap keringat mamy yang bercucuran.


Aku memegang bokongku saat merasa ada yang basah disana dna benar saja celana yang kupakai sudah basah terkena air ketuban mamy yang sudah keluar.


" Kak buruan, air ketubannya sudah keluar."


" My bertahan ya my."


" Kak buruan." Teriakku lagi karena panik melihat air ketuban mamy semakin banyak yang keluar.


" Macet Pril." Ucap kak Zean tak kalah panik.


" Mbok kayanya bayinya sudah mau keluar." Ucap mamy dengan terbata-bata.


" Biar Indhi periksa my, maaf ya my." Ucapku sambil mengangkat rok mamy dan benar saja kepala si bayi sudah terlihat akan keluar.


Aku merubah posisiku dan mengangkat kaki mamy lalu membantu mamy untuk merubah posisi duduknya, kini mamy sudah dalam posisi setengah duduk di jok belakang, mbok Yem berada di belakangnya sebagai bantalan sementara aku berlutut di antara kursi pengemudi dan kursi penumpang.


Aku mengatur nafasku, setelah itu aku menghubungi kak Ega agar dia bisa memberiku arahan jika bayinya benar-benar harus keluar di dalam mobil, percumah jika aku harus menelfon ambulan dalam keadaan macet begini pikirku.


" Ya Ndi, ada apa?" Tanya kak Ega setelah panggilanku tersambung.


" Kak, aku sekarang ada di dalam mobil bersama mamy kak Zean dan sepertinya beliau akan segera melahirkan."


" Apa maksudmu?" Kami semua bisa mendengar suara kak Ega karena aku memasang mode pengeras suara.


" Air ketubannya sudah pecah dan aku bisa melihat kepala bayinya, mamy juga mulai mengejan kak sementara jalanan sangat macet kak. Apa yang harus kami lakukan?"


"Pertama Indhi harus tenang dan jangan panik. Suruh Zean mencari klinik terdekat jika tidak memungkinkan untuk ke rumahsakit. Apa perlengkapan persalinannya ada di dalam mobil?."


" Hm, ada di kursi depan bersama kak Zean."


" Bisa Indhi mencari sesutu yang hangat, selimut bayi misalnya!"

__ADS_1


" Biar aku aja." Ucap kak Zean lalu dia membongkar tas yang ada di sebelahnya.


" Yang ini?" Tanya kak Zean sambil menyerahkan selimut bayi kepadaku dan aku hanya mengangguk.


" Tante, apa tante masih bisa menahannya?" Tanya kak Ega kepada mamy.


" Tante sudah tidak tahan, dia terus mendorong ingin segera keluar."


" Tante bisa mengikuti instruksi saya?"


" Ya ."


" Pertama tante harus bisa mengatur nafas, usahakan untuk tidak berteriak karena akan menguras energi tante."


Mamy kebali mengejan saat kak Ega belum menyekesaikan kalimatnya. Aku kembali memeriksa rok mamy dan kepala bayinya semakin terlihat.


" Kak, kepala bayinya semakin keluar?" Aku semakin panik.


" Suruh Zean untuk menepikan mobilnya."


Mendengar perintah kak Ega, kak Zean segera menepikan mobilnya. Aku membungkukkan tubukku agar bisa keluar dari dalam mobil. Aku berhasil keluar namun kepanikan kami semakin terasa saat mamy kembali mengejan.


" Kamu sudah keluar mobil."


" Sudah." Ucapku sambil menaruh ponsel di saku bajuku. Untung saja aku memakai baju bersaku hari ini.


" Tekuk kaki beliau dan buka pahanya ke arah samping dan pastikan beliau merasa nyaman."


Mamy kembali mengejan dan aku bisa melihat kepala bayi yang semakin terdorong keluar, perlahan namun pasti semua tubuh bayi itu keluar dari jalan lahirnya dan aku segera menangkapnya. Terlihat kelegaan di wajah mamy dan mbok Yem.


Oekk, oekk..


" Kak, bayinya laki-laki."


