
"Morning sayang." Sapa kak Zean begitu aku keluar dari rumah, sapaan itu rutin kak Zean ucapkan setiap pagi. Cup, tak lupa sebuah kecupan mendarat dikeningku. Aku sangat menyukai ritual manis kak Zean, membuatku seakan mendapatkan energi tambahan.
Setiap pagi kak Zean datang menjemputku untuk berangkat kekampus bersama, tapi kali ini berbeda, pengalaman pahit beberapa tahun lalu membuat kami belajar untuk lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan, aku berangkat dengan motorku, sementara kak Zean akan mengikutiku dari belakang dengan mobilnya, kami tidak ingin jadi bahan gosip di kampus, karena sekarang kak Zean sangat terkenal dikalangan mahasiswi, bukan hanya di Fakultas tempat kak Zean mengajar, berita tentang dosen bule yang tampan dan pintar sudah tersebar dipenjuru kampus dan menjadikan kak Zean begitu populer.
Karena itu kami kembali menikmati hubungan diam-diam kami.
***
Setiap akhir pekan kami menyempatkan waktu untuk bertemu, kami memang jarang bertemu diluar, biasanya aku akan pergi kerumah kak Zean atau kak Zean akan datang kerumahku seperti hari ini.
Tidak seperti biasanya hari ini kak Zean datang lebih pagi bahkan sebelum aku bangun. Aku menggeliat saat seseorang mengetuk pintu kamarku, akhir pekan adalah waktu yang pas untuk bermalas-malasan.
"Non, ada mas Zean." Ucap bi Sumi dari balik pintu.
"Kenapa pagi sekali datangnya." Desisku sembari menendang selimut yang membungkus tubuhku. "Iya bi, suruh tunggu sebentar."
Sebelum turun aku hanya mencuci muka dan menggosok gigi. Dibawah kak Zean tengah bercengkrama bersama ibu, mereka sudah sangat akrab, ibu sudah menganggap kak Zean seperti anaknya sendiri, apalagi sekarang kak Ega tidak ada dirumah, adanya kak Zean sedikit mengobari rasa rindu ibu terhadap kak Ega.
"Kalian pasti sedang membicarakanku ya?" Ucapku setelah aku bergabung dengan mereka.
Ibu menatapku lalu beliau menggelengkan kepalanya. "Astaga lihat dirimu, pacarmu datang dan kamu masih memakai piyama tidur. Ibu yakin kamu belum mandi?"
Aku tersenyum seperti orang bodoh lalu aku menatap ibu dan kak Zean secara bergantian. "Masih terlalu pagi untuk mandi bu, aku sudah mencuci muka dan sikat gigi"
"Setidaknya ganti bajumu, untung saja Zean tidak lari begitu melihatmu."
"Dia tidak akan lari bu, aku sudah mengikat lehernya." Aku terkekeh sendiri.
"Kamu fikir aku Cleo." Balas kak Zean tak terima.
"Sudah, ibu mau istirahat dikamar." Ibu berdiri dari duduknya, dia melirikku sekilas dan kembali menggelengkan kepalanya. "Ada bekas air liur wajahmu." Ucap ibu sebelum meninggalkan kami.
Tanganku reflek menyeka sudut bibirku, dari kejauhan ibu tertawa dan aku baru sadar aku tengah dikerjai oleh ibu. "Ibuuuuuuu." Teriakku tak terima dijahili oleh ibu.
__ADS_1
"Jangan tertawa." Seruku saat melihat kak Zean tengah tertawa karena tingkahku.
"Kamu lecu sekali, aku tidak bisa menahan tawaku." Ucap kak Zean yang bersusah payah menghentikan tawanya.
Melihat wajahku yang murung, akhirnya tawa kak Zean berhenti, dia merentangkan kedua tangannya dan menyuruhku untuk mendekat. Aku menurut, kini aku duduk diatas pangkuan kak Zean, tanganku aku kaitkan dilehernya, sementara tangan kak Zean melingkar dipinggangku. Kak Zean menarik tubuhku kedalam pelukannya, tangan kanannya dia gunakan untuk mengelus kepalaku sementara tangan kirinya masih erat memeluk pinggangku.
