
FLASHBACK OFF
"Sayang bangun." Bisik kak Zean ditelingaku.
Aku mengerjapkan mataku secara perlahan, saat mataku terbuka sempurna, kelegaan memenuhi hatiku karena saat aku terbangun aku berada dikamar kak Zean.
Aku menyeka keringat dikeningku, aku tersenyum dan bernafas lega karena semua yang terjadi hanyalah mimpi belaka, aku ketakutan saat memimpikah kak Zean meninggalkanku dengan tubuh bersimbah darah.
"Kamu sudah bangun." Ucap seseorang begitu lembut, ketika aku menoleh aku melihat ibu tengah tersenyum kepadaku.
"Hemm, aku mimpi buruk bu, aku memimpikan semua hal yang telah aku lewati bersama kak Zean, dan sebelum aku terbangun aku melihat tubuh kak Zean bersimbah darah, untung saja hanya mimpi bu." Jawabku sembari menceritakan tentang mimpiku.
Ibu hanya tersenyum dan membelai wajahku dengan lembut."Tidurlah lagi, ibu akan membangunkanmu nanti."Ucap ibu lalu kembali membaringkanku diatas tempat tidur.
"Dimana kak Zean bu, kenapa aku disini, apa kita akan menikah?"
"Zean ada dibawah, istirahatlah lagi, kamu pasti sangat lelah." Ibu menjawabku dengan mata berkaca-kaca
"Tapi aku udah nggak ngantuk bu, aku akan turun dan menemui kak Zean." Aku bergegas untuk bangun namun ibu menahanku. "Sudah larut malam, temui Zean besok pagi."Ucap ibu lembut.
Aku hanya mengangguk dan menuruti perintah ibu. Aku kembali merebahkan tubuhku, sementar ibu kembali duduk disofa yang berada tidak jauh dari tempat tidur milik kak Zean. Aku menciumi selimut yang kini membungkus tubuhku, aroma vanila khas wangi tubuh kak Zean membekas diselimut ini, rasanya begitu hangat berada dibawah selimut ini, seakan aku tengah dipeluk oleh kak Zean.
Tiba-tiba tenggorokanku terasa kering, aku melirik nakas dan melihat segelas air putih diatasnya, aku membuka selimut dan menurunkan kedua kakiku hingga menyentuh lantai yang begitu dingin. "Auww."Pekikku, kakiku terasa perih saat aku memijakkan kakiku diatas lantai.
Aku menunduk dan mengamati kedua kakiku, aku memutar pergelangan kakiku. "Banyak sekali lukanya, apa yang telah aku lakukan dengan kaki ini." Gumamku dalam hati.
Ngiiingg, telingaku berdenging, seketika kepalaku terasa pening, seolah-olah ada yang tengah memutar film dikepalaku. Aku memegangi kepalaku saat serpihan demi serpihan ingatan mengerikan itu memenuhi kepalaku. Teriakkan kak Zean terasa menggema digendang telingaku, aku seolah melihat kembali saat tubuh kak Zean terpelanting begitu jauh dan tubuhnya bersimbah darah. "Ini hanya mimpi, semua ini tidak nyata."Desisku lirih sembari menutup kedua telingaku. Tiiiiiiiiiiiiiiitttt, suara lengkingan mesin EKG kini mengalun ditelingamu, aku semakin menutup rapat telingaku, namun bayangan wajah pucat kak Zean membuatku tersadar dari angan-anganku.
"Tidaaaakk, tidak mungkin, ini hanya mimpi." Teriakku kencang.
Ceklek, suara pintu terbuka, aku menoleh kearah pintu dan melihat kak Ega, Dita, Arum, mamy serta mbok Yem masuk dari balik pintu. Wajah mereka terlihat panik dan mereka bergegas menghampiriku. Aku berdiri dan mensejajari mereka. "Semuanya tidak nyata kan, aku hanya mimpi kan." Tanyaku seraya menatap mereka.
"Kak, kenapa diam saja, jawab aku, aku hanya mimpi kan, dimana kak Zean sekarang?"
Kak Ega hanya mematung, mulutnya tertutup rapat, namun aku tidak menyerah, kini aku berdiri didepan kedua sahabatku. "Dimana kak Zean, jawab aku?" Bukannya menjawab, mereka berdua malah memelukku, aku melepaskan pelukan mereka dan kembali bertanya. "Dimana Zeanku?"Ucapku lirih, air mataku kembali menetes, aku ketakutan jika mimpiku ternyata sebuah kenyataan.