" Benarkah, segera bungkus bayinya dengan selimut agar hangat. Suruh Zean segera mencari klinik."


" Apa yang harus aku lakukan dengan usus ini kak."


" Itu tali pusar Ndi, biarkan saja, biarkan petugas medis yang memotongnya nanti."


Melihat mamy yang nasih terkulai, aku segera berlari memutari mobil dan segera masuk ke dalam mobil, aku duduk di sebelah kak Zean sambil memeluk seorang bayi yang masih bersimbah darah dan plasenta yang masih menempel.


Kak Zean tak mengucapkan sepatah kata apapun, dia terlihat pucat dan keringat mengucur deras di dahinya.


Kemacetan mulai terurai dan kami sampi di sebuah klinik bersalin. Kak Zean keluar mobil dan berlari memanggil petugas medis, semenit kemudian kak Zean keluar beserta tiga orang petugas medis. Aku segera keluar dan menyerahkan si bayi kepada salah satu petugas sementara kedua petugas yang lain membatu mamy.


Mbok Yem keluar dari mobil dan membawa tas perlengkapan bayi lalu mengikuti petugas masuk kedalam klinik.


Kak Zean menghampiriku yang masih berdiri mematung dengan noda darah di bajuku dan celana yang basah karena terkena air ketuban.


Kak Zean menarik tubuhku ke dalam pelukannya.

__ADS_1


" Terimakasih sweety, terimakasih." Ucap kak Zean sambil menangis.


" Kakak menagis." Tanyaku.


" Aku tidak tau ternyata begitu berat perjuangan seorang ibu."


" Terimakasih sudah membantu mamy membawa kehidupan baru kedunia ini, aku mencintaimu."


Aku membalas pelukan kak Zean dan mengucapkan kalimat yang sama bahwa aku juga mencintainya sampai aku melupakan panggilan kak Ega yang belum terputus.


Kak Zean melepas pelukannya dan mengajakku ke sebuah toko baju yang letaknya tidak terlalu jauh dari klinik bersalin. Kak Zean membelikan setelan baju dan celana baru untukku karena pakainku benar-benar penuh dengan noda darah. Aku menggantinya dan kami kembali ke klinik untuk menemui mamy.


Mamy sudah berada di ruang perawatan beserta bayinya. Kami masuk ke dalam kamar, mamy tersenyum melihat kedatanganku, beliau merentangkan tangannya memberi tanda agar aku mendekat dan memeluk beliau.


" Terimakasih sayang, mamy sangat beruntung ada kamu di sini?." Ucap mamy setelah beliau memelukku.


" Sama sama my."


Mamy melepas pelukannya dan menyuruhku untuk melihat bayi yang tengah tertidur di dalam box bayi di sebelah tempat tidur mamy.


Aku melangkah mendekati box bayi itu, aku bisa melihat dengan jelas wajah mungilnya karena dia sudah di bersihkan.


" Sangat mirip denganmu kak." Aku menoleh kepada kak Zean yang berdiri di sebelahku.


" Apa dia juga memiliki mata biru sepertimu?."


" Entahlah, mungkin."


" Dia pasti akan menjadi laki-laki yang tampan saat besar nanti."


" Tentu saja, lihatlah kakaknya, bukankan dia begitu tampan."


" Dasar narsis."


" Apa kamu juga menginginkan bayi kecil?"


" Tentu saja. Saat dewasa nanti aku akan menikah dan memiliki tiga bayi."


" Dengan siapa kamu akan menikah?"


" Tentu dengan seseorang yang menyayangiku."


" Denganku?"


" Mungkin."


Mungkin ini terdengar seperti sebuah lelucon, tapi percayalah ini adalah sebuah harapan dari seorang gadis berusia 16 tahun yang sudah memimpikan menikah dengan seseorang yang mencintainya melebihi apapun dan akan mempunyai tiga bayi mungil di hidupnya.


Percayalah, sebuah ucapan adalah doa. Untuk itu berucaplah yang baik agar doa-doa terbaik selalu mengiringi kehidupan kita.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2