"Bau tidak?" Tanyaku setelah aku melepaskan diri dari dekapanya.
"Tidak tau, coba aku periksa dulu." Kak Zean mulai mengendus tubuhku lalu dia mencium kedua pundakku. "Tidak, kamu sangat wangi."Imbuhnya setelah selesai menjadi tukang endus.
"Kakak juga wangi, aku sangat menyukai wangi tubuh kakak." Bisikku ditelinga kak Zean, aku melihat bulu halus disekitar leher kak Zean mulai meremang. "Kak." Bisikku lagi.
"Apa?"
"Boleh tidak aku menciummu."
"Kau ini kenapa, pagi-pagi sudah minta berciuman?"
"Ya sudah kalau tidak mau."
"Sayang." Panggil kak Zean dengan lembut.
"Apa?"
"Mandi sana, aku akan mengajakmu kesuatu tempat."
"Kemana?"
"Kejutan. Buruan mandi, aku sudah minta izin sama ibu."
**
Selesai mandi aku bingung harus memakai baju yang mana. Mengingat kak Zean hanya memakai Jeans dan kaos akhirnya aku memilih menggunakan kemeja putih dan celana jeans panjang. Aku memasukan semua sisi kemeja ke dalam celana, aku membuka 2 kancing paling atas sehingga agak terbuka di bagian tulang dada. Aku juga menggulung bagian lengan kemeja sampai siku. Tak lupa sepatu sneakers pemberian kak Zean sudah terpasang indah dikakiku. Rambut panjangku aku ikat tinggi sehingga memperlihatkan leher jenjangku.
__ADS_1
"Ayo berangkat." Ajakku setelah turun.
Kak Zean tak menjawab, dia menatap bajuku yang kancingnya terbuka itu. " Kau itu mau pamer dada atau bagaimana." Protes kak Zean, kini tangannya sibuk mengancing kemejaku yang sengaja aku buka itu.
"Biar terlihat sexy kak."
"Aku tidak suka, jangan seperti ini lagi, sudah berulang kali aku bilang, jangan pernah memancingku." Seru kak Zean dengan penuh penekanan. "Mengerti?" Imbuhnya lagi.
"Ya, i know."
Setelah selesai dengan masalah perkancingan, aku dan kak Zean keluar dari rumah, dia membukakan pintu mobilnya untukku, lalu dia segera menyusul masuk kedalam mobilnya.
Disepanjang jalan kak Zean terus menggenggam tanganku dengan erat, sesekali dia mengecup punggung tanganku, sepertinya dia sudah tidak bisa lepas dariku.
"Kak lepaskan tanganku, kakak sedang menyetir, bahaya kak." Protesku karena takut kak Zean tidak fokus dengan kemudinya.
Namun kak Zean tidak menindaki ucapanku, tangannya tetap saja menggenggam tanganku dengan posesif, akhirnya aku mengalah dan membiarkan kak Zean melakukan hal itu.
Sekitar 30 menit perjalanan, kak Zean memarkirkan mobilnya didepan sebuah rumah berlantai dua, dia mengajakku untuk turun dan aku mengekor dibelakangnya. Aku semakin bingung saat kak Zean membuka pintu rumah itu.
"Ayo masuk." Ajak kak Zean setelah pintu rumah itu terbuka.
Aku masih belum mau bertanya, aku masuk kedalam rumah bergaya minimalis modern itu, rumah yang didominasi dengan warna cokelat pastel sehingga membuat rumah itu terlihat sangat nyaman untuk ditempati.
Kak Zean menuntunku untuk naik ke lantai atas, dia mengajakku berkeliling, ada tiga kamar dilantai atas yang masing-masing memiliki kamar mandi didalamnya, bedanya didalam kamar tidur utama, kamar mandinya terlihat lebih luas, bahkan ada bathtube didalamnya.
"Bagaiman pendapatmu tentang rumah ini?"Tanya kak Zean setelah berkeliling.
"Sangat bagus."
"Kamu suka?" Tanya kak Zean lagi.
"Suka. Memangnya ini rumah siapa kak?"
__ADS_1
"Rumah kita."
BERSAMBUNG...