Lara Cintaku

Lara Cintaku
Bab 42 I'm fiveteen years old


__ADS_3

Setelah acara selesai kak Dion pamit untuk pulang terlebih dulu, aku dan kak Zean menyusul di belakangnya.


Sepanjang perjalanan aku haya terdiam dan mengamati jalanan dari balik kaca. Kak Zean juga hanya terdiam, biasanya dia begitu cerewet jika berada dalam mobil, mungkin kali ini dia tau tentang kesedihanku. Kak Zean beberapa kali mengusap punggung tanganku, seakan-akan mewakili kata-katanya, tenanglah, semua akan baik-baik saja.


" Kak." Aku menoleh me arah kak Zean, suaraku sangat lirih.


" Boleh aku mampir dulu ke rumah kakak, aku ingin makan nasi goreng buatan kakak seperti waktu itu, aku lapar kak." Pintaku pada kak Zean.


" Tentu." Kak Zean tersenyum dan tangan kirinya mengusap rambutku sementara tangan tangannya masih memegang setir.


Kak Zean membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan-ku untuk masuk. Sangat sunyi, sama seperti ketika aku pulang ke rumah, tidak ada satupun orang yang menyambutku pulang, munngkin karena hal ini kak Zean memahami kesedihanku.


Aku duduk di kursi meja makan sambil memperhatikan kak Zean yang tengah sibuk menyiapkan bumbu untuk membuat nasi goreng. Sebelumnya kami sempat mampir ke restoran kak Zean untuk meminta nasi, karena di rumah kak Zean tidak ada nasi.


Kak Zean mulai memasak nasi goreng, aku berjalan mendekat dan memeluknya dari belakang. Aroma parfum kak Zean masih menempel di bajunya padahal sudah hampir seharian kak Zean berada di luar rumah.


Aku menempelkan pipiku di punggung kak Zean, aku memejamkan mataku dan menikmati aroma parfum kak Zean. Sesekali kak Zean mengusap tanganku dan kembali memasak.


Kak Zean mematikan kompor dan menggeser tubuhnya mendekati wastafel untuk mencuci tangan, dengan malasnya aku mengikuti kak Zean tanpa melepas pelukanku di pinggangnya.


Kak Zean memutar tubuhnya, kini kami saling berhadapan. Tangannya kembali mengelus rambutku lalu menyelipkannya ke belakang telinga . Mata kami saling menatap, kali ini aku tak lagi menghindari tatapan kak Zean, aku menatap mata birunya yang begitu teduh, dia tersenyum, lalu menarikku masuk ke dalam pelukannya.


" Menangislah, aku di sini." Ucap kak Zean.


Perlahan aku mulai mengeluarkan air mataku yang sedari tadi sudah tertahan. Aku mulai terisak, mengingat kejadian hari ini, di saat orang tua teman-temanku dengan bangga menghadiri acara kelulusan anak mereka, sedangkan aku, hanya ada kak Zean di sampingku, bagaimana jika tidak ada dia, pasti aku akan terlihat sangat menyedihkan bukan.


" Sudah?"Tanya kak Zean setelah tak mendengar isak-ku lagi.


Kak Zean melepaskan pelukannya, kedua tangannya memegang leganku, dia sedikit membungkukkan badannya agar dapat melihat wajahku lebih dekat. Aku mengangkat kepalaku, kak Zean tersenyum dan seketika jemarinya menghapus sisa-sisa air mata di pipiku.


" Sudah lega?" Tanyanya lagi.


Aku hanya mengangguk.


" Masih marah sama ibu sama kak Ega?"


" Hmmm."


" Mungkin ibu sedang ada pekerjaan yang nggak bisa di tinggal dan untuk kak Ega kamu tau sendiri kan alasannya."

__ADS_1


" Hmmm."


Kak Zean melepaskan tangannya dari lenganku, namun tiba-tiba kak Zean menggendongku di depan, aku terkejut dan reflek mengalungkan kedua tanganku di leher kak Zean karena takut akan terjatuh.


Kak Zean berjalan beberapa langkah lalu mendudukanku di atas meja makan. Aku melepas kedua tanganku dari leher kak Zean, namun tidak dengan kak Zean, bukannya melepaskan tangannya dari pingganku dia justru mengunciku dengan kedua tangannya.