"Jangan menangis Zean ada dibawah, mamy temani turun ya." Ucap mamy menenangkanku.
Aku menyeka air mataku, kemudian mamy menuntunku untuk turun dan menemui kak Zean. Ibu, kak Ega, mbok Yem dan kedua sahabatku mengikutiku untuk turun.
Aku menghentikan langkahku saat melihat sebuah peti mati berada ditengah ruang keluarga.
"Ayo temui Zean, dia pasti ingin melihatmu dan berpamitan kepadamu." Ucap mamy dengan lembut, kedua tangannya mendorong pelan tubuhku agar aku melanjutkan langkahku.
Aku tercekat begitu tiba disebelah peti berwarna putih itu, tenggorokanku mengering, dan mataku mulai buyar akibat air mata yang tergenang dipelupuk mataku.
Didalam peti itu, kulihat wajah yang tengah tertidur dengan damai, aroma formalin yang begitu menyengat akhirnya membantuku tersadar, Zeanku telah mati, cintaku telah pergi untuk selamanya.
__ADS_1
"Bagaimana hidupku sekarang kak, bagaimana aku harus melanjutkan hidupku sekarang, bagaimana aku harus menghadapi hari-hariku selanjutnya, kenapa kamu begitu egois dan meninggalkanku sedirian, bagaimana bisa kamu mengingkari janjimu untuk terus bersamaku."
Semua orang ikut menangis mendengar ucapanku, kak Ega segera mendekapku kedalam pelukannya, aku membenamkan wajahku didada kak Ega dan aku mulai terisak lagi, entah berapa banyak air mata yang sudah keluar dari mataku, namun hingga saat ini mereka masih saja berderai dan membasahi wajahku.
Kak Ega memapahku dan membantuku untuk duduk, lagi-lagi kenanganku bersama kak Zean berputar dikepalaku, sofa itu, tempat dimana kami biasa bersenda gurau, namun kini hanya memori yang tersimpan, tak ada lagi kak Zean yang akan menemaniku duduk disofa itu, tak ada lagi dia yang menemani hari-hariku.
"Simpan ini." Mamy memberikan sebuah kotak berwarna merah kepadaku. "Mungkin itu hadiah yang Zean siapkan untukmu."
Aku menerima kotak itu dan membukanya, sebuah cincin berlian bertengger didalam kotak kemerahan itu, ditengahnya terselip sebuah kertas yang tergulung. Aku membuka gulungan kertas itu dan membaca pesan didalamnya.
***Sayang, maaf aku menulisnya begitu kecil karena aku harus menghemat kertas ini.
Selamat atas kelulusanmu dan maukah kamu menikah denganku Prilatia? Benar kan Prilatia, aku takut salah lagi memanggil namamu.
Jawab ya, ketika kamu membukanya.
I Love you.***
"Ya, aku mau." Ucapku dengan suara serak, lalu aku meraih cincin itu dan menyematkannya dijari manisku.
****
Paginya aku telah siap dengan setelan hitamku dan di lantai bawah sudah dipenuhi oleh pelayat, sementara aku masih duduk termenung diatas tempat tidur kak Zean, aku memutar cincin yang kini melingkar dijari manisku, fikiranku menerawang jauh, hanya ada satu hal terfikir dibenakku, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan Zeanku.
Acara pemakaman akan dimulai begitu dady sampai dirumah. Sebelum prosesi penutupan peti, aku kembali memandang wajah kak Zean, aku memuaskan diriku untuk menatap wajahnya, dan untuk terakhir kalinya aku mengecup kening kak Zean dengan lembut. "Tidurlah dalam damai, tunggu aku, mari bertemu kembali disurga."
Aku kembali menangis saat peti mati itu masuk kedalam liang lahat, perlahan peti itu tertutupi oleh tanah yang berwarna kemerahan. Sesak kembali memenuhi dadaku, setelah ini, aku tak akan melihatnya lagi, aku tak akan mendengar ocehannya lagi, aku tak akan memarahinya lagi karena begitu pecemburu kepadaku. Setelah kamu tiada, semua momen yang pernah kita lewati menjadi begitu berharga.
Setelah pulang dari pemakaman aku lebih memilih untuk mengurung diri dikamar, belum genap dua hari setelah kepergianmu dan aku sudah sangat merindukanmu.
**
"Sweety bangun."
lagi dan lagi, bisikan itu lagi-lagi membuatku terbangun dari mimpi panjangku. Saat aku membuka mataku mereka semua sudah berada dikamarku. Ibu, kak Ega, Arum, Dita, kak Dion, semuanya berkumpul dikamarku, mereka tengah menatapku iba.
"Kau sudah bangun."Tanya kak Ega seraya mengelus kepalaku.
"Hmm, berapa lama aku tidur kak?"
"18 jam, kamu tidak lapar? Kakak sudah membuatkan nasi goreng untukmu."
Aku hanya menggeleng lemah, perutku tidak berasa lapar sama sekali.
"Dua hari kamu tidak makan, bagaimana kalau kamu sakit? Makan sedikit saja, kakak akan menyuapimu" Bujuk kak Ega.
"Hey, jangan membuat kami semua khawatir, apa kau menginginkan sesuatu, bicaralah, aku akan membelikannya untukmu."Imbuh kak Dion mencoba membujukku untuk makan.
__ADS_1
Kini giliran Arum yang duduk disebelahku, dia menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Jangan membuat kami khawatir, makanlah sedikit, kau lupa dengan motto hidupmu, katamu seberat apapun masalahmu makan tetaplah nomor satu."Ucap Arum seraya menggenggam tanganku.
"Motto itu hanya berlaku untuk orang hidup, sementara aku, jiwaku sudah mati dan terkubur bersama kak Zean."
"Jangan bicara seperti itu, kami semua mengerti bagaimana perasaanmu..
"Tidak, kalian tidak mengerti bagaimana perasaanku dan apa yang aku rasakan karena kalian tidak berada diposisiku, kalian bukan aku."
"Aku tidak perlu menjadi dirimu, aku cukup melihat dirimu dan aku tau apa yang tengah kamu rasakan, 10 tahun kita bersahabat, kau fikir aku tak mengenalmu dengan baik, aku tau betul bagaimana dirimu saat sedang bahagia, sedih, kecewa, aku tau cukup dengan melihat wajahmu. Berhenti menyiksa tubuhmu dan makanlah sedikit."
"Rum, apa kau tau apa yang lebih menyakitkan dari pada ditinggal mati?"
Arum menggeleng lemah.
"Ketika aku menyaksikan kematian itu tepat didepan mataku dan aku tidak bisa berbuat apapun, aku bukan sedang menyiksa tubuhku, aku hanya sedang merenungi kesalahanku yang tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkannya."
Sampai matahari terbit dan meninggi mereka bergantian membunjukku untuk makan namun tak ada satupun dari mereka yang berhasil membujukku.
Sampai akhirnya aku melihat wajah kak Zean berdiri diantara mereka, dia membawa piring berisi makanan, lalu dia duduk disebelahmu dan tersenyum kepadaku.
"Zee, kau datang."Ucapku seraya menyentuh wajahnya.
"Ini Sam."Ucapnya lembut, namun membuatku tersadar jika yang tengah berada disisiku bukanlah kak Zean.
"Buka mulutnya kak, Sam akan menyuapi kakak, Sam tidak mau kakak sakit."
Seperti terhipnotis dengan wajahnya yang begitu mirip dengan kak Zean, aku membuka mulutku dan Sam mulai menyuapiku. Semua orang bernafas lega setelah Sam bisa membujukku untuk makan.
***
Seminggu sudah setelah kepergiannya, aku masih membatasi aktivitasku dan lebih banyak mengurung diriku didalam kamar.
Hari ini dengan ditemani kak Dion aku pergi mengunjugi makan kak Zean. Aku duduk bersimpuh disebelah gundukan tanah yang masih basah itu.
"Kak."Ucapku getir.
"Aku datang, aku bawakan bunga matahari untukmu, dulu kau sangat suka membawa bunga matahari untukku."
Aku diam sejenak, ku elus batu nisan yang bertuliskan namanya dan air mataku kembali lolos dari tempatnya.
"Maafkan aku terus saja menangis, aku lupa kalau kakak benci melihatku menangis. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk tidak menangis lagi."
Rintik hujan mulai turun membasahi bumi, kak Dion menuntunku meninggalkan tempat persemayamannya, aku menoleh dan menatap sendu tempat itu.
"Selamat tinggal cinta pertamaku, dulu kau datang saat musim penghujan dan kini kau pergi dimusim yang sama, kedepannya disetiap musim hujan aku akan mengenangmu dengan perasaan yang berbeda, bahagia juga sedih akan menyertainya. Terimakasih untuk 8 tahun yang begitu indah ini, aku mencintaimu."
TAMAT.....
__ADS_1