Jarak kami sangat dekat sehingga kami bisa mendengar detak jantung masing-masing, nafas kak Zean berhempus menyapu wajahku meninggalkan hawa hangat di sana.


Aku memejamkan mataku saat kak Zean mendekatkan wajahnya, tanganku saling meremas karena tegang, apa yang akan kak Zean lakukan, ah kenapa aku berdebar begini sih.


" Apa yang kamu pikirkan?" Tanya kak Zean sambil tersenyum nakal setelah menjauh dariku.


Aku membuka mataku dan membuang wajahku ke samping karena malu, bisa-bisanya aku mengharapkan sesuatu dari kak Zean, padahal aku sendiri yang melarangnya bukan.


" Kamu nggak berharap aku mau nyium kamu kan tadi?" Goda kak Zean.


" Apaan sih kak, aku cuma sedikit ngantuk makannya aku merem tadi."


Kak Zean tertawa mendengar alasanku yang konyol itu. Dia mengelus rambutku lalu mencium pucuk kepalaku.


" Cepatlah tumbuh dewasa, biar aku bisa bebas menciummu kapanpun aku mau." Bisik kak Zean.


" Kok telurnya cuma satu?" Aku penasaran kenapa hanya nasi gorengku yang di beri telur.


" Astaga aku lupa, kamu biasanya makan nasi goreng plus dua telur mata sapi. Kurang ya, tunggu sebentar ya biar aku beliin ke warung." Kak Zean sepertinya salah paham dengan maksudku.


" Tunggu kak, maksud aku kenapa cuma nasi gorengku yang di kasih telur." Aku mengoreksi ucapanku.


" Telurnya cuma tinggal dua di kulkas, yang satu aku masukan ke nasi gorengnya, yang satu buat kamu. Kamu yakin nggak kurang telurnya?"


Aku tersenyum melihat tingkah kak Zean, aku menyuruhnya duduk lalu aku memotong telurku dan memberikan putih telurnya kepada kak Zean.


" Begini kan adil, masa aku doang yang makan telurnya."


" Maaf ya, biasanya mbok Yem yang belanja, aku nggak tau kalau telurnya habis".


" Oh ya ngomong-ngomong dari tadi aku belum melihat mbok Yem?"


" Mbok Yem nyusulin mamy ke Amrik."

__ADS_1


" Apa? Kapan, sendirian?"Tanyaku kaget.


" Sudah hampir sembulan. Di jemput sama salah satu karyawan mamy yang kebetulan ada urusan di sini."


" Terus kakak makannya gimana?"


" Kamu lupa aku punya restoran, tinggal dateng, minta makan, beres."


Aku hanya mengangguk.


" Aku beri tau sesuatu, tapi jangan terkejut ya!" Ucap kak Zean misterius.


" Apa?"Aku menjawab sambil memasukan nasi goreng ke mulutku.


" Aku mau punya adik kecil."


Uhuk, uhuk aku tersedak dan memuncratkan nasi goreng yang berada di dalam mulutku. Kak Zean menghampiriku, memberikan segelas air lalu menepuk-nepuk punggungku.


" Nggak papa kan, ati-ati dong makannya sweety."


" Maaf kak, aku kaget. Kakak seriusan?"


" Hmm, makannya mbok Yem ke sana soalnya mamy ngidam pengin makan masakan mbok Yem."


" Wah selamat ya kak, pasti lucu nanti punya adik kecil."


" Maybe, awalnya aku malu, masa di usia 23 tahun aku baru punya adik lagi, lebih cocoknya usia 23 tahun kan bukan punya adik tapi punya bayi sendiri."


" Kakak mau nikah dan punya bayi sekarang?" Tanyaku polos.


" Kamu mau?" Goda kak Zean.


" I'm fiveteen years old." Teriakku.


" Makannya tadi aku bilang, cepatlah dewasa dan menikah denganku lalu kita akan membuat anak yang lucu -lucu." kak Zean semakin niat menggodaku.


" Dasar mesum."


Aku memasukan sendok ke dalam mulut kak Zean agar dia menghentikan ucapannya yang konyol. Bagaimana dia mempunyai pemikiran untuk menikah denganku, sementara aku saja baru 15 tahun, dasar orang aneh.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2